Monday, 10 February 2014

kelemahan


Apa salahnya punya kelemahan?

Sedari tadi pertanyaan itulah yang berputar di otakku, bukan tidak menemukan jawabannya namun aku belum menemukan jawaban yang tepat.
Tadi pagi hasil tes psikologi yang beberapa hari lalu kuikuti telah keluar.  Dan hasilnya berisi sederet analisa kekuatan dan kelemahan. Psikolog yang menangani tes tersebut menjelaskan aku harus mencoba menyukai hal detail, harus menghilangkan kecerobohan, harus mencoba mengambil keputusan, tidak boleh ragu, dan masih banyak lagi hal-hal yang harus kulakukan. Hasil tes ini membuatku stress. Menurunkan semangatku, menurunkan energy positifku, serupa dengan dementor yang menghisap kebahagiaan dan memori indah, ya begitulah efek hasil tes itu.

Apa salahnya punya kelemahan?

Bukankah setiap orang ditakdirkan begitu? Kenapa masih dipermasalahkan? Kenapa terus menerus diperdebatkan? Kenapa harus membebani pikiran? Kertas hasil tes psikologi nyaris kumusnahkan. Namun batal. Mengingat biaya untuk mengambil tes tersebut harus menguras celengan ayamku yang harusnya aku gunakan untuk menonton klub bola favoritku. Aku mengorbankannya! Catat itu! Aku mengorbankannya!

Apa salahnya punya kelemahan?

                Aku terus menerus mencari jawaban. Mencoba mencari teori yang menguatkan bahwa tak ada salahnya punya kelemahan. Bertanya sana sini sehingga aku yakin bahwa kelemahan adalah bagian dari mutlak dari seorang manusia.
***
‘Bagaimana hasil tes psikologimu?’ Ibu bertanya padaku
‘Entah, Bu. Aku tidak ingin membicarakannya. Kalau ibu mau, silahkan baca sendiri hasilnya’ jawabku tak ada gairah sembari menyodorkan hasil tes itu. Ibuku membacanya, sebentar. Menutupnya. Mengembalikan padaku.
‘Kok cepet, Bu?’ tanyaku
‘Apa yang kau pusingkan?’ Tanya ibuku lagi
‘Apa salahnya punya kelemahan?’ tanyaku lagi. Ibu tersenyum, memainkan kalkulatornya sembari menghitung gaji anak buahnya
‘Tidak ada salahnya.’ Ibuku menjawab singkat
‘Lalu?’ aku tidak puas dengan jawaban ibuku
‘Apa yang kau inginkan dari jawaban Ibu, nak?’ kini ibu menatapku dan meletakkan kalkulatornya
‘Penguatan’ singkat jawabku
‘Apakah kamu belum menyadari, bahwa kini kamu sedang membiarkan kelemahanmu menang?’ ibuku memancing respon dariku
‘Maksud ibu, bagaimana?’ aku menunggu jawaban ibuku
‘Coba dengarkan Ibu, nak. Kenapa kamu ikut mempermasalahkan kelemahan yang kau miliki? Bukankah hasil tes ini menunjukkan kau punya kelebihan jauh lebih banyak dibanding kelemahanmu? Kenapa kau tak mempermasalahkan kelebihanmu? Kenapa?’ Ibuku menghujani pertanyaan untukku
‘Karena kelebihan tidak pernah dipermasalahkan, Bu! Dia kekuatan setiap manusia, sedangkan kelemahan, dia meruntuhkan manusia’ aku mencoba memberi penjelasan
‘Lalu, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau kesal?’ Ibuku bertanya lagi
‘Iya. Aku kesal. Hasil tes ini membuatku kesal, Bu! Aku punya banyak kelebihan seperti kata Ibu! Aku tau, aku sadar kelebihan itu’
‘Lalu, kau runtuh?’
‘……aku tidak bermaksud begitu bu’ aku melakukan pembelaan
‘Iya, kau runtuh sekarang. Karena kau memberikan ruang pada kelemahan. Padahal kau punya kekuatan. Kenapa kau tak manfaatkan kekuatanmu untuk mengalahkan kelemahanmu? Kenapa tak kau tutupi apa yang tidak kau punya dengan segala yang kau punya? Kenapa kau membiarkan kelemahanmu mengalahkan dirimu sendiri? Atau kau hanya butuh pengakuan diri?’ Ibu kembali menghujani pertanyaan.
‘Coba baca lagi hasil tes ini baris terakhir’ pinta Ibuku

