Tuesday, 30 September 2014

Tuhan, sampaikah doaku?



Selamat malam, Tuhan.
Kau disana, bukan? Malam ini aku ingin sekali bercerita, adakah Kau mendengarku?
Sebentar, Tuhan. Rasanya ada yang hilang. Bolehkah aku mencarinya terlebih dahulu?



















Hai, Tuhan. Aku kembali lagi, aku ingin bercerita.
Tapi, maaf Tuhan. Aku belum menemukan sesuatu yang hilang itu.
Terimakasih, Kau mau menungguku mencarinya.
Namun aku rasa sesuatu itu sudah pergi. Dan ada yang terbawa bersamanya.
Bisakah kusebut ini dialog, Tuhan?
Aku bosan dengan sebutan pengaduan, keluhan, atau apalah itu namanya.
Aku ingin berdialog denganmu, bisakah, Tuhan?
Ah. Sebentar Tuhan, sepertinya aku mengingat sesuatu yang hilang itu.
Iya!
Benar!
Aku ingat!

Rasanya, aku kehilangan seseorang, Tuhan.
Kenapa kau biarkan aku kehilangannya, Tuhan?
Bukankah Kau yang mempertemukan kami?
Mengapa kini Kau menjauhkan kami, Tuhan?

Rasanya, ada yang hilang, Tuhan.
Walau semuanya tampak wajar-wajar saja.
Walau senyum masih ada di raut muka.
Tapi, Tuhan…
Tapi…
Tak bisakah aku meminta perpanjangan waktu?

Ya, memang…
Memang cara kami berdoa tidaklah sama.
Kami tidak pergi ke tempat ibadah yang sama.
Tapi…
Tapi, Tuhan…
Tapi, aku tau ini kehendak-Mu…

Tuhan,
Jika memang yang terbaik adalah kami tidak bersama,
Bolehkah aku panjatkan doa-doa untuknya?
Lindungi dia, kasihi dia, berilah dia kesehatan, dan kemurahan hati.
Bahagiakan dia, peluklah dia selalu Tuhan, berikan ketenangan dan kejernihan hati untuknya.
Amin, aamiin, aamiin…

Tuhan,
Sampaikah doaku?
Sampaikah doaku untuknya?
Walau cara kami berdoa berbeda?


Monday, 1 September 2014

Masa depan




Jika masa depan dapat diterka, maka untuk apa mengira-ngira?
                Aku masih ingat betul, momen pertama kali kita bertemu. Aku masih ingat betul dimana tempat aku pertama kali melihatmu. Dan aku masih mengingat dengan sangat jelas ajakan pertamamu. Semuanya, tentangmu terekam dengan jelas di otakku…

Jika masa depan adalah kumpulan kemungkinan terbaik dan terburuk, aku rasa kita juga turut menciptakan masa depan…
                Pertama kali aku melihatmu, aku percaya kamu dan aku akan menjadi dekat. Pertama kali aku menyadari ada rasa itu, aku merasakan ketidakmungkinan. Hingga saat pertama kali jemarimu menggenggam jemariku, aku memahami Tuhan berkehendak dalam setiap langkah umatNya.

Jika masa depan adalah kita, lalu adakah pengertian ‘aku’ dan ‘kamu’ sebagai individu yang utuh?
                Aku mengharapkan, masa depan adalah kita. Dua individu yang bersama, menyatu, seirama. Aku menginginkan masa depan adalah kita, dua aliran air yang bertemu pada sebuah muara. Aku berdoa masa depan adalah kita, semburan warna yang membentuk degradasi keindahan. Namun  kita harus terhadang oleh definisi bahwa kita harus tercipta akan persamaan dan perbedaan. Persamaan yang sejalan dan perbedaan yang saling melengkapi. Kita hanyalah perbedaan yang saling melengkapi secara utuh, namun kita bukanlah persamaan yang sejalan. Maka kita bukanlah kita, kita hanya sebagian kita dan sebagian ‘aku’ dan ‘kamu’ sebagai individu yang utuh.

Jika masa depan adalah keindahan, bolehkah waktu terhenti sebelum Rabu, 27 Agustus 2014?

Aku mungkin tidak menginginkan keindahan jika keindahan itu bukan kamu….
 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com