Saturday, 6 April 2013

kedewasaan adalah pembunuh



                Semua tak tampak seperti biasa. Pagiku berbeda. Rasanya ada sepikul karung goni yang harus ku emban kemana-mana. Seperti ada beban yang harus ku tahan dipundak mungilku ini. Aku tak lagi bisa tertawa lepas, bernafas lega, ataupun berteriak bebas. Gerakku semakin terbatas. Aaah. Inikah kedewasaan?
                Mengapa kedewasaan membunuh kebebasan?
                Dulu, aku tak begini. Kira-kira 3 tahun yang lalu. Aku yakin aku tak begini. Aku tak begitu peduli apa yang orang bilang tentangku, gaya kepemimpinanku, nada bicaraku dan caraku menatapmu, hai kehidupan! Yang aku tahu, 3 tahun yang lalu, aku mencoba menjadi aku yang terbaik. Yang melakukan tanggung jawab dengan baik. Walaupun, aku belum bisa mengontrol emosiku. Argh. Aku tak peduli orang mengatakan aku galak. Sangat tak peduli. Kala itu. Ya, kala itu.
                Mengapa kedewasaan membuat gerakan terbatas?
                Detik ini, hampir berbeda 180 derajat. Aku tak lagi seperti dulu. Nada bicara, gayaku memimpin, caraku menatap kehidupan. Semua nyaris berbeda. Aku kehilangan sisi dimana aku bisa leluasa memaksakan kehendakku untuk tanggung jawab bersama. Diktatorku! Diktator yang membawa ekskul-ku dulu konsisten dan melahirkan adik-adik yang jauh lebih baik dari pada aku. Ahhh. Kemana sifatku yang itu?
                Orang bilang, menjadi dewasa itu pilihan.
                Memang, dengan kedewasaan ini aku semakin mengerti. Bahwa, setiap hal tak terjadi dengan sendirinya. Tapi... haruskah kedewasaan menghapus kemampuan? Haruskah kedewasaan membunuh kebebasan? Dan apakah dengan menjadi dewasa membuat gerak kita terbatas? Adakah yang mampu menjawabnya? Waktu? Bukan! Waktu adalah media atau masa untuk kita sampai kita sendiri yang menemukan jawabannya.
                Entah.

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com