Banyak orang bilang, ada dua hal yang paling sulit untuk dilakukan di
dunia ini, meminta maaf dan memaafkan. Namun, bagiku ada satu hal tambahan yang
sangat sulit untuk dilakukan, mendengarkan.
Suatu
ketika, aku sering sekali menyebut kata “self
defense” atau pertahanan diri yang setiap orang pasti lakukan jikalau
sedang berbincang dengan dia, Galih. Aku sering bertanya padanya, kenapa harus
ada self defense jika ada sebuah
masukan masuk untukmu? Kenapa tidak berusaha mendengarkan terlebih dulu? Berkali
kami berbincang dengan topik yang sama “self
defense”. Berkali pertanyaan terulang. Berkali pula jawaban terulang.
Suatu
pagi, kami sarapan bersama. Masih dengan topik yang sama, “self defense”. Aku mencoba memperlambat kata-kata, mencoba mencari
makna, pelan. Hingga, aku meminta masukan darinya…
“Gimana kalo kamu sebaiknya
blablablabla….. Karena menurutku kamu blablabla” ujarnya
“Wah? Kenapa gitu?” responku
“Iya, karena kamu blablabla. Menurutku
sih…” lanjutnya
“Tapi aku sudah blablabla… Apa
usahaku kurang?” jawabku
“Iya, bisa jadi begitu. Mungkin,
di sisi lain kamu harus bisa lebih blablabla” tambahnya
“Kok bisa? Sudah totalitas aku
ngelakuinnya. Kenapa begitu penilaiannya…..” belum selesai aku bicara, dia menatapku.
Aku terdiam. Mencoba menerka.
“Kamu, self defense! Kamu juga belum bisa mendengarkan masukan orang lain
dengan baik” dia tersenyum. Aku tersadar. Benar. Aku juga melakukannya. Aku membela
diri. Aku menyangkal apa masukan yang ia berikan.
“Iya kamu benar!” ujarku dalam
hati. Aku masih menyangkal. Aku bahkan tidak membiarkan masukan itu masuk. Egoiskah?
***
“Yu, aku punya kesimpulan. Ternyata
semua orang melakukan self defense. It’s just like human immune system when
strangers come” ujarku pada Ayu
“Maksudmu, Dif?”
“Iya, jadi ketika kita
mendapatkan masukan, seringkali kita menyangkal dengan ‘tapi kan’, ‘bukannya’, ‘iya,
udah gitu kok aku’. What do you think, Yu?”
“Iya kali ya, Dif. Mungkin ibarat
kata ‘mana ada orang yang mau disalahkan?’. Iya begitulah manusia, Dif. Isinya,
ego.” ujarnya. Aku berpikir sejenak. Itukah yang manusia sebut dengan ego?
Ego, membuat kita tidak mau
mendengar. Ego, membuat kita ingin didengar. Ego, membuat kita merasa yang
paling benar. Ego, membuat kita tidak peduli apa orang lain cukup menerima apa
yang kita beri. Mau contohnya? Pejabat-pejabat yang lupa daratan, yang berkata
sudah mendengarkan aspirasi rakyatnya, namun dengan tega merampas hak mereka. Itukah
mendengar? Mereka telah tuli akibat tidak mendengar dan hanya ingin didengar
oleh media-media yang menciptakan citra. Don’t
you see?
Rasa-rasanya setiap orang memang
melakukannya. Karena ego bagian dari manusia. Tapi alangkah baiknya kalau self defense diimbangi dengan mendengar.
Karena dengan mendengar kamu dapat berbicara yang lebih indah, lebih santun. Karena
dengan mendengar, kamu bisa mempertimbangkan dan memahami. Karena dengan
mendengar, kamu berhasil melakukan salah satu dari tiga hal tersulit di dunia.
Thanks @GalihSatriyaa and @ayuyuniafifa
0 comments:
Post a Comment