Kelemahan: Ketakutan akan tidak mendapatkan pengakuan umum

Aku diam. Aku me-review percakapan dengan ibuku. Aku membaca lagi hasil tes psikologiku.

Aku tertunduk. Menyadari.

Kali ini aku kembali membiarkan kelemahanku menang dan terbahak menertawakanku

Saturday, 8 February 2014

21 syukur

Dulu seorang teman, pernah menanyakan padaku:
'Bagimu apa itu positif?' Spontan saja aku menjawab 'Positif adalah rasa syukur'
'Kenapa begitu?' Lanjutnya
'Aku tidak dapat menjelaskan. Bolehkah aku menjawab dengan memberikan gambaran?'
'Tentu, silahkan'...

Begini, teman....  

Menjadi seorang anak dari kedua orang tua yang tanpa pamrih mengasihi putra putrinya adalah sebuah anugerah,
Menjadi adik dari seorang kakak yang murah hatinya adalah sebuah berkah,
Memiliki keluarga yang utuh dan harmonis adalah hal yang lebih dari indah,

Menjadi sahabat orang hebat seperti mereka adalah sebuah dorongan,
Mempunyai panggilan keceng dari teman-teman yang buncit adalah hal yg dirindukan,
Membagi ilmu pada adik-adik seperti mereka adalah bentuk pengabdian,

Begitu aku menggambarkan padanya, dia melanjutkan pertanyaan,
'Hidupmu nampak sempurna dan bahagia, benar begitu?'
'Tidak' jawabku sembari tersenyum
'Lalu kenapa gambaran yang kau beri seolah-olah tak ada celah untuk duka, kecewa dan amarah?'
'Karena aku bersyukur' begitu aku katakan lagi padanya
Raut wajahnya bingung, masih belum memahami maksudku
'Singkatnya, bersyukur diawali dengan bagaimana kamu menerima apa yang terjadi padamu, apa yang ada di sekelilingmu, dan apa yang kau miliki dan tidak kau miliki'
'Hmm, lalu semudah itu bisa bersyukur?' 'Setelah kau menerima kondisimu, jangan tutup matamu dengan hal yang tidak kau ketahui. Karena kau akan semakin jauh dari rasa syukur. Carilah sisi positif dari apapun yang kamu alami. Dengan itulah kau tau alasan kenapa hal itu terjadi padamu. Ingatlah, sesulit apapun keadaan pasti ada kemudahan dibalik semua itu. Ingat, Tuhan telah mengatakan 'Bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan, dibalik kesulitan ada kemudahan' kau masih ragu?'
'Hmmm...'
'Hidup adalah bagaimana kamu memaknainya, memaknai syukurmu pada Yang Maha Kuasa. Hidup adalah bagaimana kau menempatkan syukur dan egomu, sejauh mana syukur dan ego berkompetisi menguasai hati. Berikan sedikit ruang pada ego, karena dia lah yang memberi dinamika kehidupan, namun beri ruang yang lebih luas untuk syukurmu, karena dia lah yang memberimu arti kehidupan'
Dia tersenyum...
'Syukurlah kau telah memahami apa maksudku'

Tasikmalaya, 8 Februari 2014.
Selamat 8 Februari 2014, Dwi Febrilia Anjarwati Rahayu. Bersyukurlah, berbahagialah!

