Sunday, 17 February 2013

Welcome New Leader!


21-12-12
Malam ini, aku bahagia. Entah kenapa bisa sebahagia ini. Ada banyak dugaan penyebabnya. Tapi yang jelas aku merasakan sebuah kelegaan dan sebuah awal baru disini. Inbis UB lantai 4. Master of ceremonial bersama Fandy AL. Ketika sebuah keraguan mulai terpatahkan melihat euforia pemimpin baru yang tampaknya berkomitmen. Entah bagaimana nanti realisasi dari semuanya. Yang jelas percayakan saja pada mereka, New Leaders!
Malam ini, aku sedih. Bila diizinkan untuk menangis, mungkin aku akan menangis. Entah kenapa bisa sesedih ini. Yang aku tau, salah satu penyebabnya adalah aku merasa kehilangan di tengah euforia memiliki. Memiliki “mereka” yang sangat dekat denganku. Siapa “mereka”? Mereka adalah pemimpin periode sebelumnya, yang baru saja melepaskan jabatan kepada New Leader-nya. Beberapa orang yang sudah aku kenal lama, dan bahkan yang baru aku kenal sekalipun. Seperti “Kahim”, “Presiden BEM”, “Ketum Seni” dan “DPM”.
Rifki Mustofa Rodhi, sosok ketua himpunan yang aku nilai sangat sukses dalam memimpin. Dia tidak hanya berhasil merubah diri sendiri. Tetapi, dia juga berhasil merubah Himpunan. Suasana kekeluargaan di Himpunan menjadi lebih nyata karenanya. Konsep kekeluargaan yang kental dari kepemimpinannya, membuat sebagian besar orang tertarik bekerja sama dengannya. Beberapa teman mulai menanyakan “Kalo tahun depan aku masuk himpunan, gimana?” Aku rasa penyebabnya hanya 1, Rifki Mustofa Rodhi, jajaran Pengurus Hariannya, pengurus non harian dan elemen yang terlibat. Satu? Bukannya tadi aku bilang hanya 1 penyebabnya? Itu bukan satu! Hahaha. Sisi lainku menjawab, Rifki Mustofa Rodhi, jajaran Pengurus Hariannya, pengurus non harian dan elemen yang terlibat adalah satu kesatuan yang tidak pernah bisa dilepaskan. Sosoknya yang selalu berusaha selalu ada untuk kami. Terutama untukku. Dia memberiku kepercayaan, dan kesempatan. Om Tongki, begitu aku memanggilnya. Sebutan itu kudapat bersama enggar dayaningtyas saat kami bertugas ke Bali J Aku sangat menghormatinya dan pasti akan sangat merindukan gaya kepemimpinannya sebagai seorang kahim yang sangat mengayomi adik-adiknya.
Yang kuingat malam itu aku belajar banyak hal, salah satunya aku dapat saat aku berbincang dengan mas Agi Arinta ketua DPM periode 2011-2012. Berikut percakapanku dengannya :
Difar      : Mas, Mas Agi sedih nggak?
Mas Agi                : Nggak, Far.
Difar      : Sama sekali?
Mas Agi                : Iya, Cuma ada rasa nggak puas.
Difar      : Maksudnya?
Mas Agi                : Semua proker telaksana, tapi ada yang tidak sesuai sama hatiku. Keinginanku.
Difar      : Jadi ngganjel gitu mas?
Mas Agi                : Iya. Banget.
Difar      : Emang apa yang ngganjel mas?
Mas Agi                : Kae lo, Far. Nggonmu, pemimpine. Beh, iku nggak sesuai keinginanku blass.
Difar      : Nggonku sing endi iki mas?
Mas Agi                : Kuwi lo
Difar      : Bem opo Himpunan?
Mas Agi                : Loro karone, beh. Kabehane.
Difar      : Lha piye meneh, Mas. Sing penting lak yo mari.
Mas Agi                : Iyo. Tapi onok maknae, Far.
Dan pembicaraan pun terhenti. Aku hanya bisa tersenyum. Sedikit mencerna kata-katanya. Dan kemudian aku mendapatkan arti dari semua perkataannya itu. Kurang lebih intinya begini, Menjadi seorang pemimpin itu harus berperan sebagai dua sosok sekaligus. Yang pertama, sosok pemimpin, dan kedua sosok manusia biasa, dalam hal ini mahasiswa yang punya ego, nafsu dan keinginan. Harus ada jalan tengah atau peredam di dalam diri ketika dua sosok itu muncul secara bersamaan. Secara profesionalitas, semua proker terlaksana dengan pencapaian target yang penuh. Tapi, tentunya walaupun hal itu adalah sebuah pilihan dari “khalayak ramai ataupun forum”, belum tentu itu sesuai dengan keinginan pemimpinnya. Peredaman ego adalah saat kita sebagai pemimpin harus menyatakan “good job” padahal dalam hati hal itu bukan kehendaknya. Butuh suatu kebijaksanaan untuk menjadi seorang pemimpin. Kebijaksanaan yang diperoleh saat jatuh bangun bangkit merangkak dan harus mengais untuk kembali bangkit. Menjadi pemimpin adalah menjadi sosok yang harus siap didengar, dan siap mendengar. Singkat, tapi bermakna luas. Itulah mas Agi. Kata-katanya selalu singkat, dan seolah mempermudah setiap pekerjaan. Dia selalu memberi solusi nyata atas sebuah permasalahan. Dia bukan sosok yang “mbelibet” tapi dia sosok yang praktis, sederhana dan charming. Omongannya kadang “nyelekit” tapi maknanyaaaa.... Tingkahnya kadang diam, kadang berantakan. Tapi dia selalu diinginkan kehadirannya dalam setiap rapat. Oh, man! I’ll miss him too. L

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com