Selamat malam, ketiadaan.
Malam ini, kita
kembali bersua. Katamu, kita sudah lama tidak berbicara. Benar, tidak hanya
kamu yang merasa begitu, aku pun juga merasa begitu. Kau tanyakan waktu
longgarku, sedikit tertarik sudut-sudut bibirku, tapi tersadar aku tak boleh
berekspektasi lebih. Demi aku, demi kalian. Aku sadar kau tak butuh klarifikasi
tentang kita yang tidak bicara dalam beberapa waktu. Tapi, aku hanya ingin
menulisnya disini, ketiadaan. Supaya semua yang telah berekspektasi buruk
terhadapku tidak serta merta menghakimi dengan opini yang terbentuk oleh publik
J
Aku sengaja tidak terlibat di sisi manapun, karena aku ingin menghentikan paradigma orang yang selalu mengarah bahwa aku mendukung 1 pihak yang kau tau itu siapa. Aku sengaja mengasingkan diri sejenak, untuk diam dan berpikir apa yang baik dan tidak baik untuk kalian untuk kita untukku untuk mereka. Aku berusaha mencari jalan keluar sampai pada saat ini aku hampir mneyimpulkan bahwa kau, aku, mereka dan kalian semua adalah individu-individu yang sama-sama memiliki batas, ego, dan cara yang unik. Hanya dari aku, kamu, mereka dan kalian yang tidak semuanya mampu menerima batas, ego dan cara yang dimiliki orang lain sehingga muncullah paradigm-paradigma yang hanyalah kata lain dari prasangka buruk.
Aku lelah berprasangka, jujur saja ku katakan. Bahkan orang special nomor 1 ku tahun 2012 sampai turun tangan dan menghina ku, aku tetap saja lelah untuk berprasangka. Bahkan mereka menyindirku mati-matian pun aku tetap diam saja. Mungkin ada yang belum aku ceritakan kepadamu, ketiadaan. Kemarin mereka sempat menawariku singgasana, megah, dan terpandang. Aku enggan. Aku tak tergiur. Aku tak memiliki nafs (nafsu) untuk menududukinya. Aku hanyalah aku, dengan pemikiran yang tak semua orang mengerti bahkan tak semua ku mengerti pemikiranku itu. Haha. Rumit ya, ketiadaan. Mungkin mereka pikir aku akan mengikuti jalan yang mereka buka. Mereka pinta lakukan atas nama orang banyak, atas nama mereka. Apakah mereka cukup mewakili “mereka yang sesungguhnya”?
Hai, ketiadaan. Entah
ini keberapa kalinya aku harus mengakui bahwa aku menyetujui Fahd DJibran. Dia bilang,
bahwa hidup tidak ditentukan dari pilihan orang banyak kan? Hidup tidak
ditentukan oleh keramaian. Dan aku membuktikannya. Hidupku, aku lah yang
menentukan. Di samping takdir yang digariskan olehNya. Biarkan sejenak aku
merasa terasing, karena terkadang di tengah keramaian kita lupa jati diri, kita
terlalu hektik dengan hiruk pikuk, hingga pada waktu yang tepat aku akan
kembali, pada kalian, pada mereka, mengabdikan diriku padaNya.
Maafkan aku,
ketiadaan. Jika aku menyita waktumu. Jika aku kemudian membuatmu merasa
terganggu. Aku harap, aku bertemu denganmu, saling bertukar cerita tentang
bahagiamu, lalu aku pasti akan tertawa lega, melihatmu bahagia. Terimakasih telah
menyampaikan padaku bahwa kau merasa sudah lama tak berbincang denganku. Dengan
begitu, aku tau bahwa kau adalah ketiadaan yang ada.
0 comments:
Post a Comment