Selamat malam, Tuhan.
Kau disana, bukan? Malam ini aku
ingin sekali bercerita, adakah Kau mendengarku?
Sebentar, Tuhan. Rasanya ada yang
hilang. Bolehkah aku mencarinya terlebih dahulu?
Hai, Tuhan. Aku kembali lagi, aku
ingin bercerita.
Tapi, maaf Tuhan. Aku belum
menemukan sesuatu yang hilang itu.
Terimakasih, Kau mau menungguku
mencarinya.
Namun aku rasa sesuatu itu sudah
pergi. Dan ada yang terbawa bersamanya.
Bisakah kusebut ini dialog,
Tuhan?
Aku bosan dengan sebutan pengaduan,
keluhan, atau apalah itu namanya.
Aku ingin berdialog denganmu,
bisakah, Tuhan?
Ah. Sebentar Tuhan, sepertinya
aku mengingat sesuatu yang hilang itu.
Iya!
Benar!
Aku ingat!
Rasanya, aku kehilangan
seseorang, Tuhan.
Kenapa kau biarkan aku
kehilangannya, Tuhan?
Bukankah Kau yang mempertemukan
kami?
Mengapa kini Kau menjauhkan kami,
Tuhan?
Rasanya, ada yang hilang, Tuhan.
Walau semuanya tampak wajar-wajar
saja.
Walau senyum masih ada di raut
muka.
Tapi, Tuhan…
Tapi…
Tak bisakah aku meminta
perpanjangan waktu?
Ya, memang…
Memang cara kami berdoa tidaklah
sama.
Kami tidak pergi ke tempat ibadah
yang sama.
Tapi…
Tapi, Tuhan…
Tapi, aku tau ini kehendak-Mu…
Tuhan,
Jika memang yang terbaik adalah
kami tidak bersama,
Bolehkah aku panjatkan doa-doa
untuknya?
Lindungi dia, kasihi dia, berilah
dia kesehatan, dan kemurahan hati.
Bahagiakan dia, peluklah dia
selalu Tuhan, berikan ketenangan dan kejernihan hati untuknya.
Amin, aamiin, aamiin…
Sampaikah doaku?
Sampaikah doaku untuknya?
Walau cara kami berdoa berbeda?
.jpg)