Friday, 20 January 2017

way-back


Jika kelak,

Dalam memorimu ada cerita yang lebih indah daripada kisah kita,

Aku tak akan pernah mencoba menghapusnya,



Jika kelak,

Dalam ingatanmu,

Ada kasih yang melebihi kasihku, tak apa….

Aku tak mungkin membatasi perasaanmu,



Jika kelak,

Dalam hidupmu,

Kau menemukan yang lebih baik dari ku,

Ku turut bahagia,

Karena sebaik-baiknya hidup adalah bergerak temukan yang terbaik,

Tak ada keinginanku tuk menjauhkan kebaikan darimu….



Namun jika kelak,

Ada hati yang berbisik, rindu, hingga ingin pulang kembali,

Maka akan ku biarkan kau mencari,

Hingga kau menyadari,

Bahwa jalan pulang tak lagi sama…

Tidak lagi sama…….







Cibitung, January 20, 2017

Jika kelak,

Dalam memorimu ada cerita yang lebih indah daripada kisah kita,

Aku tak akan pernah mencoba menghapusnya,



Jika kelak,

Dalam ingatanmu,

Ada kasih yang melebihi kasihku, tak apa….

Aku tak mungkin membatasi perasaanmu,



Jika kelak,

Dalam hidupmu,

Kau menemukan yang lebih baik dari ku,

Ku turut bahagia,

Karena sebaik-baiknya hidup adalah bergerak temukan yang terbaik,

Tak ada keinginanku tuk menjauhkan kebaikan darimu….



Namun jika kelak,

Ada hati yang berbisik, rindu, hingga ingin pulang kembali,

Maka akan ku biarkan kau mencari,

Hingga kau menyadari,

Bahwa jalan pulang tak lagi sama…

Tidak lagi sama…….







Cibitung, January 20, 2017

Wednesday, 19 August 2015

manusia?


Manusia, makhluk paling sempurna, yang seringkali merasa tak sempurna…

Seringkali aku bercermin, lalu menghela nafas panjang, lalu… kecewa…
Mengapa aku tidak secantik dia?
Seringkali aku melihat hidupnya, penuh bahagia, berkeliling Indonesia tanpa risau masalah biaya..
Andai aku seperti dia…

Manusia, makhluk paling sempurna, yang tak pernah bertingkah sempurna…

Tak jarang aku menggerutu bila kau bercengkrama dengannya…
Tak jarang muncul rasa benci jika kalian asyik bicarakan hal yang sama…
Tak jarang hati ini memaki ungkapkan rasa kesal ku padanya…
Tak jarang lidah ini mengutuk tentang kau dan dia…

Manusia, makhluk paling sempurna, yang (mungkin) butuh disempurnakan…

Terkadang muncul rasa bersalah yang merambat sesali pikiran buruk yang menguasai, tentang kau dan dia,
Terkadang logika juga lelah memperhitungkan sakit hati yang kualami, masih tentang kau dan dia,
Terkadang hati merelakan segala yang terjadi tentang kau dan dia,
Tapi, terkadang aku sadar atas apa yang ku alami, aku butuh berbenah diri atas penyakit hati ini dengan  dekatkan diri pada Illahi Rabbi tuk sempurnakan hidup di dunia ini…

Manusia, makhluk sempurna?
Itukah aku?
Itukah kamu?
Ataukah kita semua?

Mungkin manusia memang sempurna atas akal, tapi hati?
Pantaskah “sempurna” berlaku untuk kita?

Malang, 19 Agustus 2015 14.38

Wednesday, 12 August 2015

A letter to You



To my Ladies, Puti Fathima Adinta & Ayu Yuni Afifah....

AHA!


Finally I wrote a letter to you! Despite we have high technology but writing a letter such a sweet thing to do. Hehe,

Honestly,
Today, I really really really really really really miss you!
Something that I’d never though would happen. I miss you just too fast by the time you leave.

A few days ago, I cried a lot. Feeling so empty without both of you. And that was really  hurt guys!
Time  passed, I was good enough to understand about loosing, but I’d never thought that God will separate us so fast. And I think he teaches me about loosing (again) now. Loosing 2 of many best person in my life.

