Wednesday, 17 December 2014

Mungkinkah jatuh cinta (?) (Part 1)


Jangan salah sangka dulu. Ini bukan tentang sebuah rasa menyayangi yang kamu pikir. Bukan tentang rasa pria pada wanita. Bukan juga rasa wanita untuk pria. Ini adalah tentang jatuh cinta yang tak biasa. Jatuh cinta yang mengakar kuat, menahun, mendarah daging, menghidupkan dinamika.
                Jangan berprasangka dulu. Aku mencintainya tanpa meminta. Aku mencintai dengan rasa dan tindakan yang nyata. Tidakkah dia sadari? Tingkahku, lakuku, senyumku, diamku, marahku, bahkan doaku nyaris selalu ada dia.
                Kata orang, cinta tak dapat dilogika. Inilah perbedaannya. aku mencintainya dengan logika. Aku mencintainya dengan bijaksana. ada kalanya, aku harus meregang namun akan tiba saatnya aku harus mendekap erat cintaku padanya.
                Kata orang, cinta akan membuatmu gila jika kau tak bersamanya. Lagi-lagi ini perbedaanya. Justru aku semakin gila jika tak membiarkannya dicintai oleh orang lain. Justru aku tak bahagia jika hanya aku sendiri yang mencintainya. Justru aku tak lagi bangga jika hanya aku dan dia yang saling mencinta.
                Dia yang harus kulepas karena saatnya telah tiba. Dia yang kini sedang bahagia bersama mereka yang juga mencintainya. Dia yang akan selalu kucinta. Mungkinkah ini yang disebut jatuh cinta sedalam-dalamnya?

to be continue
dwi febrilia a.r

18/12/2014 1.30 AM

Tuesday, 4 November 2014

lagi...

Lagi.

Ada tetes air mata.
Sudah dua bulan sejak kita tidak lagi bersama.
Sejujurnya, aku telah berusaha.
Tapi, apa…

Sesekali, ada rasa sesak yang muncul tanpa sadar
Kala angin malam menghantarkan ingatan paling dasar
Tentangmu, tentangku, tentang kita…

Aku tau masih ada yang berbeda
Di antara kita
Aku tau semua pasti percuma
Bila kita masih bersama
Tetapi aku bisa apa?
Yang ku tau hanyalah rasa


ya,  aku tau kita berbeda...


Tuesday, 7 October 2014

Satu Jam Saja


-inspired by Lala Karmela-

jangan berakhir aku tak ingin berakhir…
perlahan alunan syair lagu yang menyayat ini terngiang di telinga, memutar memori yang tak mungkin kembali, walau hanya dalam satu jam.

satu jam saja ku ingin diam berdua mengenang yang pernah ada…
pertanyaan yang tebesit, ‘bisakah?’ ada pesimis yang menjatuhkan, namun ada rindu yang menguatkan. ‘bisakah?’ ada ketidakmungkinan yang menggagalkan, namun ada keinginan yang membangkitkan.
jangan berakhir karna esok takkan lagi...
di seberang sana, Lala Karmela mendayu dayu. semakin membuat suasana malam yang hening menjadi lebih sendu, biru.

