Jika masa depan dapat diterka, maka untuk apa mengira-ngira?
Aku
masih ingat betul, momen pertama kali kita bertemu. Aku masih ingat betul
dimana tempat aku pertama kali melihatmu. Dan aku masih mengingat dengan sangat
jelas ajakan pertamamu. Semuanya, tentangmu terekam dengan jelas di otakku…
Jika masa depan adalah kumpulan kemungkinan terbaik dan terburuk, aku
rasa kita juga turut menciptakan masa depan…
Pertama
kali aku melihatmu, aku percaya kamu dan aku akan menjadi dekat. Pertama kali aku
menyadari ada rasa itu, aku merasakan ketidakmungkinan. Hingga saat pertama
kali jemarimu menggenggam jemariku, aku memahami Tuhan berkehendak dalam setiap
langkah umatNya.
Jika masa depan adalah kita, lalu adakah pengertian ‘aku’ dan ‘kamu’
sebagai individu yang utuh?
Aku
mengharapkan, masa depan adalah kita. Dua individu yang bersama, menyatu,
seirama. Aku menginginkan masa depan adalah kita, dua aliran air yang bertemu
pada sebuah muara. Aku berdoa masa depan adalah kita, semburan warna yang
membentuk degradasi keindahan. Namun
kita harus terhadang oleh definisi bahwa kita harus tercipta akan
persamaan dan perbedaan. Persamaan yang sejalan dan perbedaan yang saling
melengkapi. Kita hanyalah perbedaan yang saling melengkapi secara utuh, namun
kita bukanlah persamaan yang sejalan. Maka kita bukanlah kita, kita hanya
sebagian kita dan sebagian ‘aku’ dan ‘kamu’ sebagai individu yang utuh.
Jika masa depan adalah keindahan, bolehkah waktu terhenti sebelum Rabu,
27 Agustus 2014?
Aku mungkin tidak menginginkan keindahan jika keindahan itu bukan
kamu….
0 comments:
Post a Comment