Tuesday, 10 February 2015

Tidak Benar-Benar Hilang


Ada satu pertanyaan yang belakangan ini selalu melintas pikiranku. Benarkah semakin usia kita bertambah, semakin teman kita berkurang? Pertanyaan itu tak muncul tiba-tiba, aku mengalaminya, aku merasakannya, dan aku membingungkannya. Kenapa bisa?
                Tidak ada teori yang mampu menjelaskan tentang pertemanan dan segala cobaannya. Dan mungkin tidak ada pernah ada teori tentang itu. Tak ada definisi yang pasti tentang pertemanan dan lagi-lagi aku yakin tidak akan pernah ada. Memahami sebuah pertemanan berarti harus mengalami. Mengalami pertemanan itu sendiri. Mengerti arti pertemanan berarti harus menerima. Menerima apa yang kita alami.
                Ada diskusi singkat yang kulakukan dengan salah satu sahabatku tentang hal ini. Tentang jumlah pertemanan yang menghilang dan kian ciut jumlahnya. Apakah hanya aku yang merasa demikian? Ia pun mengiyakan hal itu, merasakan yang serupa. “Tentu banyak hal yang menjadikan seseorang sebagai teman. Tentu ada hal yang menyatukan itu. Entahlah. Pertemanan bisa disatukan karena suatu hal. Namun di sisi lain hal yang mempersatukan pertemanan juga menjadi alasan perpisahan. Bisa jadi kita berteman karena hobi yang sama. Bisa jadi kelak hobi kita pula yang akan memisahkan kita”, begitu katanya. “Mungkin teman kita tidak benar-benar hilang. You know, time flies, people change.” Lanjutnya. “How about memories? Memories gone?” aku masih penasaran. “Memori, tergantung. Dia tidak benar-benar hilang. Tergantung pemilik memori itu, dia menginginkan memori untuk tinggal dan sewaktu-waktu dapat ia panggil or just let memories gone. Tergantung!” Lanjutnya
                Aku merenung sejenak. Mungkin benar juga ucapannya. Tidak ada yang benar-benar hilang dari pertemanan. Mungkin dia hanya sedang berubah. Yang paling abadi adalah perubahan, yang paling dinamis adalah manusia. Benar. Dia tidak benar-benar hilang.
                “Hal yang terpenting adalah jangan pernah menyesal. Dekat dengan siapapun yang pernah dekat, yang sedang dekat, ataupun yang akan dekat. Karena akan selalu ada rumah untuk kita kembali pulang” tambahnya. Aku tersenyum lega. Iya, aku tak akan pernah menyesal berteman dengan siapapun, yang telah, sedang ataupun akan dekat kelak. Because I know where I have to go home. Thank you @cileeee : )

               


Monday, 9 February 2015

(selamat!)



Jika ada hal yang paling dihindari oleh manusia, pastilah ia ‘kesedihan’. Jika ada hal yang paling ditakuti manusia, pastilah ia ‘kematian’ dan jika ada hal yang paling ditunggu oleh manusia, pastilah ia ‘kebahagiaan’.
Ada banyak cara yang dilakukan oleh Tuhan untuk mengajarkan keseimbangan dalam hidup. Ada banyak takdir yang ditentukan oleh Tuhan untuk memberitau kita bahwa ada keadilan dalam dunia ini. Ada kesedihan? Pasti akan juga ada kebahagiaan. Ada gelak tawa? Pasti akan juga ada tangis haru. Ada kematian? Ya, pasti kelak ada kelahiran. Ada kehilangan? Maka akan ada ‘menemukan’.
*****
Kemarin aku melihat, sosok wanita bertatapan kosong. Dia duduk sendiri di keramaian, di saat ada hingar bingar di sekitar. Aku menghampirinya, mencoba seramah mungkin dengannya. Entah bagaimana, dia menceritakan kisahnya…