satu jam saja hingga ku rasa bahagia mengakhiri segalanya…
adakah waktu yang bisa kita lewati bersama (lagi)? untuk (mungkin) mengakhiri (lagi) apa yang seharusnya (telah) berakhir. rasa, peduli, pilu, atau bahkan hanya sekedar curi pandangan.
tapi kini tak mungkin lagi,
katamu semua sudah tak berarti,
satu jam saja itu pun tak mungkin,
tak mungkin lagi,
tiba-tiba teringat saat itu, suara air, udara dingin, ucapan lembut. sempurna. sempurna untuk mengakhiri kebahagiaan yang fana. sempurna untuk mengucapkan selamat tinggal pada ketidakmungkinan yang diusahakan. sempurna, untuk mengatakan untuk apa berlama-lama menyatukan hal yang berbeda? rekaman ingatan yang sempurna berputar di otakku, bagaikan dongeng rutin pengantar tidur, dan terhenti saat aku kelelahan, dan terlelap.
jangan berakhir ku ingin sebentar lagi, satu jam saja izinkan aku merasa, rasa itu pernah ada…
inilah keterbatasanku. aku masih terus berharap ada perpanjangan waktu walau nyatanya pertandingan dinyatakan usai. kekalahan telak bagi rasa kita, dan kemenangan besar bagi perbedaan yang menaunginya. mungkin aku masih sangat butuh waktu, hanya untuk hal sederhana yang kita lewati, bersama. mungkin aku hanya butuh tempat untuk menceritakan hal bodoh dan hal aneh yang aku lakukan seperti ‘hei, pa. aku pengen rujak, pengen pisang goreng keju, pengen bakso, pengen kulineraaan!’ atau mungkin aku hanya butuh tempat untuk memberitaukan kemajuan kecil yang sesungguhnya tidak perlu dibesar-besarkan seperti ‘hei, pa. sekarang kalo keluar malem, resleting jaketku selalu aku pasang lo’. itu saja, hanya itu.

jangan berakhir karna esok takkan lagi
satu jam saja hingga ku rasa bahagia
mengakhiri segalanya
tapi kini tak mungkin lagi
katamu semua sudah tak berarti
satu jam saja itu pun tak mungkin
tak mungkin lagi
jangan berakhir ku ingin sebentar lagi
satu jam saja izinkan aku merasa
rasa itu pernah ada
izinkan aku merasa rasa itu pernah ada…………

mudah-mudahan kau selalu dalam keadaan baik. aamiin.
(Tuhan, doaku sampai, kan?)
good bye, sunshine.

Tuesday, 30 September 2014

Tuhan, sampaikah doaku?



Selamat malam, Tuhan.
Kau disana, bukan? Malam ini aku ingin sekali bercerita, adakah Kau mendengarku?
Sebentar, Tuhan. Rasanya ada yang hilang. Bolehkah aku mencarinya terlebih dahulu?



















Hai, Tuhan. Aku kembali lagi, aku ingin bercerita.
Tapi, maaf Tuhan. Aku belum menemukan sesuatu yang hilang itu.
Terimakasih, Kau mau menungguku mencarinya.
Namun aku rasa sesuatu itu sudah pergi. Dan ada yang terbawa bersamanya.
Bisakah kusebut ini dialog, Tuhan?
Aku bosan dengan sebutan pengaduan, keluhan, atau apalah itu namanya.
Aku ingin berdialog denganmu, bisakah, Tuhan?
Ah. Sebentar Tuhan, sepertinya aku mengingat sesuatu yang hilang itu.
Iya!
Benar!
Aku ingat!

Rasanya, aku kehilangan seseorang, Tuhan.
Kenapa kau biarkan aku kehilangannya, Tuhan?
Bukankah Kau yang mempertemukan kami?
Mengapa kini Kau menjauhkan kami, Tuhan?

Rasanya, ada yang hilang, Tuhan.
Walau semuanya tampak wajar-wajar saja.
Walau senyum masih ada di raut muka.
Tapi, Tuhan…
Tapi…
Tak bisakah aku meminta perpanjangan waktu?

Ya, memang…
Memang cara kami berdoa tidaklah sama.
Kami tidak pergi ke tempat ibadah yang sama.
Tapi…
Tapi, Tuhan…
Tapi, aku tau ini kehendak-Mu…

Tuhan,
Jika memang yang terbaik adalah kami tidak bersama,
Bolehkah aku panjatkan doa-doa untuknya?
Lindungi dia, kasihi dia, berilah dia kesehatan, dan kemurahan hati.
Bahagiakan dia, peluklah dia selalu Tuhan, berikan ketenangan dan kejernihan hati untuknya.
Amin, aamiin, aamiin…

Tuhan,
Sampaikah doaku?
Sampaikah doaku untuknya?
Walau cara kami berdoa berbeda?


