Adakah kau mengerti arti sebuah
pengkhianatan?
Bukan seperti Van Persie yang
hijrah ke Manchester United meninggalkan Goners begitu saja. Bukan seperti
Valentino Rosi yang berpindah dari Yamaha ke Ducati dan kembali lagi ke Yamaha.
Atau bahkan bukan seperti Henry Tanoe Sudibyo yang hengkang dari NasDem menuju
Hanura. Tak se sederhana itu!
Adakah kau merasa dikhianati?
Bagaimana jika hanya kamu yang
sadar bahwa bumi tak berotasi sesuai porosnya dan orang sekelilingmu tak pernah
menyadarinya? Bagaimana jika hanya kau yang menyaksikan bahwa air tak lagi
mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah? Bagaimana jika
hanya kamu seorang yang mengetahuinya dan tak satupun orang lain menyadarinya?
Adakah yang bisa kau lakukan
disaat kau sadar pengkhianatan itu nyata?
Akankah kau marah? Akankah kau
murka? Akankah kau meledak-ledak? Akankah semua keharmonisan dunia ini hancur
seketika?
Atau akankah kau diam saja
melihat pengkhianatan tersebut?
Ya, mungkin jika aku ada pada
posisimu aku akan diam saja. Seperti yang kulakukan sekarang, menyadari
ketidakbenaran yang (tidak sengaja) dibenarkan. Seolah tak punya daya atau
memang tak berdaya? Seperti melakukan pembelaan “Yang penting aku tidak
mengkhianati” padahal sebenarnya melihat pengkhianatan di depan mata sendiri
dan tak berbuat apa-apa adalah bentuk lain dari pengkhianatan pada dunia luar! Aku
tak bisa berkata jujur pada dunia bahwa telah terjadi pengkhianatan disini.
Seperti kata Fahd Djibran dalam
bukunya yang berjudul “Yang Galau Yang Meracau”,
“Aku
juga sedih melihat banyak orang di sekelilingku kian banal saja. Mereka seolah
kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk, memilah
mana keadilan dan pengkhianatan. Aku juga muak meilhat keputusasaan yang menular,
kepedulian yang memudar”
Benar begitu hanya sebagai
penyesalan, hanya sebatas pengakuan sedih. Sampai disitu. Apa yang bisa aku
lakukan? :’)
Sayang, aku pun satu dari berjuta
orang yang hanya diam saja melihat ketidakenaran terjadi. Ironi!
0 comments:
Post a Comment