Sekali lagi, Tuhan mengajarkan kehilangan.
***
“Sampai kapan kita akan menjalani
ini?” aku terhenyak. Menatapmu sebentar. Dan tertunduk, diam. Kau menunggu aku
menjawab pertanyaanmu. Namun, mulutku tak bergeming. Bibirku tak sedikitpun
berucap. Aku tau, hal ini akan terjadi. Aku benar-benar tau ini akan terjadi.
Dan pasti terjadi. Tapi… haruskah sesegera ini?
“Belum cukupkah waktu kita
bersama untuk memikirkannya?” kau menimpali diamku, dengan pertanyaan yang
sungguh enggan ku jawab. Aku masih tertunduk, terus menunduk. Aku memainkan
kakiku, berusaha menenangkan diri. Aku berharap, pelupuk mataku mampu
berkompromi saat ini.
“…sampai kapan kamu diam?” aku
menoleh padamu sedetik, menggelengkan kepala, sembari mengangkat bahu, dan
menunduk lagi. Tuhan, bisakah skip momen ini? Berat rasanya untuk mengakhiri,
namun lebih tersiksa nantinya jika tak ada keputusan saat ini.
“…perbedaan di antara kita, tidak
ada jalan tengahnya. Aku tau kau pasti mengerti.” Aku lebih banyak diam dalam
perbincangan ini, karena aku paham, satu kalimat saja ku ucapkan berakibat
tangis yang menderu tak kunjung henti. “Aku mohon, kamu jangan diam. Diam tidak
menjawab apapun. Diam tidak menyelesaikan apapun.” Kali ini aku sudah tak
sanggup menahan kubangan air di pelupuk mataku, aku pun tak mampu menahan
kerasnya isak tangisku. Untung saja suara air di belakangku jauh lebih kencang
daripada isak tangisku.
Aku mencoba menguatkan diri.
Namun apa? Tanganku gemetar. Air mataku terus mengalir. Dadaku terasa sesak. Nafasku
tak bisa tenang. Hatiku berontak, namun di saat yang sama hatiku berusaha
menenangkan dan berkompromi dengan logikaku. Kali ini, logikaku mampu menguasai
diri. Dan aku memutuskan untuk bicara, apapun itu yang terlintas di pikiranku. “Aku
ngga tau, harus ngomong apa” suaraku gemetar. Kini kau yang tak bergeming. Diam.
Tak menimpaliku. Tanpa sepatah kata pun. Aku takut, tanganku semakin gemetar. Aku
masih menunggu responmu. Melihat ke arahmu, menguatkan diri, lalu mencoba
berkata lagi “Lalu, gimana? Kenapa kamu diam?” tanyaku. Kamu tetap diam, aku
menunduk mencoba mengatur nafasku perlahan sambil menanti kau bersuara. Hitungan
menit kita berdua diam, tanpa kata, tanpa interaksi apapun. Aku menyenggol
lenganmu, menginginkan respon darimu. Kau menoleh ke arahku, seolah bertanya
apa yang aku lakukan.
“Tau, bagaimana rasanya?”
tanyamu.
“Rasa apa?” jawabku
“Ya, rasanya menunggu jawaban. Sedari
tadi aku menunggu kau bicara, kau hanya diam. Sekarang aku balikkan keadaan,
aku yang diam. Sekarang apa kau tau bagaimana berhadapan dengan dirimu sendiri?
Ngga enak kan?” ujarmu, memberikan rasionalisasi diammu.