Monday, 1 September 2014

Masa depan




Jika masa depan dapat diterka, maka untuk apa mengira-ngira?
                Aku masih ingat betul, momen pertama kali kita bertemu. Aku masih ingat betul dimana tempat aku pertama kali melihatmu. Dan aku masih mengingat dengan sangat jelas ajakan pertamamu. Semuanya, tentangmu terekam dengan jelas di otakku…

Jika masa depan adalah kumpulan kemungkinan terbaik dan terburuk, aku rasa kita juga turut menciptakan masa depan…
                Pertama kali aku melihatmu, aku percaya kamu dan aku akan menjadi dekat. Pertama kali aku menyadari ada rasa itu, aku merasakan ketidakmungkinan. Hingga saat pertama kali jemarimu menggenggam jemariku, aku memahami Tuhan berkehendak dalam setiap langkah umatNya.

Jika masa depan adalah kita, lalu adakah pengertian ‘aku’ dan ‘kamu’ sebagai individu yang utuh?
                Aku mengharapkan, masa depan adalah kita. Dua individu yang bersama, menyatu, seirama. Aku menginginkan masa depan adalah kita, dua aliran air yang bertemu pada sebuah muara. Aku berdoa masa depan adalah kita, semburan warna yang membentuk degradasi keindahan. Namun  kita harus terhadang oleh definisi bahwa kita harus tercipta akan persamaan dan perbedaan. Persamaan yang sejalan dan perbedaan yang saling melengkapi. Kita hanyalah perbedaan yang saling melengkapi secara utuh, namun kita bukanlah persamaan yang sejalan. Maka kita bukanlah kita, kita hanya sebagian kita dan sebagian ‘aku’ dan ‘kamu’ sebagai individu yang utuh.

Jika masa depan adalah keindahan, bolehkah waktu terhenti sebelum Rabu, 27 Agustus 2014?

Aku mungkin tidak menginginkan keindahan jika keindahan itu bukan kamu….

Sunday, 3 August 2014

22


Selamat malam, sahabat terkasih, sahabat seperjuangan, sahabat sekaligus kakak dan partner dalam keseharian, Windha Ingrath…


Selamat ulang tahun, Wind!

Tulisan ini bukanlah rangkaian harapan panjang yang sekedar formalitas diucapkan. Tulisan ini juga bukan dibuat untuk menciptakan citra bahwa aku mengingat ulang tahunmu. Tulisan ini bukan ucapan yang special, tulisan ini hanyalah sebagai pengingat, jika kelak kau lupa, bahwa dalam ‘ulang tahun’ yang tiap tahun kita rayakan banyak makna hidup yang perlu untuk kita  resapi.
Begini, Wind, saat kita merayakan ulang tahun ada dua kejadian berlawanan terjadi sekaligus dalam satu momen. Kejadian itu adalah pertambahan dan pengurangan. Disini, kita hampir lupa menyadari bahwa ketika usia kita bertambah, saat itu pula diiringi dengan berkurangnya sisa hidup kita di dunia. Kejadian itu menandakan adanya keseimbangan dalam kehidupan, Wind. Pelajaran kehidupan pertama adalah keseimbangan.
Ketika ulang tahun, selalu sangat beragam ucapan yang disampaikan kepadamu, “Happy Birthday”, “Selamat Ulang Taun”, “Best wishes”, “HBD yah”, dll. Perlu kau sadari win, mereka mengucapkan dengan cara yang berbeda media yang berbeda, twitter facebook, sms, bbm, line whatsapp, dll.  Entah mereka yang mengucapkan benar-benar mengenalmu, atau bahkan sama sekali tidak mengenalmu.  Ketahuilah wind, disini kau belajar dua hal sekaligus yaitu mendoakan dan menghargai. Doa yang mereka ucapkan walaupun hanya “HBD yah”,   “GBU” adalah harapan yang mereka panjatkan pada sang kuasa, entah itu tulus atau tidak kau hanya perlu menghargai mereka. Hargai mereka yang mengucapkan ala kadarnya hingga mereka yang memanjatkan doa sambil memberimu kejutan hangat membahagiakan. Kau hanya perlu menyadari betapa doa orang banyak, lebih cepat diijabah, bukan?
Sebenarnya, banyak sekali pelajaran yang dapat kau resapi di momen ulang tahun ini. Aku hanya ingin kau membaca tulisan ini jikalau kau kelak terlena dalam hingar binger dunia, atau kau terlarut berjuang dalam kerasnya hidup.
Amin, untuk semua harapan dan doamu. Amin untuk semua doa yang terpanjatkan di FB, Twitter, sms, bbm, line, ucapan lisan, dll.
Selamat 22 tahun Windha Ingrath, berjuanglah!

