Sebelumnya, beri kesempatan aku berdoa. Sebelum kita benar-benar tidak lagi saling menemani, “Semoga kelak, di kehidupan selanjutnya, aku melihatmu berbahagia, kita di tempat yang sama, yang penuh nyanyian, yang penuh kedamaian”
Aku mengagumimu, tanpa tanda
baca. Tanpa titik, koma, tanda seru ataupun tanda tanya. Ketika aku
meng-iya-kan teori bahwa bahagia itu sederhana, pembuktiannya ada padamu. Ada
pada kebiasaanmu padaku, ada pada uluran tanganmu, ada pada senyummu. Begitu
pun ketika aku meng-iya-kan bahwa bahagia tidak semudah membalik telapak
tangan, pembuktiannya juga ada padamu. Ada pada amarahmu, ada pada
ketidakpedulianmu, ada pada keacuhanmu.
Kalau ftv menampilkan cerita
tentang love at the first sight, kisah kita kusebut click at the first
invitation. Terlalu panjang jika semuanya kutuliskan. Yang mungkin bisa
kuceritakan adalah rasa yang terlebih tak dapat dideskripsikan hanya melalui
rangkaian kata. Rasaku padamu. Rasamu padaku. Rasa kita berdua.
Tak dapat dilogika, bahwa dua
manusia yang tercipta berbeda, kemudian saling berjumpa, dan saling mengasihi. Aku
mengagumimu dengan kadar yang cukup. Cukup untuk selalu bersyukur, cukup untuk
selalu berbahagia, cukup untuk selalu berbagi, dan cukup untuk selalu berdoa
untuk ku, untuk mu, untuk kita, dan semua orang yang kita kasihi.
Mengenalmu bukan hal yang
kuanggap luar biasa. Tapi lebih mengenalimu, mengetahui lebih jauh tentang
dirimu, dan membiarkanmu memperlakukanku seperti yang kamu inginkan adalah hal yang
lebih dari sekedar luar biasa. Bahkan, seolah aku berada dalam sebuah alur
cerita yang maju-mundur. Hingga aku merasa bahwa kita telah saling mengenal
satu sama lain sejak dulu, jauh sebelum kita bertemu. Padahal, yang kubilang
sejak dulu itu adalah mimpiku. Ya, sama seperti mimpiku waktu itu. Kita berdua
di dapur, aku menyiapkan makan malam untukmu dan kau memelukku dari belakang,
manja. Persis. Sama persis seperti mimpi itu. Are you the chosen one?
Terlalu banyak hal sederhana yang
memikat. Memikat erat kekagumanku padamu pada tali yang saling menyambungkan
kita. Tentang perbedaan? Aku tak punya jawaban. Bahkan aku tak berniat menerka
masa depan. Menebak-nebak apa yang akan terjadi pada kita berdua, kelak. Meramal
masa depan hubungan kita. Ah, aku tak berniat demikian. Selama kita masih dapat
saling menguatkan, membahagiakan, mengingatkan, apakah sebuah kesalahan jika
kita terus bergandengan?
Sekali lagi, aku mengagumimu tanpa
tanda baca. Semoga kita akan terus berada dalam lindungan-Nya.
Untuk siapapun yang
memiliki rasa, pada dia yang berbeda - Aq
0 comments:
Post a Comment