“Ya, maaf. Jujur aku ngga tau harus
menjawab apa. Cuma itu.” Begitu kataku
“Kita sudah dewasa. Sudah diberi
hak untuk mengambil keputusan. Aku sudah memutuskan untuk mengawali pembicaraan
ini, kini silahkan kau putuskan, bagaimana setelah sekian lama kita bersama? Jika
kita tetap hidup dengan perbedaan, tak mungkin hubungan ini bisa berlanjut dan
semua akan percuma. Jika kita bisa menyatukan yang tadinya berbeda, mungkin
bisa jadi ini semua berlanjut.” Ujarmu menjelaskan panjang lebar. Berat rasanya,
mendengar semua penjelasanmu. Berat sekali memutuskan permintaanmu pada dua
kalimat terakhirmu. Iyaa, aku anggap itu permintaan dengan resiko yang tidak
sedikit. Bagiku, ini bukan hanya tentang kita berdua. Bukan lagi berbicara
tentang rasa, bukan lagi tentang cinta. Aku tau tak mungkin menerima
permintaanmu, tapi aku juga akan sangat berat hati mengakhiri ini. Pikiranku jauh
melayang, membayangkan fase hidupku selanjutnya, setelah semua perbincangan
berat ini. Air mataku yang telah terhenti, kini menetes lagi tapi hati dan
logikaku bersatu, padu. Dia memintaku untuk memutuskan, memberikan jawaban.
“Ini berat, buatku. Pilihan yang
sangat sulit. Sulit sekali. Ini bukan hanya tentang aku dan kamu” aku memulai
pembicaraan, berusaha membiarkan logika menang, dan mengambil keputusan. Tapi hatiku
meminta untuk berhati-hati, jangan sampai menyakiti. “Maaf, lebih baik kita
hidup dalam perbedaan” aku memberanikan diri mengatakannya. Tangisku, kutahan. “Terimakasih,
atas semuanya. Terimakasih sudah menemani, menghargai, dan mengajari banyak
hal. Terimakasih selalu mengingatkanku untuk memperbaiki diri. Terimakasih.
Maaf, jika selama kita bersama aku banyak merepotkan. Maaf, untuk segala hal
yang kurang baik. Maaf atas sikap yang menyakiti.” Tangisku pecah mengucapkan
semua kalimat itu. Tumpah semua rasaku, hatiku berkecamuk, logikaku tak karuan,
entahlah bagaimana wajahku saat itu, aku tak peduli sedikitpun. Kau merangkulku,
berusaha menenangkan.
Beberapa saat kemudian aku
mereda, aku kembali tenang. Melihatku tenang, kau mulai angkat bicara. Kau ucapkan
terimakasih atas semuanya, dan juga meminta maaf karena katamu kau belum sempat
membahagiakanku. Aku hanya mematung sambil mendengarkanmu, pikiranku kosong. Entahlah…
Kau telah selesai ucapkan
kata-kata perpisahan. Tiba-tiba aku merasa lemas, kepalaku ambruk tertahan di
lututku. Aku menangis sejadi-jadinya. Entahlah, ada rasa tak rela melepasmu. Kau
tampak kaget. Merangkulku kembali dan berusaha membuatku bangkit, katamu “Sudah,
sudaaaaah berhentilah menangis. Ayo bangun, bersandarlah di pundaku.” Katamu lembut
menenangkan. Jemarimu menggenggam jemariku. Aku mengatur nafas dan kembali
tenang.
Kini kau kembali bersuara. “Tolong,
jangan berfikir hanya kau yang berat untuk melepaskan. Aku juga beraaat
melepasmu. Selama ini kita selalu menguatkan dan mengingatkan. Tapi bagaimana
aku harus memperjuangkan hal yang sulit? Daritadi aku menahan tangisku, karena
kau menangis. Jika aku menangis, lalu siapa yang menenangkan?” Tiba-tiba
suaramu bergetar aku tercengang, kau terisak, aku merasa pedih, perih, buliran
air matamu menetes, aku bingung. Tiba-tiba hatiku merasa sakit, melihatmu
menangis. Oh, Tuhan… Inikah kehilangan? Seberat itukah kehilangan? Aku
mengabaikan rasa sakitku, dan bergegas mengusap air matamu, kini tugasku yang
menenangkanmu. Aku bilang “Sudah, jangan menangis. Sudaaah” aku tak mampu berkata hal lain. Maaf aku tak
pandai menenangkan, karena aku pun sedang tak tenang.
***
Sejak saat itu kita memutuskan untuk berteman dan hidup indah dalam
perbedaan. Diam-diam aku mendoakan, sambil menahan tanyaku, “Tuhan doaku
sampai, kan? Walau cara berdoa kami berbeda?”
“To the most charming man in my life @GalihSatriyaa have a very great
day”