Ps:
Terimakasih telah menjadi teman yang sangat baik. Terimakasih telah selalu mengingatkan.

Aku bukanlah pengingat yang baik, maka untuk itulah aku butuh diingatkan

your friend, dwi febrilia anjarwati rahayu

Thursday, 15 May 2014

to you, yes you!

I forgive you for being handsome with a very random haircut, that's okay... that's okay. - @Jhnayw 

and edited to be like this  

I forgive you for being so charming with a very random haircut, that's okay... that's okay. - @yesdifar to you, yes you dearest @GalihSatriyaa :)

Wednesday, 16 April 2014

3 hal tersulit di dunia



Banyak orang bilang, ada dua hal yang paling sulit untuk dilakukan di dunia ini, meminta maaf dan memaafkan. Namun, bagiku ada satu hal tambahan yang sangat sulit untuk dilakukan, mendengarkan.

                Suatu ketika, aku sering sekali menyebut kata “self defense” atau pertahanan diri yang setiap orang pasti lakukan jikalau sedang berbincang dengan dia, Galih. Aku sering bertanya padanya, kenapa harus ada self defense jika ada sebuah masukan masuk untukmu? Kenapa tidak berusaha mendengarkan terlebih dulu? Berkali kami berbincang dengan topik yang sama “self defense”. Berkali pertanyaan terulang. Berkali pula jawaban terulang.
                Suatu pagi, kami sarapan bersama. Masih dengan topik yang sama, “self defense”. Aku mencoba memperlambat kata-kata, mencoba mencari makna, pelan. Hingga, aku meminta masukan darinya…
“Gimana kalo kamu sebaiknya blablablabla….. Karena menurutku kamu blablabla” ujarnya
“Wah? Kenapa gitu?” responku
“Iya, karena kamu blablabla. Menurutku sih…” lanjutnya
“Tapi aku sudah blablabla… Apa usahaku kurang?” jawabku
“Iya, bisa jadi begitu. Mungkin, di sisi lain kamu harus bisa lebih blablabla” tambahnya
“Kok bisa? Sudah totalitas aku ngelakuinnya. Kenapa begitu penilaiannya…..” belum selesai aku bicara, dia menatapku. Aku terdiam. Mencoba menerka.
“Kamu, self defense! Kamu juga belum bisa mendengarkan masukan orang lain dengan baik” dia tersenyum. Aku tersadar. Benar. Aku juga melakukannya. Aku membela diri. Aku menyangkal apa masukan yang ia berikan.
“Iya kamu benar!” ujarku dalam hati. Aku masih menyangkal. Aku bahkan tidak membiarkan masukan itu masuk. Egoiskah?
***
“Yu, aku punya kesimpulan. Ternyata semua orang melakukan self defense. It’s just like human immune system when strangers come” ujarku pada Ayu
“Maksudmu, Dif?”
“Iya, jadi ketika kita mendapatkan masukan, seringkali kita menyangkal dengan ‘tapi kan’, ‘bukannya’, ‘iya, udah gitu kok aku’. What do you think, Yu?”
“Iya kali ya, Dif. Mungkin ibarat kata ‘mana ada orang yang mau disalahkan?’. Iya begitulah manusia, Dif. Isinya, ego.” ujarnya. Aku berpikir sejenak. Itukah yang manusia sebut dengan ego?
Ego, membuat kita tidak mau mendengar. Ego, membuat kita ingin didengar. Ego, membuat kita merasa yang paling benar. Ego, membuat kita tidak peduli apa orang lain cukup menerima apa yang kita beri. Mau contohnya? Pejabat-pejabat yang lupa daratan, yang berkata sudah mendengarkan aspirasi rakyatnya, namun dengan tega merampas hak mereka. Itukah mendengar? Mereka telah tuli akibat tidak mendengar dan hanya ingin didengar oleh media-media yang menciptakan citra. Don’t you see?
Rasa-rasanya setiap orang memang melakukannya. Karena ego bagian dari manusia. Tapi alangkah baiknya kalau self defense diimbangi dengan mendengar. Karena dengan mendengar kamu dapat berbicara yang lebih indah, lebih santun. Karena dengan mendengar, kamu bisa mempertimbangkan dan memahami.  Karena dengan mendengar, kamu berhasil melakukan salah satu dari tiga hal tersulit di dunia.
Thanks @GalihSatriyaa and @ayuyuniafifa

