21-12-12
Malam ini, aku
bahagia. Entah kenapa bisa sebahagia ini. Ada banyak dugaan penyebabnya. Tapi
yang jelas aku merasakan sebuah kelegaan dan sebuah awal baru disini. Inbis UB
lantai 4. Master of ceremonial bersama Fandy AL. Ketika sebuah keraguan mulai
terpatahkan melihat euforia pemimpin baru yang tampaknya berkomitmen. Entah
bagaimana nanti realisasi dari semuanya. Yang jelas percayakan saja pada
mereka, New Leaders!
Malam ini, aku
sedih. Bila diizinkan untuk menangis, mungkin aku akan menangis. Entah kenapa
bisa sesedih ini. Yang aku tau, salah satu penyebabnya adalah aku merasa
kehilangan di tengah euforia memiliki. Memiliki “mereka” yang sangat dekat
denganku. Siapa “mereka”? Mereka adalah pemimpin periode sebelumnya, yang baru
saja melepaskan jabatan kepada New Leader-nya. Beberapa orang yang sudah aku
kenal lama, dan bahkan yang baru aku kenal sekalipun. Seperti “Kahim”,
“Presiden BEM”, “Ketum Seni” dan “DPM”.
Rifki Mustofa
Rodhi, sosok ketua himpunan yang aku nilai sangat sukses dalam memimpin. Dia
tidak hanya berhasil merubah diri sendiri. Tetapi, dia juga berhasil merubah
Himpunan. Suasana kekeluargaan di Himpunan menjadi lebih nyata karenanya.
Konsep kekeluargaan yang kental dari kepemimpinannya, membuat sebagian besar
orang tertarik bekerja sama dengannya. Beberapa teman mulai menanyakan “Kalo
tahun depan aku masuk himpunan, gimana?” Aku rasa penyebabnya hanya 1, Rifki
Mustofa Rodhi, jajaran Pengurus Hariannya, pengurus non harian dan elemen yang
terlibat. Satu? Bukannya tadi aku bilang hanya 1 penyebabnya? Itu bukan satu!
Hahaha. Sisi lainku menjawab, Rifki Mustofa Rodhi, jajaran Pengurus Hariannya,
pengurus non harian dan elemen yang terlibat adalah satu kesatuan yang tidak
pernah bisa dilepaskan. Sosoknya yang selalu berusaha selalu ada untuk kami.
Terutama untukku. Dia memberiku kepercayaan, dan kesempatan. Om Tongki, begitu
aku memanggilnya. Sebutan itu kudapat bersama enggar dayaningtyas saat kami
bertugas ke Bali J
Aku sangat menghormatinya dan pasti akan sangat merindukan gaya kepemimpinannya
sebagai seorang kahim yang sangat mengayomi adik-adiknya.
Yang kuingat
malam itu aku belajar banyak hal, salah satunya aku dapat saat aku berbincang
dengan mas Agi Arinta ketua DPM periode 2011-2012. Berikut percakapanku dengannya
:
Difar : Mas, Mas Agi sedih nggak?
Mas Agi : Nggak, Far.
Difar : Sama sekali?
Mas Agi : Iya, Cuma ada rasa nggak puas.
Difar : Maksudnya?
Mas Agi : Semua proker telaksana, tapi
ada yang tidak sesuai sama hatiku. Keinginanku.
Difar : Jadi ngganjel gitu mas?
Mas Agi : Iya. Banget.
Difar : Emang apa yang ngganjel mas?
Mas Agi : Kae lo, Far. Nggonmu,
pemimpine. Beh, iku nggak sesuai keinginanku blass.
Difar : Nggonku sing endi iki mas?
Mas Agi : Kuwi lo
Difar : Bem opo Himpunan?
Mas Agi : Loro karone, beh. Kabehane.
Difar : Lha piye meneh, Mas. Sing penting lak yo
mari.
Mas Agi : Iyo. Tapi onok maknae, Far.
Dan
pembicaraan pun terhenti. Aku hanya bisa tersenyum. Sedikit mencerna
kata-katanya. Dan kemudian aku mendapatkan arti dari semua perkataannya itu. Kurang
lebih intinya begini, Menjadi seorang pemimpin itu harus berperan sebagai dua
sosok sekaligus. Yang pertama, sosok pemimpin, dan kedua sosok manusia biasa,
dalam hal ini mahasiswa yang punya ego, nafsu dan keinginan. Harus ada jalan
tengah atau peredam di dalam diri ketika dua sosok itu muncul secara bersamaan.
Secara profesionalitas, semua proker terlaksana dengan pencapaian target yang
penuh. Tapi, tentunya walaupun hal itu adalah sebuah pilihan dari “khalayak
ramai ataupun forum”, belum tentu itu sesuai dengan keinginan pemimpinnya.
Peredaman ego adalah saat kita sebagai pemimpin harus menyatakan “good job”
padahal dalam hati hal itu bukan kehendaknya. Butuh suatu kebijaksanaan untuk
menjadi seorang pemimpin. Kebijaksanaan yang diperoleh saat jatuh bangun
bangkit merangkak dan harus mengais untuk kembali bangkit. Menjadi pemimpin
adalah menjadi sosok yang harus siap didengar, dan siap mendengar. Singkat,
tapi bermakna luas. Itulah mas Agi. Kata-katanya selalu singkat, dan seolah
mempermudah setiap pekerjaan. Dia selalu memberi solusi nyata atas sebuah
permasalahan. Dia bukan sosok yang “mbelibet” tapi dia sosok yang praktis,
sederhana dan charming. Omongannya kadang “nyelekit” tapi maknanyaaaa....
Tingkahnya kadang diam, kadang berantakan. Tapi dia selalu diinginkan
kehadirannya dalam setiap rapat. Oh, man! I’ll miss him too. L