Thursday, 6 February 2014

Bayang Pecundang



Aku penat sekali hari ini. Wajah kusut, badan kusut, pikiran kacau. Ah! Selepas mandi, aku bercermin. Mengatur wajahku, menata senyumku, mencoba mengembalikan mood ku. Mendadak aku terdiam. Menatap heran cermin di depanku. Ada yang tidak lazim. Bukankah lazimnya, pantulan cermin selalu mengikuti gerakan objek yang bercermin? Namun kali ini pantulan itu tidak begitu. Aku diam, dia menyeringai. Tatapannya sinis. Aku tak percaya. Bagaimana bisa bayangan tak patuh pada pemiliknya?
                ‘Kenapa kau heran begitu?’ Tanya bayanganku di cermin
                Aku masih terdiam. Takjub.
                ‘Kenapa tak kau jawab? Hey!’ Dia berteriak
                ‘Apa maksudmu? Kenapa tak mengikuti gerakanku?’ Tanyaku padanya
                ‘Aku tidak mau lagi jadi bayangmu’. Jawabnya
                ‘Haaa? Bagaimana bisa begitu? Tidak bisa! Kamu tetaplah bayanganku!’ Teriakku padanya
                ‘Aku tidak mau! Aku bosan!’ Dia kekeuh mempertahankan
                ‘Mana mungkin bayangan bisa bosan? Kamu tidak nyata!’ Aku tidak mau kalah
                ‘Karena itulah aku ingin jadi nyata!’ Kami masih berdebat
                Aku marah. Aku menunjuk ke arahnya. ‘Kamu, tidak akan bisa menggantikan posisiku! Aku yang nyata! Kamu yang maya! Camkan itu baik-baik!’
                ‘Itu sebabnya aku tidak mau menjadi bayanganmu lagi. Kamu arogan!’ tegasnya
                Aku masih marah.
                ‘Aku benci melihatmu arogan, merasa menjadi orang yang tidak dapat tergantikan, merasa benar tapi sering mentolerir kekhilafan, merasa hebat tapi selalu menjadi buntut orang lain, merasa kuat tapi selalu menunggu uluran tangan orang lain. Aku malu menjadi bayangmu!’ bayangan itu meluapkan emosinya
                ‘Apa maksudmu?’ tanyaku
                ‘Kau tak pantas jadi nyata!’ hinanya
                ‘Kamu yang tak pantas! Kamu selalu terjebak dalam cermin. Kamu selalu tak mampu keluar dari batas itu! Kamu selalu berada hanya bila ada cahaya dalam gelap. Kamu tidak bisa menjadi cahaya! Kamu selalu dibelakangku!’ aku juga meluapkan itu padanya. Enak saja dia menghinaku aku bisa membalasnya lebih. Batinku.
                Dia diam. Menatapku. Seperti hendak mengumpulkan energy untuk kembali menyerangku.
                Aku balas tatapannya menantang. Bersiap mengeluarkan cemooh untuknya
                ‘kamu keras kepala!’ kami bersamaan mengeluarkan kata-kata, kini gerakannya sama. Sesuai hokum pantulan cermin. Aku diam. Dia diam. Dia heran. Aku pun heran. Ekspresi kami kembali sama.
                APA INI????!!! Aku masih keheranan. Aku merasa aku menang. Iya, sepertinya aku menang. Aku kembali tersenyum. Bayanganku sudah kalah sepertinya. Hahaha.
                Aku menunjuk cermin, berteriak lantang ‘Kamu kalah, pecundang!’
                Dan bayanganku pun melakukan hal yang sama…
                Mungkin kami identik, atau mungkin kami sama saja?
Sama-sama pecundang…

Inspiring by, Dwi Febrilia Anjarwati Rahayu

Wednesday, 5 February 2014

#NP Dewa 19 – Kangen



Hai, kamu yang ada dalam hatiku, yang senyumnya lebih hangat dari sinar mentari pagi, yang setiap pagi memberi ucapan selamat pagi lengkap bersama emoticon titik dua bintang, yang tadi malam membuat jengkel, yang detik ini ada dalam lagu rindu yang kuputar.