Satu tahun telah berlalu. Katanya, hari ini adalah ‘Hari Kelahirannya’. Kini dia sedang mengenang tahun lalu, di tanggal yang sama. Satu tahun lalu, pukul 00.00 dia terjaga, mendengar nada dering handphone nya. Dengan bahagianya, dia mengucapkan terimakasih, diseberang sana kekasihnya menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Hal yang sangat jarang dia dapatkan, sepanjang hidupnya belum pernah ada nyanyian ulang tahun dari kekasih-kekasih sebelumnya. Dia bahagia sekali saat mengenangnya. Senyumnya terkembang jelas di raut wajahnya. Namun, satu tahun telah merubah banyak hal, katanya. Tahun ini, tidak ada panggilan telepon tengah malam dengan nyanyian gembira lainnya. Tahun ini, dia tak lagi bersama kekasihnya. Kali ini mimik wajahnya berubah, tatapan matanya lemah, Bahasa tubuhnya terlihat tak tenang. Dia menopang dagu, sambil melihat ke bawah, terdiam beberapa detik, lalu mencoba menghilangkan raut sedihnya. Dia Nampak mengingat-ingat suatu hal lain. Kini raut wajahnya kembali tersenyum, ekspresi matanya bersinar. Sekali lagi dia mengatakan bahwa satu tahun merubah banyak hal. Memang benar, tahun ini tak ada ucapan special dari pasangannya, tapi di tahun ini dia mendapat banyak hal special dari banyak kejadian. Kue kecil tengah malam, canda tawa dan kado sederhana bersama teman-teman adalah hal special yang ia dapatkan. Belum lagi, rekan kerja baru, lingkungan baru yang ia miliki saat ini.

Dia bergumam panjang, aku kurang jelas mendengarnya, terlalu bising disini. Dia meneguk air mineral lalu tersenyum. Pandangannya ada pada satu orang. Dia melambaikan tangan, orang itu menghampiri kami. Aku tidak tau orang itu siapa, kelihatannya pria ini teman baik wanita yang belum kuketahui namanya. Jam sudah menunjukkan 23.50, aku mulai mengantuk. Pria itu berbincang sebentar dengannya, tak lama pria itu berlalu. Dia berjalan ke kerumunan meninggalkan kami. Wanita itu memperhatikan langkah temannya, kemudian dia tertunduk dan menghela nafas seperti kecewa. Tiba-tiba pria itu berteriak, memanggil sang wanita “Far, Selamat ulang tahun” sambil tersenyum lebar. Wanita itu terperangah dan membalas senyum sang pria. “Terimakasiiiiih. Kamu ingat?” Sang pria hanya tersenyum, lalu berbaur di kerumunan. Wanita itu tersenyum dan bergeming panjang sekali tapi aku tak bisa mendengarnya, kepalaku berat karena mengantuk. Kemudian dia berbisik ke telinga kiriku, “Aku bahagia dia mengingat ulang tahunku. Tiga tahun belakangan ini, dia selalu menjadi yang terakhir mengucapkannya. Aku belum bisa menebak apa artinya. Hanya saja aku bahagia tiap dia mengucapkannya. Mungkin aku sekali lagi, menemukan” Pipinya me-merah, dia menahan malu, dia tersenyum sangat bahagia aku pun jadi tersenyum melihatnya. Beberapa saat kemudian dia memanggil pelayan, meminta dua botol beer. Dia meneguknya hingga mabuk. Aku hendak membangunkannya untuk mengantarnya pulang. Aku mengguncang badannya, “Far, Far, Bangun Far” namun dia tak kunjung terjaga. Aku merebahkan punggungku di sofa, kantukku sudah tak tertahan lagi, terpaksa ku abaikan wanita itu. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak di telingaku, “DIFAAAAR, SELAMAT ULANG TAHUUUN!” aku terjaga. Kaget sekali rasanya, aku menoleh sekeliling, tak kutemui wanita random yang bercerita banyak hal denganku semalam. Yang kutemui hanya Kasur, guling, bantal dan teman-temanku dengan kue dan kado lucu. Ternyata semua itu hanya….
*****
Birthday surprise and work-mates in my birthday

Selamat ulang tahun Dwi Febrilia Anjarwati Rahayu, harapan untukku dariku adalah selalu menjadikan Tuhan Nomor satu, nikmatilah esensi kehidupan, Lakukan yang terbaik selagi aku mampu. Bahagiakan orang lain. Jangan menjadi budak ambisi namun juga jangan terlena akan kenikmatan. Ciptakan kebahagiaanmu, Nak : )

Terimakasih atas segala, ucapan, doa, kado surprise dan pengharapan. Mudah-mudahan harapan dan doa kalian dapat menjadi cambuk bagiku untuk berbenah. Feel blessed to have all of you, I love you all : )

