Wednesday, 17 April 2013

Tuhan, Aku dan Futsal



                Apa urusan Tuhan dengan aku dan futsal? Tuhan yang punya kendali atas bertemunya aku dan satu olahraga yang sangat menawan ini. Ya, futsal. 5 orang pemain dalam satu tim. Berbagi peran, berbagi bola, menjaga aliran bola, menjaga ritme, mencetak goal, melindungi gawang dan yang terpenting menjunjung tinggi sportivitas.

                Ah. Sudah lama aku tak menyentuh si kulit bundar ini.

                Hari ini ban kapten kembali ku sandang. Hari ini kepercayaan itu kembali kuemban. Aku merindukan ini semua, Tuhan. Terimakasih telah mempertemukanku kembali dengan futsal. Hari ini aku kembali menjadi pemimpin di lapangan. Dengan 10 pemain dan 5 pemain yang menjadi starting line up termasuk diriku. Ini bukan soal prestige! Bukan juga soal harga diri. Ini soal kerinduan. Bagiku pribadi, aku rindu banyak orang berteriak, “Ayo, Far!!! Kalem,Far!!!” dan berbagai teriakan khas supporter. Ah, sial. Hal seperti itu terlalu indah.
            
    Terimakasih, untuk kalian. Tim ku 

               Terimakasih, mbak vita dan mbak tiwi tip 09, tutik, feby, yusni, kalit, widi, amey, nimas tip 11, dan dek zahra, dek meiga, dek gege tip 12. Terimakasih sudah menjadi tim yang baik hari ini. Terimakasih sudah mau kupimpin walaupun aku juga masih amatiran :) 

                Terimakasih, untuk kalian TIP 2011 :)

                Bapak kating, coach inal dan irul, bapak apic... aku menyanyangi kalian semuaaaaaa tip 11. Terimakasih telah mengajarkan arti loyalitas dan kecintaan. Terimakasih untuk tetap hadir di tengah kesibukan kalian. Terimakasih untuk tip 10, tip 09 dan lainnya yang turut hadir mendukung kami.

                Kalian semua juara di mataku 

                Tahun ini kita mengalami kemajuan, guys. Sadarkah? Futsal cewek, dari segi jumlah kita semakin banyak. Aku bahagiaaaa sekali. Aku tak pernah menomorsatukan gelar. Never! Aku hanya ingin menebarkan virus-virus futsal untuk kalian. Dan kali ini cukup berhasil. Aku ingin menumbuhkan semangat itu. Kemajuan lainnya, TIP 11 cowok, kalian berhasil masuk semifinal! Hey! It’s cool. Really cool. Thanks for your effort guys J dan....

                Selamat, TIP 2012

                Adik-adikku, aku terenyuh. Mendengar kalian jargon TIP dengan semangatnya J aku sangat terharu. Terimakasih. dan selamat atas juara pertama yang berhasil kalian dapatkan. Terimakasih telah mengajariku toleransi, kasih sayang, dan... keakraban.

                Terimakasih Om Juned

                Di mataku, kamu tetap presiden ku J terimakasih untuk memimpin jargon diantara 3 angkatan tadi. Semua itu tadi menggetarkan jiwaku. Banyak hal yang kudapat hari ini. Terimakasih. terimakasih Tuhan, telah memepertemukanku dengan futsal dan mengambil banyak pelajaran dari sini.

Life is just like playing Futsal. We have to be sportive, keepin' chemistry with our partners, energetic, and focus on target ♥
                

Tuesday, 16 April 2013

Kids, you’re all such inspirations!