Monday, 7 April 2014

ujian hati


Ada kalanya, kita harus meredam segala emosi yang memuncak. Menahan sampai titik terendah, dengan hati yang tenang. Hingga kita lupa, hingga kita menerima, hingga kita mengikhlaskan. Ada kalanya, kita bertanya, sampai kapan kita harus melakukannya? Membiarkan rasa tersisih, dan terlambat menyadari ada rasa sakit yang meradang, perlahan menimbulkan resah, dan menguasai bak amarah.
                Bahwasannya, hidup adalah proses yang tak berujung. Yang kelak akan menimbulkan hasil di alam sana. Sebuah kalimat penasihat paling mujarab peredam lelah saat kita berproses. Aku meyakini bahwa proses ini memang harus kita tempuh, walaupun harus berjalan jauh, merengkuh. Tetapi, timbul lagi pertanyaan, apakah dengan cara yang benar dapat diproses dengan tepat dan hasilnya akurat? Bagaimana efisiensi usaha kita jika hasilnya jauh dari pengharapan?
                Mungkin harus ku simpan. Sama sepertimu yang menyimpan. Segala pertanyaan ini. Yang akan terus beranak jika diungkapkan. Selamat menempuh ujian hati ini. Rindu harus tertahan. Selalu bersemangatlah, semua akan mudah. Selamat malam, sayang.


Wednesday, 12 March 2014

random


Hujan, dan aku mengkhawatirkanmu...

Selamat malam, pejuang…

Sedang dimana kamu? Sudah larut malam, diluar hujan. Sudahkah kamu di rumah? Beristirahat dan mengisi perutmu?

Hari ini kamu mengagumkan. Begitu tenang, rileks dan santai. Bagaimana rasanya siang tadi? Menggetarkan jiwa, bukan?

Kamu mempesona ya. Rendah hati. Low profile.

Bagaimana gusimu? Masih bengkak? Ah. Mudah-mudahan sudah membaik ya.

Kamu di luar dugaan. Selalu di luar dugaan. Selalu memberi kejutan. Aku percaya, kamu akan memaknainya sendiri. Seluruh usaha dan niat baikmu ini.

Sudah sampai rumah?

Istirahatlah. Teguklah secangkir cokelat panas. Rawatlah dirimu. Sederet kegiatan yang menunggu kehadiranmu sudah antre di catatan itu. Hargai jiwamu. Berilah dia sedikit waktu untuk sekedar menghirup udara segar tanpa beban disana. Bangkitkan semangatmu. Ingatlah, wajah harapan mereka semua sekarang tertumpu padamu. Wajah yang sama sepertimu setahun lalu, berharap pada lelaki buncit panutanku.