Friday, 6 February 2015

Pada Lelaki Pe-

Pada lelaki pemburu senja…
Berapa jauh lagi kau melangkah? Menciptakan jejak pencapaian yang kelak kau banggakan
Berapa lama lagi kau pergi? Mencoba memahami  apa yang alam rasakan

Pada lelaki pengagum karang…
Seberapa dalam kau menyelam? Menjadi saksi keindahan dunia tak hanya dari puncak
Seberapa letih kau menyisir bibir pantai? Mendengar alunan alam ceritakan kuasaNya

Pada lelaki penikmat keindahan…
Aku tak sabar melihat pencapaian yang akan kau bangga-banggakan
Aku tak sabar mendengarmu ceritakan nyanyian alam yang kau elu-elukan
Aku tak sabar mengiyakan ajakanmu berkeliling nikmati keindahan

Pada lelaki pecinta senandung alam…
Bila kau tak keberatan, izinkan aku ajukan pertanyaan,
Kau, tidak lupa jalan pulang, kan?



Thursday, 5 February 2015

Sekali (lagi) Kehilangan


Sekali lagi, Tuhan mengajarkan kehilangan.
***
“Sampai kapan kita akan menjalani ini?” aku terhenyak. Menatapmu sebentar. Dan tertunduk, diam. Kau menunggu aku menjawab pertanyaanmu. Namun, mulutku tak bergeming. Bibirku tak sedikitpun berucap. Aku tau, hal ini akan terjadi. Aku benar-benar tau ini akan terjadi. Dan pasti terjadi. Tapi… haruskah sesegera ini?
“Belum cukupkah waktu kita bersama untuk memikirkannya?” kau menimpali diamku, dengan pertanyaan yang sungguh enggan ku jawab. Aku masih tertunduk, terus menunduk. Aku memainkan kakiku, berusaha menenangkan diri. Aku berharap, pelupuk mataku mampu berkompromi saat ini.
“…sampai kapan kamu diam?” aku menoleh padamu sedetik, menggelengkan kepala, sembari mengangkat bahu, dan menunduk lagi. Tuhan, bisakah skip momen ini? Berat rasanya untuk mengakhiri, namun lebih tersiksa nantinya jika tak ada keputusan saat ini.
“…perbedaan di antara kita, tidak ada jalan tengahnya. Aku tau kau pasti mengerti.” Aku lebih banyak diam dalam perbincangan ini, karena aku paham, satu kalimat saja ku ucapkan berakibat tangis yang menderu tak kunjung henti. “Aku mohon, kamu jangan diam. Diam tidak menjawab apapun. Diam tidak menyelesaikan apapun.” Kali ini aku sudah tak sanggup menahan kubangan air di pelupuk mataku, aku pun tak mampu menahan kerasnya isak tangisku. Untung saja suara air di belakangku jauh lebih kencang daripada isak tangisku.
Aku mencoba menguatkan diri. Namun apa? Tanganku gemetar. Air mataku terus mengalir. Dadaku terasa sesak. Nafasku tak bisa tenang. Hatiku berontak, namun di saat yang sama hatiku berusaha menenangkan dan berkompromi dengan logikaku. Kali ini, logikaku mampu menguasai diri. Dan aku memutuskan untuk bicara, apapun itu yang terlintas di pikiranku. “Aku ngga tau, harus ngomong apa” suaraku gemetar. Kini kau yang tak bergeming. Diam. Tak menimpaliku. Tanpa sepatah kata pun. Aku takut, tanganku semakin gemetar. Aku masih menunggu responmu. Melihat ke arahmu, menguatkan diri, lalu mencoba berkata lagi “Lalu, gimana? Kenapa kamu diam?” tanyaku. Kamu tetap diam, aku menunduk mencoba mengatur nafasku perlahan sambil menanti kau bersuara. Hitungan menit kita berdua diam, tanpa kata, tanpa interaksi apapun. Aku menyenggol lenganmu, menginginkan respon darimu. Kau menoleh ke arahku, seolah bertanya apa yang aku lakukan.
“Tau, bagaimana rasanya?” tanyamu.
“Rasa apa?” jawabku
“Ya, rasanya menunggu jawaban. Sedari tadi aku menunggu kau bicara, kau hanya diam. Sekarang aku balikkan keadaan, aku yang diam. Sekarang apa kau tau bagaimana berhadapan dengan dirimu sendiri? Ngga enak kan?” ujarmu, memberikan rasionalisasi diammu.
“Ya, maaf. Jujur aku ngga tau harus menjawab apa. Cuma itu.” Begitu kataku