Kuterima suratmu tlah ku baca dan aku mengerti…

Ah, lirik itu mengingatkanku pada suratku kemarin. Sudah kau terima, kan? Bagaimana rasanya menerima surat dariku? Bahagia bukan? Aaaa… J

Kau tanyakan padaku kapan aku akan kembali lagi…

Kau berulang kali bertanya, “kapan pulang?” dengan sabar aku berulang kali menjawab “sabar, tanggal 16 kita ketemu” diikuti emoticon senyum dan emoticon peluk bertubi-tubi. Haha. Dasar kebiasaan!

Kau katakan padaku saat ini ku ingin hangat pelukmu…

Disini hujan, lho. Aku jadi ingin susu cokelat panas. Ah, cokelat panas ya. Buatanmu. Seperti waktu itu. Aaah, rasanya tak ada duanya.  

Semua kata rindumu semakin membuatku, tak berdaya. Menahan rasa ingin jumpa. Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang…

Aaaah, liriknya mendayu-dayu sekali. Ini tanggal berapa? Tanggal 5 kan? 10 hari lagi aku pulang! Kamu bahagia? Aku sangaaat bahagia! Sepuluh hari lagi! Sepuluh! Se-pu-luh! Lalu kita berjumpa ya, janji? Janji ya jemput aku. Kamu harus sudah mandi, sudah rapi, sudah  tidak acak-acakan lagi. Dan ingat! Gendutan ya! Gen-du-tan! Lalu kita keliling kota ya, beli cokelat panas dan bersenang-senang!

Ah, finally lagunya habis…

Baiklah, I’ve to go now! Kamu baik-baik ya disana. Yang sabar ya menunggu tanggal 16.







Ah, this is really final…
I miss you, pa… a lot…

Tuesday, 4 February 2014

baris kata penanda asa



Kata teman saya, Ayu Yuni Afifah… Ada tiga kata yang tak boleh gengsi untuk diucapkan, “maaf, tolong, dan terimakasih”
Dulu, saya pejuang distancer. Haha. Begitu aku menyebut pejuang hubungan LDR. Cerita hubunganku berkali-kali nyaris terhenti hampir tak ada motivasi, namun seringkali bangkit karena komitmen diri, karena penguatan yang Tuhan beri, melalui Khariz yang baik hati :’)
Kata Khariz, selebtweet favorit saya, 
“LDR itu menguji diri sendiri, sejauh mana sanggup menjaga hati. Berusaha menepati, bahkan tanpa perlu berjanji”
Kalimat itu adalah penguatan. Hingga saya mampu bertahan, bertahan di bawah tekanan, bertahan bahkan walau tanpa adanya pengharapan. Menyedihkan, bukan? Hehe, tidak saya rasa itu bukan menyedihkan tapi sebuah perjanjian dalam hati, sebuah perjanjian dalam hubungan, dan perjanjian atas kalimat penguatan.
Beberapa waktu kalimat tersebut berhasil menjadi sebuah mantra, saat kerikil-kerikil tajam menjadi penghalang. Berkali juga penguatan itu berhasil menjadi cahaya, saat gelap datang mendera. Hingga saat itu tiba…. Saat dimana kalimat tersebut kehilangan makna, karena ulah manusianya…
Dengan berat hati, Khariz. Aku sampaikan… kini sudah tiba saatnya, mengucap kata maaf. Maaf Khariz, saya harus mengakhiri. Hubungan LDR yang sudah 4 tahun saya jalani. Maaf khariz, saya belum bisa menjaga konsistensi. Bukan berarti saya tidak menjaga hati. Terimakasih Khariz, telah menjadi salah satu penguatan. Setidaknya, walau tak lagi dapat dipertahankan, penguatanmu adalah pembelajaran. Penguatanmu memberikan harapan. Bagi saya berterimakasih padamu adalah kewajiban. Kamu pernah memberi saya effort untuk memperjuangkan. Tolong, Khariz tetaplah berbagi saran, bagi saya bagi mereka bagi semua yang membutuhkan, dan mendatangkan harapan.