Ah, aku terlalu mengkhawatirkanmu ya? Padahal kamu pejuang. Padahal kamu pemimpin. Padahal kamu jauh lebih baik dariku. Harusnya aku tidak sekhawatir ini. Haha.

Selamat malam, pejuang. Perjuanganmu akan membuahkan kemenangan. 

Semangat berjuang, sayang :)

Monday, 10 February 2014

kelemahan


Apa salahnya punya kelemahan?

Sedari tadi pertanyaan itulah yang berputar di otakku, bukan tidak menemukan jawabannya namun aku belum menemukan jawaban yang tepat.
Tadi pagi hasil tes psikologi yang beberapa hari lalu kuikuti telah keluar.  Dan hasilnya berisi sederet analisa kekuatan dan kelemahan. Psikolog yang menangani tes tersebut menjelaskan aku harus mencoba menyukai hal detail, harus menghilangkan kecerobohan, harus mencoba mengambil keputusan, tidak boleh ragu, dan masih banyak lagi hal-hal yang harus kulakukan. Hasil tes ini membuatku stress. Menurunkan semangatku, menurunkan energy positifku, serupa dengan dementor yang menghisap kebahagiaan dan memori indah, ya begitulah efek hasil tes itu.

Apa salahnya punya kelemahan?

Bukankah setiap orang ditakdirkan begitu? Kenapa masih dipermasalahkan? Kenapa terus menerus diperdebatkan? Kenapa harus membebani pikiran? Kertas hasil tes psikologi nyaris kumusnahkan. Namun batal. Mengingat biaya untuk mengambil tes tersebut harus menguras celengan ayamku yang harusnya aku gunakan untuk menonton klub bola favoritku. Aku mengorbankannya! Catat itu! Aku mengorbankannya!

Apa salahnya punya kelemahan?

                Aku terus menerus mencari jawaban. Mencoba mencari teori yang menguatkan bahwa tak ada salahnya punya kelemahan. Bertanya sana sini sehingga aku yakin bahwa kelemahan adalah bagian dari mutlak dari seorang manusia.
***
‘Bagaimana hasil tes psikologimu?’ Ibu bertanya padaku
‘Entah, Bu. Aku tidak ingin membicarakannya. Kalau ibu mau, silahkan baca sendiri hasilnya’ jawabku tak ada gairah sembari menyodorkan hasil tes itu. Ibuku membacanya, sebentar. Menutupnya. Mengembalikan padaku.
‘Kok cepet, Bu?’ tanyaku
‘Apa yang kau pusingkan?’ Tanya ibuku lagi
‘Apa salahnya punya kelemahan?’ tanyaku lagi. Ibu tersenyum, memainkan kalkulatornya sembari menghitung gaji anak buahnya
‘Tidak ada salahnya.’ Ibuku menjawab singkat
‘Lalu?’ aku tidak puas dengan jawaban ibuku
‘Apa yang kau inginkan dari jawaban Ibu, nak?’ kini ibu menatapku dan meletakkan kalkulatornya
‘Penguatan’ singkat jawabku
‘Apakah kamu belum menyadari, bahwa kini kamu sedang membiarkan kelemahanmu menang?’ ibuku memancing respon dariku
‘Maksud ibu, bagaimana?’ aku menunggu jawaban ibuku
‘Coba dengarkan Ibu, nak. Kenapa kamu ikut mempermasalahkan kelemahan yang kau miliki? Bukankah hasil tes ini menunjukkan kau punya kelebihan jauh lebih banyak dibanding kelemahanmu? Kenapa kau tak mempermasalahkan kelebihanmu? Kenapa?’ Ibuku menghujani pertanyaan untukku
‘Karena kelebihan tidak pernah dipermasalahkan, Bu! Dia kekuatan setiap manusia, sedangkan kelemahan, dia meruntuhkan manusia’ aku mencoba memberi penjelasan
‘Lalu, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau kesal?’ Ibuku bertanya lagi
‘Iya. Aku kesal. Hasil tes ini membuatku kesal, Bu! Aku punya banyak kelebihan seperti kata Ibu! Aku tau, aku sadar kelebihan itu’
‘Lalu, kau runtuh?’
‘……aku tidak bermaksud begitu bu’ aku melakukan pembelaan
‘Iya, kau runtuh sekarang. Karena kau memberikan ruang pada kelemahan. Padahal kau punya kekuatan. Kenapa kau tak manfaatkan kekuatanmu untuk mengalahkan kelemahanmu? Kenapa tak kau tutupi apa yang tidak kau punya dengan segala yang kau punya? Kenapa kau membiarkan kelemahanmu mengalahkan dirimu sendiri? Atau kau hanya butuh pengakuan diri?’ Ibu kembali menghujani pertanyaan.
‘Coba baca lagi hasil tes ini baris terakhir’ pinta Ibuku