“Kita sudah dewasa. Sudah diberi hak untuk mengambil keputusan. Aku sudah memutuskan untuk mengawali pembicaraan ini, kini silahkan kau putuskan, bagaimana setelah sekian lama kita bersama? Jika kita tetap hidup dengan perbedaan, tak mungkin hubungan ini bisa berlanjut dan semua akan percuma. Jika kita bisa menyatukan yang tadinya berbeda, mungkin bisa jadi ini semua berlanjut.” Ujarmu menjelaskan panjang lebar. Berat rasanya, mendengar semua penjelasanmu. Berat sekali memutuskan permintaanmu pada dua kalimat terakhirmu. Iyaa, aku anggap itu permintaan dengan resiko yang tidak sedikit. Bagiku, ini bukan hanya tentang kita berdua. Bukan lagi berbicara tentang rasa, bukan lagi tentang cinta. Aku tau tak mungkin menerima permintaanmu, tapi aku juga akan sangat berat hati mengakhiri ini. Pikiranku jauh melayang, membayangkan fase hidupku selanjutnya, setelah semua perbincangan berat ini. Air mataku yang telah terhenti, kini menetes lagi tapi hati dan logikaku bersatu, padu. Dia memintaku untuk memutuskan, memberikan jawaban.
“Ini berat, buatku. Pilihan yang sangat sulit. Sulit sekali. Ini bukan hanya tentang aku dan kamu” aku memulai pembicaraan, berusaha membiarkan logika menang, dan mengambil keputusan. Tapi hatiku meminta untuk berhati-hati, jangan sampai menyakiti. “Maaf, lebih baik kita hidup dalam perbedaan” aku memberanikan diri mengatakannya. Tangisku, kutahan. “Terimakasih, atas semuanya. Terimakasih sudah menemani, menghargai, dan mengajari banyak hal. Terimakasih selalu mengingatkanku untuk memperbaiki diri. Terimakasih. Maaf, jika selama kita bersama aku banyak merepotkan. Maaf, untuk segala hal yang kurang baik. Maaf atas sikap yang menyakiti.” Tangisku pecah mengucapkan semua kalimat itu. Tumpah semua rasaku, hatiku berkecamuk, logikaku tak karuan, entahlah bagaimana wajahku saat itu, aku tak peduli sedikitpun. Kau merangkulku, berusaha menenangkan.
Beberapa saat kemudian aku mereda, aku kembali tenang. Melihatku tenang, kau mulai angkat bicara. Kau ucapkan terimakasih atas semuanya, dan juga meminta maaf karena katamu kau belum sempat membahagiakanku. Aku hanya mematung sambil mendengarkanmu, pikiranku kosong. Entahlah…
Kau telah selesai ucapkan kata-kata perpisahan. Tiba-tiba aku merasa lemas, kepalaku ambruk tertahan di lututku. Aku menangis sejadi-jadinya. Entahlah, ada rasa tak rela melepasmu. Kau tampak kaget. Merangkulku kembali dan berusaha membuatku bangkit, katamu “Sudah, sudaaaaah berhentilah menangis. Ayo bangun, bersandarlah di pundaku.” Katamu lembut menenangkan. Jemarimu menggenggam jemariku. Aku mengatur nafas dan kembali tenang.
Kini kau kembali bersuara. “Tolong, jangan berfikir hanya kau yang berat untuk melepaskan. Aku juga beraaat melepasmu. Selama ini kita selalu menguatkan dan mengingatkan. Tapi bagaimana aku harus memperjuangkan hal yang sulit? Daritadi aku menahan tangisku, karena kau menangis. Jika aku menangis, lalu siapa yang menenangkan?” Tiba-tiba suaramu bergetar aku tercengang, kau terisak, aku merasa pedih, perih, buliran air matamu menetes, aku bingung. Tiba-tiba hatiku merasa sakit, melihatmu menangis. Oh, Tuhan… Inikah kehilangan? Seberat itukah kehilangan? Aku mengabaikan rasa sakitku, dan bergegas mengusap air matamu, kini tugasku yang menenangkanmu. Aku bilang “Sudah, jangan menangis. Sudaaah”  aku tak mampu berkata hal lain. Maaf aku tak pandai menenangkan, karena aku pun sedang tak tenang.
***
Sejak saat itu kita memutuskan untuk berteman dan hidup indah dalam perbedaan. Diam-diam aku mendoakan, sambil menahan tanyaku, “Tuhan doaku sampai, kan? Walau cara berdoa kami berbeda?”