                Ah, sungguh aku benci mengatakan ini. Berulang kali aku mengatakan aku tak menyukai anak kecil. Tapi, kini aku sungguh harus mengatakan ini, “Kid such an inspiration!”. Tingkah mereka, ketulusan, senyum, keikhlasan, kepolosan dan semua dari mereka yang menginspirasi.
                Sore itu, aku cukup lemas dan badmood. Langkahku pelan, menjinjing tas yang agak berat dan menahan pening di kepala. Sambil mengangkat kepala dan kacamataku, tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang anak kecil dalam gendongan ibunya. Umurnya sekitar 3-4 tahun. Aku yakin wajahku sangat suram detik itu. Dia melihatku, lalu tersenyum.
                Satu kata, melegakan!
                Secara tak sadar saraf otonom ku bekerja dan aku membalas senyumnya. Alam bawah sadarku bekerja, moodku membaik, peningku berkurang dan bebanku terasa ringan. Ya, Tuhan. Bibirku tertahan pada posisi senyum. Ah, melegakan. Sungguh!
                Masih tentang anak kecil, malam ini sekitar pukul 20.00 aku pergi ke warung. Tanpa sengaja aku menyenggol anak kecil disamping kananku.
                “Maaf”, kataku pelan sambil memandangnya
                “Nggak apa-apa. Nggak minta maaf pun nggak apa-apa, mbak” jawabnya ringan sambil menggelayut pada kulkas coca-cola.
                “Nggak jatuh kan, dek?”
                “Nggak, kok” dia tersenyum. Lalu pergi
                Anak baik. Batinku. Orang tuanya pasti beruntung. Orang tuanya pasti bangga berhasil mendidik anak kecil yang luar biasa ini.
                Anak kecil. Banyak hal yang seharusnya remaja bahkan orang dewasa belajar dari mereka. Saat kata maaf terucap dari orang dewasa dan anak kecil menjawabnya tak apa, dia berhasil melakukan hal paling sulit di dunia ini “memaafkan”. Saat suntuk, bosan, banyak pikiran dan stress anak kecil pun berhasil memecah kebuntuan dengan tersenyum, melegakan. Sederhana. Tapi orang dewasa seakan melupakan hal sesederhana “maaf”, “memaafkan”, dan “tersenyum”. Tapi mereka “kids” are amazing. Thanks for the learning, kids! 

Saturday, 13 April 2013

untuk adik kesayangan

aku masih ingat 1 keinginanmu kira-kira 5 tahun yang lalu. kau ucapkan selamat atas kelulusanku dan keberhasilanku menjadi siswa putih abu-abu dari SMA Negeri 1 Jember. dan... kau titipkan doa padaku, kau minta aku mendoakanmu supaya tidak menjadi orang yang gagal untuk kedua kalinya. kau ingin menyusulku, 2 tahun setelahku ke sekolah yang sama. aku ingat. sangat ingat semua itu.

kini, aku melihatmu tumbuh dewasa. yang aku tau, pemikiranmu luar biasa. kreativitasmu membahana. bakatmu istimewa. aku yakin, kamu bisa meraih keinginanmu.

SEKOLAH BISNIS MANAJEMEN, INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

itu kan tujuanmu berikutnya? iya aku ingat. tahun lalu, di ulang tahunmu aku menanyakan akan kemana kau lanjutkan pendidikanmu. aku selalu ingat, dek. 

dek, tanpa kau pinta, aku akan mengingatmu. dan akan mengingat selalu permintaanmu. untuk mendokanmu. bukankah itu kewajibanku sebagai kakak?

ya, kelak kita akan berjumpa dipuncak! seeyou on top, jodie winanda.

kata Fahd Djibran

belajarlah dalam kesabaran Ayub
berjalanlah bersama keberanian Ibrahim
bacalah semesta melalui kecerdasan Sulaiman
taklukkan angkuh dunia dengan ketangguhan Musa
himpunlah semua kebijaksanaan Yakub
katakanlah kebenaran semerdu suara Daud
kasihilah sesama sepenuh cinta Isa
lalu masukilah kebeningan dirimu bersama ketakwaan Muhammad

