Apa salahnya punya
kelemahan?
Sedari tadi pertanyaan itulah yang
berputar di otakku, bukan tidak menemukan jawabannya namun aku belum menemukan
jawaban yang tepat.
Tadi pagi hasil tes psikologi yang
beberapa hari lalu kuikuti telah keluar. Dan hasilnya berisi sederet analisa kekuatan
dan kelemahan. Psikolog yang menangani tes tersebut menjelaskan aku harus mencoba
menyukai hal detail, harus menghilangkan kecerobohan, harus mencoba mengambil
keputusan, tidak boleh ragu, dan masih banyak lagi hal-hal yang harus kulakukan.
Hasil tes ini membuatku stress. Menurunkan semangatku, menurunkan energy positifku,
serupa dengan dementor yang menghisap kebahagiaan dan memori indah, ya
begitulah efek hasil tes itu.
Apa salahnya punya
kelemahan?
Bukankah setiap orang ditakdirkan
begitu? Kenapa masih dipermasalahkan? Kenapa terus menerus diperdebatkan? Kenapa
harus membebani pikiran? Kertas hasil tes psikologi nyaris kumusnahkan. Namun batal.
Mengingat biaya untuk mengambil tes tersebut harus menguras celengan ayamku
yang harusnya aku gunakan untuk menonton klub bola favoritku. Aku mengorbankannya!
Catat itu! Aku mengorbankannya!
Apa salahnya punya
kelemahan?
Aku terus
menerus mencari jawaban. Mencoba mencari teori yang menguatkan bahwa tak ada salahnya
punya kelemahan. Bertanya sana sini sehingga aku yakin bahwa kelemahan adalah
bagian dari mutlak dari seorang manusia.
***
‘Bagaimana hasil tes psikologimu?’ Ibu bertanya padaku
‘Entah, Bu. Aku tidak ingin membicarakannya. Kalau ibu mau,
silahkan baca sendiri hasilnya’ jawabku tak ada gairah sembari menyodorkan
hasil tes itu. Ibuku membacanya, sebentar. Menutupnya. Mengembalikan padaku.
‘Kok cepet, Bu?’ tanyaku
‘Apa yang kau pusingkan?’ Tanya ibuku lagi
‘Apa salahnya punya kelemahan?’ tanyaku lagi. Ibu tersenyum,
memainkan kalkulatornya sembari menghitung gaji anak buahnya
‘Tidak ada salahnya.’ Ibuku menjawab singkat
‘Lalu?’ aku tidak puas dengan jawaban ibuku
‘Apa yang kau inginkan dari jawaban Ibu, nak?’ kini ibu
menatapku dan meletakkan kalkulatornya
‘Penguatan’ singkat jawabku
‘Apakah kamu belum menyadari, bahwa kini kamu sedang membiarkan
kelemahanmu menang?’ ibuku memancing respon dariku
‘Maksud ibu, bagaimana?’ aku menunggu jawaban ibuku
‘Coba dengarkan Ibu, nak. Kenapa kamu ikut mempermasalahkan
kelemahan yang kau miliki? Bukankah hasil tes ini menunjukkan kau punya kelebihan
jauh lebih banyak dibanding kelemahanmu? Kenapa kau tak mempermasalahkan
kelebihanmu? Kenapa?’ Ibuku menghujani pertanyaan untukku
‘Karena kelebihan tidak pernah dipermasalahkan, Bu! Dia
kekuatan setiap manusia, sedangkan kelemahan, dia meruntuhkan manusia’ aku
mencoba memberi penjelasan
‘Lalu, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau kesal?’ Ibuku
bertanya lagi
‘Iya. Aku kesal. Hasil tes ini membuatku kesal, Bu! Aku punya
banyak kelebihan seperti kata Ibu! Aku tau, aku sadar kelebihan itu’
‘Lalu, kau runtuh?’
‘……aku tidak bermaksud begitu bu’ aku melakukan pembelaan
‘Iya, kau runtuh sekarang. Karena kau memberikan ruang pada
kelemahan. Padahal kau punya kekuatan. Kenapa kau tak manfaatkan kekuatanmu
untuk mengalahkan kelemahanmu? Kenapa tak kau tutupi apa yang tidak kau punya
dengan segala yang kau punya? Kenapa kau membiarkan kelemahanmu mengalahkan
dirimu sendiri? Atau kau hanya butuh pengakuan diri?’ Ibu kembali menghujani
pertanyaan.
‘Coba baca lagi hasil tes ini baris terakhir’ pinta Ibuku
Kelemahan: Ketakutan akan tidak mendapatkan pengakuan umum
Aku diam. Aku me-review percakapan dengan ibuku. Aku membaca
lagi hasil tes psikologiku.
Aku tertunduk. Menyadari.
Kali ini aku kembali
membiarkan kelemahanku menang dan terbahak menertawakanku