“To the most charming man in my life @GalihSatriyaa have a very great day”

Wednesday, 4 February 2015

awal kisah kita

Satu tahun telah berlalu, sejak kau terima suratku waktu itu...
Kali ini tolong biarkan aku mengenang, biarkan saja anganku terbang...
Kini ingatanku melayang, pada satu hari yang penuh kenangan. Kau mengajakku berjalan-jalan. Selama perjalanan, kita bercanda. Gelegak tawa membuat riang suasana. Sepanjang jalan, kau banyak bercerita. Di belakangmu, aku hanya bisa menjawab sekenanya, tak tau harus menimpali apa, jantungku rasanya deg-deg-an. Plus one. Kekagumanku, bertambah satu. Aku terlanjur terpesona, dan aku yakin tak perlu berpura-pura.
Saat kita sampai kau ingatkan aku pada satu hal, “ibadah”. Aku meminta kesediaanmu untuk menunggu,  aku harus menunaikan kewajibanku sholat wajib 5 waktu. Kau tersenyum lebar dan tak keberatan bila menungguku. Plus one. Kekagumanku padamu, bertambah satu.
Kita berkeliling menyaksikan banyak hal, lalu tiba-tiba kau berlari mendahuluiku. Mengeluarkan kamera SLR dari tas mu, dan kau arahkan kepadaku. Kau memintaku tersenyum, aku tersipu antara enggan dan malu. Enggan karena harus berpose sendirian tanpamu, dan malu karena pasti di layar kameramu penuh dengan wajahku. Haha, bodohnya aku!
Kita terus berjalan hingga melihat ada ada seekor merak putih yang menghadang perjalanan. Kau memperingatkanku karena merak ini galak. Kau mencoba mengusir merak itu, namun sayang sang merak enggan pergi dari sana. Kau menarik lenganku dan berusaha melindungiku, tapi sang merak terlihat marah. Nampaknya, dia tak suka kau menggandeng lenganku begitu. Sang merak mematuk kakiku hingga berdarah.
Kau masih terus menggandengku. Sambil sesekali melihat ke arah kakiku. Kau bilang mengkhawatirkanku. Kau mencarikan tempat beristirahat dan kau temukan tepat di depan kolam. Banyak itik berenang disana, ada pula angsa yang tampak bercengkrama. Kau membuka kembali tas mu, mengambil beberapa potret gambar. Mendadak, kau berjingkrak bahagia, kau menghampiriku dan menunjukkan satu hasil potretanmu. Dalam potret itu ada sepasang itik yang saling mencinta. Sang jantan dan sang betina saling bertatapan. Lekat, mesra. Talented. Plus one. Kekagumanku padamu, bertambah satu.
Kau duduk tepat di sampingku. Merapikan kamera dan lensamu lalu dengan lembut bersandar di bahuku. Kau bilang kau merasa tenang. Katamu, kau suka suara gemericik air. Kau bilang kelak jika kita punya rumah, kau akan menyediakan ruang untuk kolam di halaman belakang. Kau meminta persetujuanku, aku hanya tersipu, malu. Kau bilang kelak ingin menghabiskan waktu sore denganku, sambil bersandar dan bercerita tentang hari yang panjang sambil meneguk secangkir kopi. Aku tersenyum, masih malu. Kau mengajakku beranjak, kau meraih tanganku, merekatkan jemarimu di sela-sela jemariku. Dan kisah kita berawal setelahnya…

Kali ini tolong biarkan aku mengenang, biarkan saja anganku terbang…
Kisah kita memang tidaklah panjang sayang, namun tak ada yang lebih berkesan dan terkenang…

