Wednesday, 16 April 2014

3 hal tersulit di dunia



Banyak orang bilang, ada dua hal yang paling sulit untuk dilakukan di dunia ini, meminta maaf dan memaafkan. Namun, bagiku ada satu hal tambahan yang sangat sulit untuk dilakukan, mendengarkan.

                Suatu ketika, aku sering sekali menyebut kata “self defense” atau pertahanan diri yang setiap orang pasti lakukan jikalau sedang berbincang dengan dia, Galih. Aku sering bertanya padanya, kenapa harus ada self defense jika ada sebuah masukan masuk untukmu? Kenapa tidak berusaha mendengarkan terlebih dulu? Berkali kami berbincang dengan topik yang sama “self defense”. Berkali pertanyaan terulang. Berkali pula jawaban terulang.
                Suatu pagi, kami sarapan bersama. Masih dengan topik yang sama, “self defense”. Aku mencoba memperlambat kata-kata, mencoba mencari makna, pelan. Hingga, aku meminta masukan darinya…
“Gimana kalo kamu sebaiknya blablablabla….. Karena menurutku kamu blablabla” ujarnya
“Wah? Kenapa gitu?” responku
“Iya, karena kamu blablabla. Menurutku sih…” lanjutnya
“Tapi aku sudah blablabla… Apa usahaku kurang?” jawabku
“Iya, bisa jadi begitu. Mungkin, di sisi lain kamu harus bisa lebih blablabla” tambahnya
“Kok bisa? Sudah totalitas aku ngelakuinnya. Kenapa begitu penilaiannya…..” belum selesai aku bicara, dia menatapku. Aku terdiam. Mencoba menerka.
“Kamu, self defense! Kamu juga belum bisa mendengarkan masukan orang lain dengan baik” dia tersenyum. Aku tersadar. Benar. Aku juga melakukannya. Aku membela diri. Aku menyangkal apa masukan yang ia berikan.
“Iya kamu benar!” ujarku dalam hati. Aku masih menyangkal. Aku bahkan tidak membiarkan masukan itu masuk. Egoiskah?
***
“Yu, aku punya kesimpulan. Ternyata semua orang melakukan self defense. It’s just like human immune system when strangers come” ujarku pada Ayu
“Maksudmu, Dif?”
“Iya, jadi ketika kita mendapatkan masukan, seringkali kita menyangkal dengan ‘tapi kan’, ‘bukannya’, ‘iya, udah gitu kok aku’. What do you think, Yu?”
“Iya kali ya, Dif. Mungkin ibarat kata ‘mana ada orang yang mau disalahkan?’. Iya begitulah manusia, Dif. Isinya, ego.” ujarnya. Aku berpikir sejenak. Itukah yang manusia sebut dengan ego?
Ego, membuat kita tidak mau mendengar. Ego, membuat kita ingin didengar. Ego, membuat kita merasa yang paling benar. Ego, membuat kita tidak peduli apa orang lain cukup menerima apa yang kita beri. Mau contohnya? Pejabat-pejabat yang lupa daratan, yang berkata sudah mendengarkan aspirasi rakyatnya, namun dengan tega merampas hak mereka. Itukah mendengar? Mereka telah tuli akibat tidak mendengar dan hanya ingin didengar oleh media-media yang menciptakan citra. Don’t you see?
Rasa-rasanya setiap orang memang melakukannya. Karena ego bagian dari manusia. Tapi alangkah baiknya kalau self defense diimbangi dengan mendengar. Karena dengan mendengar kamu dapat berbicara yang lebih indah, lebih santun. Karena dengan mendengar, kamu bisa mempertimbangkan dan memahami.  Karena dengan mendengar, kamu berhasil melakukan salah satu dari tiga hal tersulit di dunia.
Thanks @GalihSatriyaa and @ayuyuniafifa

Monday, 7 April 2014

ujian hati


Ada kalanya, kita harus meredam segala emosi yang memuncak. Menahan sampai titik terendah, dengan hati yang tenang. Hingga kita lupa, hingga kita menerima, hingga kita mengikhlaskan. Ada kalanya, kita bertanya, sampai kapan kita harus melakukannya? Membiarkan rasa tersisih, dan terlambat menyadari ada rasa sakit yang meradang, perlahan menimbulkan resah, dan menguasai bak amarah.
                Bahwasannya, hidup adalah proses yang tak berujung. Yang kelak akan menimbulkan hasil di alam sana. Sebuah kalimat penasihat paling mujarab peredam lelah saat kita berproses. Aku meyakini bahwa proses ini memang harus kita tempuh, walaupun harus berjalan jauh, merengkuh. Tetapi, timbul lagi pertanyaan, apakah dengan cara yang benar dapat diproses dengan tepat dan hasilnya akurat? Bagaimana efisiensi usaha kita jika hasilnya jauh dari pengharapan?
                Mungkin harus ku simpan. Sama sepertimu yang menyimpan. Segala pertanyaan ini. Yang akan terus beranak jika diungkapkan. Selamat menempuh ujian hati ini. Rindu harus tertahan. Selalu bersemangatlah, semua akan mudah. Selamat malam, sayang.


 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com