Manusia, makhluk paling sempurna,
yang seringkali merasa tak sempurna…
Seringkali aku bercermin, lalu
menghela nafas panjang, lalu… kecewa…
Mengapa aku tidak secantik dia?
Seringkali aku melihat hidupnya,
penuh bahagia, berkeliling Indonesia tanpa risau masalah biaya..
Andai aku seperti dia…
Manusia, makhluk paling sempurna,
yang tak pernah bertingkah sempurna…
Tak jarang aku menggerutu bila
kau bercengkrama dengannya…
Tak jarang muncul rasa benci jika
kalian asyik bicarakan hal yang sama…
Tak jarang hati ini memaki
ungkapkan rasa kesal ku padanya…
Tak jarang lidah ini mengutuk
tentang kau dan dia…
Manusia, makhluk paling sempurna,
yang (mungkin) butuh disempurnakan…
Terkadang muncul rasa bersalah
yang merambat sesali pikiran buruk yang menguasai, tentang kau dan dia,
Terkadang logika juga lelah
memperhitungkan sakit hati yang kualami, masih tentang kau dan dia,
Terkadang hati merelakan segala
yang terjadi tentang kau dan dia,
Tapi, terkadang aku sadar atas
apa yang ku alami, aku butuh berbenah diri atas penyakit hati ini dengan dekatkan diri pada Illahi Rabbi tuk sempurnakan
hidup di dunia ini…
Manusia, makhluk sempurna?
Itukah aku?
Itukah kamu?
Ataukah kita semua?
Mungkin manusia memang sempurna
atas akal, tapi hati?
Pantaskah “sempurna” berlaku untuk
kita?
Malang, 19 Agustus 2015 14.38
