Saturday, 21 September 2013

pengkhianatan.


Adakah kau mengerti arti sebuah pengkhianatan?
     Bukan seperti Van Persie yang hijrah ke Manchester United meninggalkan Goners begitu saja. Bukan seperti Valentino Rosi yang berpindah dari Yamaha ke Ducati dan kembali lagi ke Yamaha. Atau bahkan bukan seperti Henry Tanoe Sudibyo yang hengkang dari NasDem menuju Hanura. Tak se sederhana itu!

Adakah kau merasa dikhianati?
     Bagaimana jika hanya kamu yang sadar bahwa bumi tak berotasi sesuai porosnya dan orang sekelilingmu tak pernah menyadarinya? Bagaimana jika hanya kau yang menyaksikan bahwa air tak lagi mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah? Bagaimana jika hanya kamu seorang yang mengetahuinya dan tak satupun orang lain menyadarinya?

Adakah yang bisa kau lakukan disaat kau sadar pengkhianatan itu nyata?

Akankah kau marah? Akankah kau murka? Akankah kau meledak-ledak? Akankah semua keharmonisan dunia ini hancur seketika?

Atau akankah kau diam saja melihat pengkhianatan tersebut?

     Ya, mungkin jika aku ada pada posisimu aku akan diam saja. Seperti yang kulakukan sekarang, menyadari ketidakbenaran yang (tidak sengaja) dibenarkan. Seolah tak punya daya atau memang tak berdaya? Seperti melakukan pembelaan “Yang penting aku tidak mengkhianati” padahal sebenarnya melihat pengkhianatan di depan mata sendiri dan tak berbuat apa-apa adalah bentuk lain dari pengkhianatan pada dunia luar! Aku tak bisa berkata jujur pada dunia bahwa telah terjadi pengkhianatan disini.

Seperti kata Fahd Djibran dalam bukunya yang berjudul “Yang Galau Yang Meracau”,
                “Aku juga sedih melihat banyak orang di sekelilingku kian banal saja. Mereka seolah kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk, memilah mana keadilan dan pengkhianatan. Aku juga muak meilhat keputusasaan yang menular, kepedulian yang memudar”

Benar begitu hanya sebagai penyesalan, hanya sebatas pengakuan sedih. Sampai disitu. Apa yang bisa aku lakukan? :’)

Sayang, aku pun satu dari berjuta orang yang hanya diam saja melihat ketidakenaran terjadi. Ironi! 

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com