To @karizunique selebtweet favorit saya!
visca barca? no! KEEP THE BLUE FLAG FLYING HIGH? YES! :D

Monday, 3 February 2014

laki-laki buncit dan perempuan berkacamata



                Ini kisah tentang seorang laki-laki buncit dan perempuan berkacamata.
Perempuan berkacamata melirik sinis lelaki buncit yang berlalu begitu saja tanpa memandangnya sedetik pun. Dia sangka laki-laki itu telah mencoret namanya dalam daftar sahabat laki-laki buncit. Dia pikir laki-laki buncit tak mau lagi bertegur sapa dengannya. Dia kira laki-laki buncit tidak ingin lagi sekedar melempar senyum untuknya.
Perempuan berkacamata tertunduk lesu. Tak ada lagi sisa keberanian yang biasanya lantang ia suarakan. Tak ada lagi gelegak tawa dan celoteh canda yang biasanya ia lontarkan untuk laki-laki buncit. Yang ada hanya gemetar, rasa takut, dan kekhawatiran. Perempuan berkacamata sadar betul telah melakukan kesalahan, dia telah membuat lelaki buncit berkorban banyak untuknya, untuk egonya. Berhari-hari keberanian tak kunjung muncul, hingga hitungan hari berubah menjadi minggu, bulan, dan tahun. Rasa bersalah yang tadinya dia pikir bisa hilang ditelan waktu, malah semakin tertanam, tertimbun, berkarat di dasar pikiran dan hatinya. Perempuan berkacamata hidup dalam rasa bersalah, rasa takut yang berlebih dan rasa sesal yang mendalam. Ia takut bangkit, ia takut melongok keluar jendela, rasanya kemilau dunia luar terlalu silau untuk disaksikan. Dia ingin menangis, dia ingin menjadi balita supaya dapat bebas merengek dan meminta maaf pada lelaki buncit.
Ini tahun kedua, perempuan berkacamata membenarkan posisi duduknya. Masih termenung, memandangi laki-laki buncit yang dia tau beban hidupnya melebihi beban berat badannya. Laki-laki buncit tanpa sengaja menoleh ke arahnya. Perempuan berkacamata menunduk, ragu untuk menyapanya. Laki-laki buncit seolah menangkap suasana hati perempuan berkacamata, dia beranjak dari kursinya dan menghampiri perempuan berkacamata.
Laki-laki buncit itu masih tersenyum ramah, diantara suasana kelabu hatinya. Dia masih mengulurkan tangan dan berkata “aku masih disini, kamu tidak sendiri, jangan takut” seolah telah tamat membaca ketakutan dibalik kacamata perempuan itu yang tak punya tempat untuk kembali. Perempuan berkacamata dengan gagap mengucap terimakasih, sembari mengembalikan sisa-sisa kekuatannya. Perlahan perempuan berkacamata tersenyum kecil dan laki-laki buncit membalas senyumannya lebih lebar. Perempuan berkacamata hanya bisa terbata, mengucap... “Ma…af”
Tak dia sangka….
Laki-laki buncit masih begitu hangat menerimanya….
Sebagai kakak, sebagai sahabat, sebagai keluarga….
Dan perempuan kacamata itu perlahan tersadar….
Laki-laki buncit itu salah satu tempat untuk pulang, saat luapan amarahnya nyaris tumpah. Laki-laki buncit itu adalah simbol kesederhanaan saat kilau kemegahan membuatnya lupa. Laki-laki itu panutan kebijaksanaan, dikala perempuan kacamata merasa angkuh. Laki-laki buncit itu adalah obat penenang, saat dia tergesa-gesa mengambil keputusan. Laki-laki buncit itu adalah bentuk lain dari keikhlasan, yang selalu mendidiknya untuk mampu menerima. Laki-laki buncit itu adalah insan bermuatan positif, panutannya.
Siapa laki-laki buncit itu? Dia adalah laki-laki yang penuh dengan kehangatan. Dia adalah laki-laki yang keras sifatnya namun lembut hatinya. Laki-laki buncit tadi adalah seorang kakak dari dua adiknya, seorang pemimpin yang rendah hati, penyabar, bijaksana, dan berhati besar, seorang teman yang selalu berusaha menenangkan, seorang mahasiswa yang selalu menghormati dosennya, seorang laki-laki buncit yang selalu gagal diet ocd nya tapi selalu sukses menjadi pemimpin. Apic Cahyo Purnomo. Nama yang indah sekali! Dalam Bahasa jawa, apic berarti bagus, cahyo adalah cahaya, purnomo adalah bulan purnama. Bila dirangkai nama itu berarti cahaya bulan purnama yang indah.
Dia selalu berjuang, untuk membuat orang lain tersenyum bahagia. Baginya, bahagia adalah saat orang lain bahagia. Dia selalu bersyukur, sesulit apapun  kondisinya. Dia selalu membangkitkan, saat yang lain menjatuhkan. Dia adalah apic, sahabatku, panutanku, kakakku, buncitku J
To bapak buncit @apiccahyo forgive me ya J