I feel so lonely, even so many people around me,
I feel so blue, when the world so colorful,
I feel like loosing something that used to be my daily, having you beside me.

Oh, NO!
It’s over dramatic.
Haha, but yeah…. That was my feeling lately,

Tell me about yours!
Do you have new experiences? I’m so curious!
Tell me what’s your daily there!
Yours,
Dwi Febrilia Anjarwati Rahayu


Thursday, 4 June 2015

Bisakah?


 Jika cinta adalah kuasa yang Maha Esa, 
bisakah Tuhan Esa-kan dia untukku?

Semesta belum pernah sekompromi ini dengan kisahku, seolah tiap alur ceritaku kali ini tersetting sempurna pada waktunya.
Dalam versiku, hadirmu tak terencana, semuanya mengalir perlahan, menetes menghidupkan. Layaknya oase di padang pasir, menyegarkan musafir yang tersiksa dahaga.

Jika cinta adalah tetesan kasih dari Sang Maha Sempurna, 
bisakah sempurnakanku dengan kasih dan hadirnya?

Belum ada yang pasti tentang kita, tentang genggaman tangan yang diam-diam kurindukan, tentang tatapan mata yang selalu mengarah lekat, tentang besarnya hatimu yang tenangkanku dalam perdebatan panjang.
Rencana tak lagi punya daya, bila Sang Pencipta menjalankan kuasanya. Deretan harap yang tertanam di benak seakan pudar saat Tuhan telah berkehendak.

Jika cinta adalah sebuah jawaban, 
bisakah ia menjawab satu dari jutaan tanyaku?

Apakah kini kita sedang berlindung atas nama kehendak Tuhan ataukah kita sedang terjebak dalam arus yang perlahan menenggelamkan?

Jogja – Sragen, 3 Juni 2015
01.25 – 08.41
Back song when wrote: Tell Me If You Wanna Go Home – Keira Knightley
Back song when type: Playing God – Paramore


Tuesday, 5 May 2015

Surat untuk Aku





Mungkin kita adalah satu.
Benar! Kita memang satu, aku dan diriku. Dalam satu tubuh, dalam satu jiwa.
Benar! Kita memang satu, aku dan diriku. Dalam satu ruh, dalam satu nyawa.
Tapi, tunggu...
Benarkah kita satu?
Mungkin kita tidaklah satu.
Ya, rasanya begitu. Kita memang tidak satu, kamu dan diriku. Kita terpisah dengan logika dan hati.
Ya, rasanya begitu. Kita memang tidak satu, kamu dan diriku. Kita seringkali berbeda, tak sama, tak satu, tak sejalan. Kamu dengan keinginan duniawimu, dan diriku dengan kebutuhan hati dan rohaniku.
Kita memang satu, tapi kurasa kita berbeda dalam beberapa hal, begitu juga katamu…
Apakah ini sebuah ketidakwajaran? Ataukah ini hanyalah sebuah cara?
Kini izinkan aku berdialog denganmu… maaf mungkin denganku lebih tepatnya…
Untuk menengahi kemelut yang tercipta…
Hai aku…
(maaf) saat aku melihat pantulan wajahmu(ku) di cermin, aku melihat kekosongan. Kenapa?
(maaf) saat aku merasakan langkah kakimu(ku) mengarah, aku merasakan keraguan. Kenapa?
(maaf) saat aku merasakan jemarimu(ku) saling menggenggam, aku merasakan kegelisahan. Kenapa?
(maaf) saat aku menangkap gambar matamu(ku) di kamera, aku merasakan ketakutan. Ada apa?
Kau tak perlu menjawab panjang lebar. Kau tak perlu menjelaskan apapun, padaku. Jika semua pernyataan (maaf)ku adalah benar anggukkan saja kepalamu. Dan renungkan. Kemana saja kau selama ini? Bukankah katamu kita harus sering berdialog agar tetap waras? Bukankah katamu kita harus berdiskusi supaya mantap?
Ada apa?
Jika kau ingin menangis, luapkanlah. Tak ada satupun peragu yang yakin akan kesalahannya.
Jika kau ingin berteriak, lantangkanlah. Tak ada satupun teriakan hati yang terdengar oleh manusia.
Tata-lah kembali jika kau rasa sudah terlalu berantakan
Alunkan lagi, nada-nada penyemangat dan falset-falset kuat berkarakter dalam dirimu
Hidupkanlah, yang mati dalam dirimu, ambisimu, mimpi-mimpi indahmu, cita-citamu.
Yakinlah, imanmu akan membawamu berbahagia, tertawa, dan damai bersamaNya.
Ingatlah bahwa kita adalah satu yang terkadang tak bisa menyatu…
Malang, 13 April 2015
20.54 pm