Kelemahan: Ketakutan akan tidak mendapatkan pengakuan umum

Aku diam. Aku me-review percakapan dengan ibuku. Aku membaca lagi hasil tes psikologiku.

Aku tertunduk. Menyadari.

Kali ini aku kembali membiarkan kelemahanku menang dan terbahak menertawakanku

Saturday, 8 February 2014

21 syukur

Dulu seorang teman, pernah menanyakan padaku:
'Bagimu apa itu positif?' Spontan saja aku menjawab 'Positif adalah rasa syukur'
'Kenapa begitu?' Lanjutnya
'Aku tidak dapat menjelaskan. Bolehkah aku menjawab dengan memberikan gambaran?'
'Tentu, silahkan'...

Begini, teman....  

Menjadi seorang anak dari kedua orang tua yang tanpa pamrih mengasihi putra putrinya adalah sebuah anugerah,
Menjadi adik dari seorang kakak yang murah hatinya adalah sebuah berkah,
Memiliki keluarga yang utuh dan harmonis adalah hal yang lebih dari indah,

Menjadi sahabat orang hebat seperti mereka adalah sebuah dorongan,
Mempunyai panggilan keceng dari teman-teman yang buncit adalah hal yg dirindukan,
Membagi ilmu pada adik-adik seperti mereka adalah bentuk pengabdian,

Begitu aku menggambarkan padanya, dia melanjutkan pertanyaan,
'Hidupmu nampak sempurna dan bahagia, benar begitu?'
'Tidak' jawabku sembari tersenyum
'Lalu kenapa gambaran yang kau beri seolah-olah tak ada celah untuk duka, kecewa dan amarah?'
'Karena aku bersyukur' begitu aku katakan lagi padanya
Raut wajahnya bingung, masih belum memahami maksudku
'Singkatnya, bersyukur diawali dengan bagaimana kamu menerima apa yang terjadi padamu, apa yang ada di sekelilingmu, dan apa yang kau miliki dan tidak kau miliki'
'Hmm, lalu semudah itu bisa bersyukur?' 'Setelah kau menerima kondisimu, jangan tutup matamu dengan hal yang tidak kau ketahui. Karena kau akan semakin jauh dari rasa syukur. Carilah sisi positif dari apapun yang kamu alami. Dengan itulah kau tau alasan kenapa hal itu terjadi padamu. Ingatlah, sesulit apapun keadaan pasti ada kemudahan dibalik semua itu. Ingat, Tuhan telah mengatakan 'Bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan, dibalik kesulitan ada kemudahan' kau masih ragu?'
'Hmmm...'
'Hidup adalah bagaimana kamu memaknainya, memaknai syukurmu pada Yang Maha Kuasa. Hidup adalah bagaimana kau menempatkan syukur dan egomu, sejauh mana syukur dan ego berkompetisi menguasai hati. Berikan sedikit ruang pada ego, karena dia lah yang memberi dinamika kehidupan, namun beri ruang yang lebih luas untuk syukurmu, karena dia lah yang memberimu arti kehidupan'
Dia tersenyum...
'Syukurlah kau telah memahami apa maksudku'

Tasikmalaya, 8 Februari 2014.
Selamat 8 Februari 2014, Dwi Febrilia Anjarwati Rahayu. Bersyukurlah, berbahagialah!