Saturday, 6 April 2013

kedewasaan adalah pembunuh



                Semua tak tampak seperti biasa. Pagiku berbeda. Rasanya ada sepikul karung goni yang harus ku emban kemana-mana. Seperti ada beban yang harus ku tahan dipundak mungilku ini. Aku tak lagi bisa tertawa lepas, bernafas lega, ataupun berteriak bebas. Gerakku semakin terbatas. Aaah. Inikah kedewasaan?
                Mengapa kedewasaan membunuh kebebasan?
                Dulu, aku tak begini. Kira-kira 3 tahun yang lalu. Aku yakin aku tak begini. Aku tak begitu peduli apa yang orang bilang tentangku, gaya kepemimpinanku, nada bicaraku dan caraku menatapmu, hai kehidupan! Yang aku tahu, 3 tahun yang lalu, aku mencoba menjadi aku yang terbaik. Yang melakukan tanggung jawab dengan baik. Walaupun, aku belum bisa mengontrol emosiku. Argh. Aku tak peduli orang mengatakan aku galak. Sangat tak peduli. Kala itu. Ya, kala itu.
                Mengapa kedewasaan membuat gerakan terbatas?
                Detik ini, hampir berbeda 180 derajat. Aku tak lagi seperti dulu. Nada bicara, gayaku memimpin, caraku menatap kehidupan. Semua nyaris berbeda. Aku kehilangan sisi dimana aku bisa leluasa memaksakan kehendakku untuk tanggung jawab bersama. Diktatorku! Diktator yang membawa ekskul-ku dulu konsisten dan melahirkan adik-adik yang jauh lebih baik dari pada aku. Ahhh. Kemana sifatku yang itu?
                Orang bilang, menjadi dewasa itu pilihan.
                Memang, dengan kedewasaan ini aku semakin mengerti. Bahwa, setiap hal tak terjadi dengan sendirinya. Tapi... haruskah kedewasaan menghapus kemampuan? Haruskah kedewasaan membunuh kebebasan? Dan apakah dengan menjadi dewasa membuat gerak kita terbatas? Adakah yang mampu menjawabnya? Waktu? Bukan! Waktu adalah media atau masa untuk kita sampai kita sendiri yang menemukan jawabannya.
                Entah.

Friday, 5 April 2013

Roller Coaster


Perasaan itu bagaikan roller coaster. Ada beberapa yang berlintasan pendek, dan ada pula yang berlintasan panjang. Ada kalanya perasaan kita dalam kurun waktu yang pendek, artinya dia sementara. Di lain sisi dia dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. Dia berlintasan panjang seperti lintasan roller coaster. Ada juga yang naik perlahan dan turun dengan drastis. Ada puncak ada dasar. Ya, perasaan kita ibarat roller coaster. Bagaimana kita menyikapinya? Pun demikian. Dengan menikmati, takut, berteriak ataupun excited?
Masih dengan roller coaster. Badan roller coaster cukup panjang, dan saat ujung depan melintasi arena puncak ujung belakang masih ada dibawah. Ya, begitupun dengan perasaan. Saat dua orang kemudian berpasangan, salah satu merasakan puncak dari rasa itu tetapi yang lain? Masih berada di dasar.
Ada suatu titik dimana setiap orang merasakan bahagia saat bersama orang tertentu. Bahagia yang tak biasa. Begitu mungkin bisa kukatakan. Bahagia yang disertai efek kupu-kupu di perutnya J ah, hal itu adalah hal yang paling bisa membuat pipiku me-merah dengan sendirinya. Hahha. Bodoh! Sungguh tak ada yang bisa mengontrol efek kupu-kupu itu. Yang aku ingat, setiap aku bertemu dengan orang itu, ya orang itu, efek itu selalu muncul.
Kembali ke roller coaster.
Baiklah, kuakui. Perasaan ku sedang seperti roller coaster. Naik turun. Teriak, takut, senang dan menikmatinya. Berada di puncak dan sesekali di dasar. Sedih? Tidak. Itu lumrah! Bagaimana tidak kau merasakan jenuh? Bagaimana tidak kau tergoda bila ada orang yang lebih baik? Ya, bila dilogika-kan semua itu mungkin terjadi. Tapi sayangnya, hampir semua orang tak menggunakan logika saat sedang berada di puncak perasaan. Tunggu. Dari tadi kubilang perasaan, adakah yang memahami perasaan apa yang kumaksud?
Itulah perasaan sayang, cinta atau apalah kau menyebutnya.
Semoga roller coastermu segera sampai di titik perhentiannya, sehingga kadar perasaan mu dan pasanganmu juga setara  segeralah!

