Semua
tak tampak seperti biasa. Pagiku berbeda. Rasanya ada sepikul karung goni yang
harus ku emban kemana-mana. Seperti ada beban yang harus ku tahan dipundak
mungilku ini. Aku tak lagi bisa tertawa lepas, bernafas lega, ataupun berteriak
bebas. Gerakku semakin terbatas. Aaah. Inikah kedewasaan?
Mengapa
kedewasaan membunuh kebebasan?
Dulu,
aku tak begini. Kira-kira 3 tahun yang lalu. Aku yakin aku tak begini. Aku tak
begitu peduli apa yang orang bilang tentangku, gaya kepemimpinanku, nada
bicaraku dan caraku menatapmu, hai kehidupan! Yang aku tahu, 3 tahun yang lalu,
aku mencoba menjadi aku yang terbaik. Yang melakukan tanggung jawab dengan
baik. Walaupun, aku belum bisa mengontrol emosiku. Argh. Aku tak peduli orang
mengatakan aku galak. Sangat tak peduli. Kala itu. Ya, kala itu.
Mengapa
kedewasaan membuat gerakan terbatas?
Detik
ini, hampir berbeda 180 derajat. Aku tak lagi seperti dulu. Nada bicara, gayaku
memimpin, caraku menatap kehidupan. Semua nyaris berbeda. Aku kehilangan sisi
dimana aku bisa leluasa memaksakan kehendakku untuk tanggung jawab bersama. Diktatorku!
Diktator yang membawa ekskul-ku dulu konsisten dan melahirkan adik-adik yang jauh
lebih baik dari pada aku. Ahhh. Kemana sifatku yang itu?
Orang
bilang, menjadi dewasa itu pilihan.
Memang,
dengan kedewasaan ini aku semakin mengerti. Bahwa, setiap hal tak terjadi
dengan sendirinya. Tapi... haruskah kedewasaan menghapus kemampuan? Haruskah kedewasaan
membunuh kebebasan? Dan apakah dengan menjadi dewasa membuat gerak kita
terbatas? Adakah yang mampu menjawabnya? Waktu? Bukan! Waktu adalah media atau
masa untuk kita sampai kita sendiri yang menemukan jawabannya.
Entah.
0 comments:
Post a Comment