Thursday, 6 February 2014

Bayang Pecundang



Aku penat sekali hari ini. Wajah kusut, badan kusut, pikiran kacau. Ah! Selepas mandi, aku bercermin. Mengatur wajahku, menata senyumku, mencoba mengembalikan mood ku. Mendadak aku terdiam. Menatap heran cermin di depanku. Ada yang tidak lazim. Bukankah lazimnya, pantulan cermin selalu mengikuti gerakan objek yang bercermin? Namun kali ini pantulan itu tidak begitu. Aku diam, dia menyeringai. Tatapannya sinis. Aku tak percaya. Bagaimana bisa bayangan tak patuh pada pemiliknya?
                ‘Kenapa kau heran begitu?’ Tanya bayanganku di cermin
                Aku masih terdiam. Takjub.
                ‘Kenapa tak kau jawab? Hey!’ Dia berteriak
                ‘Apa maksudmu? Kenapa tak mengikuti gerakanku?’ Tanyaku padanya
                ‘Aku tidak mau lagi jadi bayangmu’. Jawabnya
                ‘Haaa? Bagaimana bisa begitu? Tidak bisa! Kamu tetaplah bayanganku!’ Teriakku padanya
                ‘Aku tidak mau! Aku bosan!’ Dia kekeuh mempertahankan
                ‘Mana mungkin bayangan bisa bosan? Kamu tidak nyata!’ Aku tidak mau kalah
                ‘Karena itulah aku ingin jadi nyata!’ Kami masih berdebat
                Aku marah. Aku menunjuk ke arahnya. ‘Kamu, tidak akan bisa menggantikan posisiku! Aku yang nyata! Kamu yang maya! Camkan itu baik-baik!’
                ‘Itu sebabnya aku tidak mau menjadi bayanganmu lagi. Kamu arogan!’ tegasnya
                Aku masih marah.
                ‘Aku benci melihatmu arogan, merasa menjadi orang yang tidak dapat tergantikan, merasa benar tapi sering mentolerir kekhilafan, merasa hebat tapi selalu menjadi buntut orang lain, merasa kuat tapi selalu menunggu uluran tangan orang lain. Aku malu menjadi bayangmu!’ bayangan itu meluapkan emosinya
                ‘Apa maksudmu?’ tanyaku
                ‘Kau tak pantas jadi nyata!’ hinanya
                ‘Kamu yang tak pantas! Kamu selalu terjebak dalam cermin. Kamu selalu tak mampu keluar dari batas itu! Kamu selalu berada hanya bila ada cahaya dalam gelap. Kamu tidak bisa menjadi cahaya! Kamu selalu dibelakangku!’ aku juga meluapkan itu padanya. Enak saja dia menghinaku aku bisa membalasnya lebih. Batinku.
                Dia diam. Menatapku. Seperti hendak mengumpulkan energy untuk kembali menyerangku.
                Aku balas tatapannya menantang. Bersiap mengeluarkan cemooh untuknya
                ‘kamu keras kepala!’ kami bersamaan mengeluarkan kata-kata, kini gerakannya sama. Sesuai hokum pantulan cermin. Aku diam. Dia diam. Dia heran. Aku pun heran. Ekspresi kami kembali sama.
                APA INI????!!! Aku masih keheranan. Aku merasa aku menang. Iya, sepertinya aku menang. Aku kembali tersenyum. Bayanganku sudah kalah sepertinya. Hahaha.
                Aku menunjuk cermin, berteriak lantang ‘Kamu kalah, pecundang!’
                Dan bayanganku pun melakukan hal yang sama…
                Mungkin kami identik, atau mungkin kami sama saja?
Sama-sama pecundang…

Inspiring by, Dwi Febrilia Anjarwati Rahayu
 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com