Monday, 27 April 2015

Ya, ia bukan dia

Aku merasa ada yang salah. Tentang degup jantungku.
Aku merasa ada yang sedang tak beres. Tentang desiran darah yang menghangat ke seluruh tubuh ini.
Aku merasa, logikaku sedang tak sehat. Tentang persetujuan yang ia berikan untuk hati.
*****
Dia,
Masih seperti biasa. Terlihat hebat dan beraura. Satu senyumannya saja, menciptakan reflek bahagia yang sempurna.
Dia,
Getar karenanya masih terasa, cukup dengan memejamkan mata, mengingat tentangnya dan bahagia yang ku rasa.
Dia,
Rasa padanya masih sama, tak perlu mengalir deras, cukuplah menetes yang menghidupkan. Rasa padanya masih sama, terpaut batas yang sulit dilampaui.
Dia,
Aku yakin dia tau, saling mencintai lebih baik daripada mencintai sendiri.
*****
Ia,
Kehadirannya ciptakan tawa,
Candanya hidupkan suasana,
Jahilnya bikin geleng-geleng kepala

Ia,
Ceritakan banyak hal yang tak aku tau,
Iringiku bernyanyi walau tak berirama,
Ajariku nikmati detik waktu ,
Nasihatiku tanpa paksa…
*****
Ya, ia… bukan dia…
Matahari boleh saja digdaya, raksasa, tapi bagi bumi, gravitasi bulanlah yang paling kuat, mengapa? Karena ia dekat – Azhar N.A

Malang, 25 April 2015 5:55 pm

Thursday, 16 April 2015

Mencintai Di Balik Layar

Bahkan, aku masih mensyukuri senyummu pagi itu, cerah, ceria dan bahagia saat menyapaku…

Aku menikmatinya,
Menjangkaumu lewat doa,
Memandangi indahmu dari kejauhan, dan
Mendengarmu berkeluh kesah.

Aku menikmatinya,
Saat melihatmu bahagia dengan atau tanpa wanita di sisimu,
Saat kau menasihatiku banyak hal,
Saat kau lakukan hal konyol dan menjengkelkan.

Aku menikmatinya,
Menahan bahagiaku jika berjumpa,
Bertingkah biasa walau tertangkap basah salah tingkah,
Mengelak dugaan mereka tentang cinta.

Ya, aku menikmatinya… Sangat menikmatinya…

Aku tak menemukan istilah yang tepat untuk ini, untuk aku yang menahan diri atas semua hal ini… untuk aku selalu bisa mengatur ritme rasa ini…

Aku ingin dekat… tapi rasanya tidak tepat…
Aku merasa rindu… tapi aku tak ingin kau tau…
Aku merasa deg-degan… tapi jangan sampai keterusan…
Aku ingin kita bersama… tapi akankah kamu dan aku menjadi kita?

"Aku ingin suatu saat kita bisa bercerita panjang dan lebar, hingga kau tau betapa tidak mudah mencintai dibalik layar…."

Ya, aku menikmatinya… Sangat menikmatinya…

Inspired by my old friend - @radivannaba yang kelihatannya lagi sibuk mencintai di balik layar :D
Malang, April 16, 2015

10:41 pm
 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com