Maaf menjadikanmu objek (lagi) @galihsatriyaa

Tuesday, 3 February 2015

bila kelak

Bila kelak kau menemukan tempat berlabuh yang tepat, beritau aku. Bila kau telah menemukan teman perjalanan yang menyenangkan, ceritakan padaku. Dan bila kau telah menemukan rumah yang nyaman untuk ditinggali, kabari aku, aku akan dengan senang hati mengunjungi rumahmu, rumahnya, rumah kalian : )

Suatu hari kau datang kepadaku dengan wajah dingin seperti biasanya. Kau bertingkah (seolah) baik-baik saja. Semua nampak biasa dan wajar-wajar saja.
“Ada apa?” tanyaku mengawali perbincangan
“Apa? Ngga ada apa-apa tuh” jawabmu santai. Aku tidak heran, kau begini. Ya, mungkin memang aku terlalu hafal dengan tabiat dan sikapmu. Kau meneguk air mineral lalu mengelap keringat kemudian kau berkata “Capek juga gowes kesini, lumayaaaan” aku menyerngitkan dahi, mulai kesal karena kau tetap tak mau membicarakannya.
“Kamu yakin, ngga ada apa-apa?” aku mengulang pertanyaan dengan inti yang sama.
“Menurutmu?” kau menjawab sekenanya, mengeluarkan kotak kue dari tas punggungmu, dan menyodorkannya padaku. “Nih… janjiku. Lunas kan?” ucapmu lagi. aku tak menyentuhnya, hanya memandangimu, kesal.
“Kenapa kau yang pusing? Aku saja tidak pusing dengan pertengkaran ini. Sudahlah, ini semua berlebihan” akhirnya kau sedikit mengeluarkan pernyataan
“I’m not. Aku ngga pusing. Aku cuma kesal” tatapanku mulai sinis padanya
“Makan, tuh kuenya. Biar rileks. Lagian, apa yang kamu kesalkan?” dia membuka bungkus kue itu dan memberikannya padaku. Aku menggeleng. “Oke, just tell me, apa yang bikin kamu kesal?” dia melunak. Yeeeah, man!
“Jangan libatkan aku dalam pertengkaran kalian” singkat padat jelas dan tegas, jawabku
“Maksudmu? Siapa yang melibatkanmu? Aku bahkan tidak pernah menyebut namamu dalam pertengkaran macam apapun” jelasmu
“Yaaa, jelas bukan kamu. Memang bukan kamu” jawabku. Kau diam, bernafas panjang, jemari mu saling menggenggam. “Kenapa kau tak membangun rumah kalian bersama? Mungkin dengan begitu kalian akan memahami satu sama lainnya” lanjutku. Kau masih diam, mungkin berfikir, mungkin juga enggan mendengarkan. “Aku….” Kalimatku tertahan, aku menunduk sejenak, kesal, nyaris berkaca-kaca, namun ku tahan.
“Aku minta maaf” ujarmu. “Aku minta maaf jika kau merasa bersalah atau mungkin disalahkan atas keadaan ini. Tapi kau tak perlu merasa bersalah. Permasalahan ini datangnya bukan darimu, tapi dari aku, juga mungkin dari dia. Aku bahkan tidak tau apa yang dipermasalahkan pada pertengkaran ini. Jadi tak perlu merasa begitu” lanjutmu panjang berusaha menjelaskan. Aku diam, mendengarkan. Aku paham, kau memang orang yang penuh logika. Aku paham, sepenuhnya paham.
“Aku makan satu ya?” aku mengambil kue yang kau beri kau mengangguk perlahan, aku berusaha memecah keheningan.
“Mungkin memang aku belum ingin membangun rumah itu. Mungkin, begitu singkatnya” begitu katamu
“Kok gitu? Kenapa? Bukankah itu keputusan kalian?” kali ini aku keheranan dengan pernyataannya
“Entahlah” jawabnya singkat
“She’s your home right?” aku masih penasaran, jawaban dia meragukan
“Well, I don’t know. All I know is…. A home is not a house, right? Don’t you ever heard that?” aku mengangguk, membenarkan pernyataanmu. Dan perbincangan kita sore itu, berakhir setelahnya dan aku masih keheranan, tak menyangka.

Monday, 2 February 2015

Sudut yang kelak kita rindukan



Selamat malam, kesayangan : )
Apa kabarmu hari ini? Lelahkah?
Lama kita tidak bersua, coba ceritakan padaku kisahmu hari ini.
Sudah lama kita tidak saling bertukar cerita. Bagaimana bisa bertukar cerita jika berjumpa saja sulit sekali rasanya.
Coba ceritakan padaku, bagaimana proposalmu? Data-datamu? Analisa datamu? Validkah? Atau revisikah?

