Terimakasih, Tuhan.
Dalam diam malam ini, berjuta
syukur ku haturkan padamu. Atas nikmat yang selalu kau berikan. Saat kusadari
atau mungkin terlambat kusadari, nikmat itu selalu ada. Dalam setiap peristiwa,
dalam setiap cerita, dalam setiap tangis dan tawa. Terimakasih, Tuhan.
Tak banyak yang ingin kukisahkan. Hanya sedikit bagian dari
perbincangan di twitter malam ini.
Beberapa bulan yang lalu, aku mneghandle
sebuah event. Himatitan Great Event, namanya. Acara yang sangat bergengsi untuk
seluruh warga himpunan. Jika 20 tahun hidupku ini dibubukan, mungkin event ini
mengambil posi sebanyak 40% halaman dalam buku itu.
Minim pengalaman.
Mungkin itulah yang menjadi salah
satu penghalang terbesarku dalam event ini.
Keras Kepala
Mungkin itulah sifatku yang
menjadi factor utama hingga membuat seluruh elemen dari event ini, bekerja
terlalu keras.
Rasa bersalah
Itu yang selalu menghantuiku
hingga detik ini. Ya, rasa bersalah telah membuat banyak orang berkorban karena
kekeraskepalaanku. Rasa bersalah yang membuat aku merasa jauh dari mereka yang
dulu mengayomiku. Rasa bersalah yang mungkin tidak patut aku larut
terus-menerus di dalamnya.
Awalnya aku takut
Jujur, aku takut. Setelah event
itu selesai. Aku takut, mereka (adik-adikku) kemudian merasa kapok untuk
kembali bergabung di tahun berikutnya karena terlalu banyak berkorban
sebelumnya. Aku takut, mereka meninggalkan event tersebut, hingga tak ada yang memimpin
lagi. Aku takut.
Tapi kini, tidak lagi
Aku melihat kerinduan
ditengah-tengah kesibukan mereka dengan event lain. Aku menyaksikan
komitmen-komitmen mereka disamping komitmen lain yang harus mereka jalankan. Aku
merasakan kekuatan rindu itu menjelma menjadi sebuah motivasi bagi mereka
hingga statement ini muncul :
“Serahkan semua pada kami, kak”
Bagaimana tidak aku terenyuh,
kawan. Bagaimana aku tidak lega. Bagaimana aku tidak khawatir lagi?
Maaf adik-adikku
Aku percaya, pada kalian. Terimakasih
telah mengajarkanku arti kecintaan, arti kerinduan, arti kesederhanaan dibalik
semua pengorbanan yang kalian beri.
Mungkin aku bukan orang yang
cerdik untuk berstrategi dalam mendevelop diri. Namun, satu hal yang sangat
yang kuyakini, ”Totalitas membuatmu kerja
keras, Komitmen membuatmu kerja cerdas”. Walaupun aku terlambat menyadari
bahwa kerja keras kita dulu ternyata begitu membekas, meskipun aku terlambat mengetahui
bahwa kalian ikhlas menjalaninya, meskipun cemoohan orang masih terus berputar
dikepalaku, di atas semua meskipun, di atas semua walaupun, aku ingin
menanamkan 1 hal pada kalian, “Cintai
Himatitan Great Event, bekerjalah untuk himpunan, mengabdilah untuk kepanitiaan”.
Lakukan yang terbaik untuk Himatitan.
With love,
Your sister
Dwi Febrilia A.R