Sunday, 2 February 2014

ketiadaan



Jadi tiada itu sebenarnya ada kan? Lalu dimana letak ketiadaannya?

Aku membaca ulang kalimatmu. Menerka ulang apa maksud yang ada didalamnya. Bisa jadi dia bermakna luas ataupun tidak bermakna sama sekali.
Sesekali aku berfikir, apakah aku selalu berada di antara orang yang sungguh-sungguh mempesonaku? Orang yang sungguh-sungguh sulit untuk kugapai? Apa benar?
***
“Aku sudah punya pacar”
“Ya? Wah. Mas yang kau ceritakan itu?”
“Bukan! Kan aku sudah bilang itu cuma sesaat.”
“Lalu?”
“Kamu pasti tidak mengira”
“Satria?”
“…..”kamu mengangguk pelan, aku berekspresi datar. Hening beberapa detik, lalu bersuara.
“Wah, gimana ceritanya? Hahahah” tawaku menggelegak
“Panjang, dan kamu tau dia itu diluar perkiraan. Dia ngga sedingin yang aku bahkan kita bayangkan. Dia itu unyuuu!” kau antusias menceritakannya, aku antusias mendengarnya.
“ya jadi gitu… hahahah…”kau menceritakan panjang lebar tentang rasamu, rasa bahagiamu, bukan tentang detil kejadiannya, kau bahagia sekali.
***
Aku menarik nafas panjang. Kembali mengingat kata-katamu. Tentang ketiadaan. Inikah? Inikah yang kau maksud? Atau aku yang hanya mencoba mengaitkan dengan kejadian ini?
Iya, ketiadaan itu ada. Dia nyata. Lalu bagaimana kita menyadari dia tiada? Saat dia tidak lagi dapat dilihat? Didengar? Dirasa? Disentuh? Dicium?
Aku pernah berdoa, pada Tuhan, jika aku boleh memilih jodoh, sempat kupinta kamulah jodohku. Sempat aku sampaikan dalam doaku, “Tuhan, jika kau berkenan, izinkan aku mempunyai imam dia, imam sholatku kali ini”. Tak hanya sekali kupanjatkan, doa-doa itu.
***
“Dia bilang, terkadang kita tidak menyadari orang yang kita butuhkan adalah orang yang pertama kali terlintas dipikiran. Kita terus menerus mengejar orang yang kita inginkan, padahal kita sudah tau siapa yang kita butuhkan, hanya saja kita ngga sadar” begitu kamu bilang tentangnya
“Ohya? Itu emang bener. Menurutku juga begitu. Hahaha. Yaudah sih, kalian sudah menemukan yang kalian butuhkan” jawabku santai
“Kamu tau? Dia ituuuu unyuuuuuu banget!”
“Dimana letak keunyuannya?” tanyaku pendek
“Ahhhh! Pokoknya unyu gituuuu, aaaaah….” Kau kagum sekali tampaknya, dia sempurna sepertinya.
“Keep them happy God” doaku dalam hati
***
Ya, kini aku tau ketiadaan itu ada. Saat kau kehilangan harapan pada orang yang kau harap, saat kau tak lagi melihat dia dengan mata berbinar ke matamu, saat kau hanya bisa mendengar dia bahagia bersama yang lain, saat kau hanya mampu mendoakannya dalam ketiadaan, dalam diam, dalam sunyi, ketiadaan itu ada.
Jika sujiwo tedjo bilang puncak kangen sepasang kekasih adalah pada saat keduanya saling mendoakan, maka aku bilang puncak rasa seseorang adalah saat dia mendoakan kebahagiaan orang yang ia kasihi bersama orang lain.  J
Dunia ini sendiri pun lahir dari ketiadaan. Karena lahir dari ketiadaan, mengapa pula harus mencemaskan kehilangan? Ketiadaan itu meluaskan, kata Ibu, dan mempertemukan manusia dengan banyak hal, di antaranya cinta – Windy Ariestanty
 Inspired by - Windy Ariestanty, @sujiwotedjo and @RifqiPrasetyo