Yak!



Selamat pagi J
Sebelumnya, aku ingin berjabat tangan denganmu dan berterima kasih. Ya, kamu yang ada di situ. Yang sedari tadi menari-nari di otak dan hatiku, sehingga kini tanganku gemetar dan beranjak menuliskan apa yang aku rasakan di sini. Terimakasih telah menyebarkan senyum bahagia itu padaku, terimakasih untuk waktu luang yang tidak sengaja kita habiskan bersama, dan terimakasih untuk sedikit kepedulianmu untukku.
Detik ini aku hanya ingin tersenyum. Dan berbagi kebahagiaan pada semua orang. Ya, karena kamu. Cukup karena alasan kamu. Sederhana, ya? Ah. Maaf aku merasakan degup jantung yang berirama tak seperti biasa. Rasanya ada ketipung ber-ritme cepat yang ditabuh disini, diselingi petikan gitar damai serta alunan piano yang lembut. Ya, itu yang aku rasakan saat kita bisa menghabiskan waktu bersama. Senang, bersemangat, ceria tetapi tetap damai... J
Ah, maaf aku berlebihan. Kata orang, jatuh cinta itu boleh berkali-kali. Apa salahnya aku jatuh cinta berkali-kali padamu? Pada orang yang sama. Pada orang yang menemaniku selama ini. Ah, beruntungnya aku. Semoga kau pun merasa beruntung telah menghabiskan sedikit waktumu denganku.
Seeyou soon J

Monday, 1 April 2013

Lucky

Mungkin aku beruntung, punya mantan seperti kamu. Sedikit banyak, kau mengajarkanku arti berbagi. Walaupun dulu, kamu sempat bertingkah ala bocah yang memalukan. Lucu ya. Awalnya kita bersahabat. Lalu begitu saja kau bilang cinta. Stupid, me! You just too good for me! Walaupun kita harus mengakhiri status in relationship, tapi inilah yang aku yakini lebih nyaman untuk dijalani. Bodohnya, aku baru menyadari, bahwa kamu adalah salah satu orang paling baik di dunia ini.
Aku tak ingat siapa yang mengawali percakapan ini. Yang aku ingat adalah bahwa kita saling sapa. Aku bersyukur sekarang kita bisa seakrab ini. Walaupun, butuh waktu 3 tahun untuk kita bisa seperti ini. Dan aku paham kamu butuh 3 tahun juga untuk bisa move on. Maaf. Satu hal yang aku ingat dari percakapan kita beberapa minggu yang lalu, kau bilang "Kamu banyak berubah ya, nggak seperti dulu yang aku kenal". Entah aku merasa tersanjung. Ya, kau menyadarinya. Kau menyadari perubahanku. Apa kamu masih memperhatikanku? Semoga tidak. Semoga kamu hanya ingat sedikit kenangan kita. Hahaha. Melankolis banget aku ini -_______-

:)

Perasaan adalah hal yang tak nyata. 
Tapi sungguh dia ada. Diantara dua manusia. 
Yang lazim disebut cinta ♥

Principle

Run when you can, Walk if you must, Crawl if you have to. 
Just Never Give Up!

Happiness

Sesungguhnya, siapakah yang membuat kebahagiaan itu? Diri kita sendiri.
Ya. Itu sepenuhnya benar. Saat rasa syukur selalu kau hadirkan dalam tiap detik nyawa yang kau miliki, maka rasa bahagia akan selalu menyertai. Detik ini, aku merasakan kebahagiaan itu. Rasa bahagia yang timbul, karena sedikit waktu yang ku punya untuk melakukan kegiatan yang aku sukai. Menonton Bola. Hahah simple.
Sungguh, ada sisipan rasa bahagia malam ini. Yang tak sanggup aku ungkapkan hanya dengan kalimat-kalimat menyenangkan. Mungkin senyuman yang hanya bisa mewakili. Yah, cukup aku saja yang tau sebabnya.
Anyway, thanks Demba Ba! Congratulation Chelsea :)
 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com