Selamat malam, kesayangan : )
Jika kau lelah, sejenak bersandarlah, jangan kau dijadikan budak keseriusan akan ambisi dan target-targetmu. Bernafaslah sejenak, hiruplah udara segar.
Jika kau penat, bukalah galeri fotomu, lihatlah gambar-gambar tentang kita, ada aku dan kamu disana, lihatlah betapa kita penuh keceriaan dan kebahagiaan beberapa tahun belakangan. Betapa kita sangat romantis, harmonis dan penuh suka cita dalam menghadapi kehidupan, bukan?

Selamat malam, kesayangan : )
Aku tau kau letih, betapa banyak coretan merah tanda kau harus perbaiki banyak hal.
Aku tau kau muak, berkali-kali harus mengetik ulang hal-hal sepele yang disalahkan
Aku tau kau bosan, dengan yang namanya “revisi-an”

Selamat malam, kesayangan : )
Mungkin memang bukan sekarang semua hal yang letih ini terbayar
Mungkin memang bukan sekarang senyum kebahagiaan itu terkembang
Mungkin memang bukan sekarang segala cibiran berubah menjadi tepuk tangan

Kesayanganku,
Segera mungkin kita akan merubah hal yang letih menjadi kebahagian
Segera mungkin kita akan menjadikan cemooh menjadi elu-elu membanggakan
Segera mungkin masing-masing dari kita akan melambaikan tangan
Segera mungkin kita akan menyandang gelar Sarjana Teknologi Pertanian
Segera mungkin kita akan meninggalkan “sudut yang kelak kita rindukan – ruang dosen kesayangan”


Selamat berjuang kesayanganku @dynasty_tip11 skripsi kita selesai segera : )

Sunday, 1 February 2015

Untuk yang Sedang Menata Hati

Untuk temanku yang sedang menata hati,
Mungkin aku tidak begitu mumpuni untuk memberi petuah dan mungkin aku tidak terlalu pantas untuk menasehati, sebab aku bahkan tidak lebih baik dalam menata hati. Tetapi, mungkin ada rasa ingin berbagi dariku, dari kami sahabat-sahabatmu.

Untuk temanku yang sedang menata hati,
                Kami tau, kisah kasihmu dengan lagu kunto aji adalah sebuah kontradiksi. Kami tau, saat ini kamu mungkin sedang berbenah diri, menyusun kembali kehidupan yang dulunya telah rapi. Kami tau, saat ini kamu sedang mencoba untuk kembali berdiri dari kisah kasih yang pahit ini.

Untuk temanku yang sedang menata hati,
                Berkali-kali kami melihatmu menyembunyikan sesuatu, dibalik senyummu. Kami sadar kamu menahan sakit, dibalik kelakuan konyolmu. Kami memahami hatimu sedang meradang ditengah-tengah candaanmu. Kami tau itu.

Untuk temanku yang sedang menata hati,
Jangan bersedih kawan, janganlah kau bermuram hati. Jangan khawatir kawan, janganlah kau takut sendiri. Jangan murung kawan, jangan kau tangisi semua ini.
Ingatlah, ada kami. Kami tak akan biarkan kau sendiri. Kami akan selalu menemani. Jika kini kau merasa sakit akan kehilangan, aku ingatkan satu hal, bahwa dengan kehilangan kita akan belajar untuk kembali menemukan. Jika kini kau sedang sedih karena tak ada pundak yang menyanggamu, ingatlah ada sajadah untuk bersujud, yang akan selalu menjadi tempat ternyaman untuk bersandar. Jika kini kau sedang kalut, bacalah ayat-ayat suci yang sejukkan rohani.

Untuk temanku yang sedang menata hati,
Nasehat kami, jangan takut akan kekosongan. Berterimakasihlah pada kekosongan yang mengizinkan kau bertemu dan belajar hal-hal baru – windy ariestanty
Surat ini, untuk sahabatku, teman perjalanan, teman bercanda, teman yang sangat sabar, teman yang pernah ganteng, teman yang mirip tompi…
                With love,

Difar-Fitha-Ayu
our togetherness

 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com