Saturday, 1 February 2014

angka dan satuan


Rasa itu merambati diri, mengakar di hati ini…
Sudah Februari rupanya. Januari berlalu begitu cepatnya. Memasuki angka tiga satuan bulan, kita bersama. Walau sebenarnya aku tidak suka menghitung, aku tidak suka dengan angka. Angka hanya membohongi, angka cenderung memanipulasi, angka seringkali membuat sakit hati, angka itu menyilaukan. Iya, benar angka sangat membuat sakit hati.
Ketahuilah saat ini aku sedang membuka menu pictures di blackberry bututku. Memandangi potret wajahmu dalam bingkai foto keluarga. Kamu, dua kakakmu, dan ayahmu. Perlahan bibirku tertarik ke kanan dan ke kiri. Menciptakan lekuk yang melegakan hati, dan bersyukur sekali. Lalu ku geser, berpindah potret selanjutnya, masih dengan lekuk bibir yang sama. Beberapa foto aku tersenyum, beberapa menyeringai, dan tepat pada foto itu… foto dimana ada pantulan wajahku dan dia… aku terdiam sebentar, terlintas aku ingat angka empat dalam satuan tahun yang terlewati, bersamanya… aku menjadi sulit bernafas, meringis, miris… angka empat, satuhan tahun yang kini sudah tidak lagi.
Tak berlama aku memandangi foto itu, aku menggeser track pad untuk kembali melihat potret wajahmu. Lagi-lagi lekuk melegakan itu tercipta. Rasanya berbeda, seperti kau sedang makan permen yang meledak-ledak di mulut, tapi ini meledak-ledak di hati. Meskipun umur hubungan masih pada angka tiga pada satuan bulan, aku cukup bahagia, aku cukup mendapat banyak pelajaran, dari kebersamaan kita. Hingga, aku menyadari bahwa detik Tuhan memang tidak pernah terlambat ataupun tidak pernah terlalu cepat. Terimakasih sudah menggenggam tanganku untuk menopangku berdiri, terimakasih telah mengajarkanku belajar memaknai, terimakasih telah bersama menciptakan lekuk-lekuk melegakan itu berulang kali. Aku ingin menciptakannya, lagi. Lagi. Lagi. Lagi… bersamamu…
Dan terimakasih lagi telah menyadarkanku bahwa angka tidak akan menentukan intensitas lekuk melegakan yang tercipta. Angka hanya sebatas bagaimana kita memaknainya.
Terimakasih untuk lekuk-lekuk melegakan, teruslah bersama menciptakan angka dan satuan berikutnya dalam kebersamaan @GalihSatriyaa ({ })
 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com