Tuesday, 3 February 2015

bila kelak

Bila kelak kau menemukan tempat berlabuh yang tepat, beritau aku. Bila kau telah menemukan teman perjalanan yang menyenangkan, ceritakan padaku. Dan bila kau telah menemukan rumah yang nyaman untuk ditinggali, kabari aku, aku akan dengan senang hati mengunjungi rumahmu, rumahnya, rumah kalian : )

Suatu hari kau datang kepadaku dengan wajah dingin seperti biasanya. Kau bertingkah (seolah) baik-baik saja. Semua nampak biasa dan wajar-wajar saja.
“Ada apa?” tanyaku mengawali perbincangan
“Apa? Ngga ada apa-apa tuh” jawabmu santai. Aku tidak heran, kau begini. Ya, mungkin memang aku terlalu hafal dengan tabiat dan sikapmu. Kau meneguk air mineral lalu mengelap keringat kemudian kau berkata “Capek juga gowes kesini, lumayaaaan” aku menyerngitkan dahi, mulai kesal karena kau tetap tak mau membicarakannya.
“Kamu yakin, ngga ada apa-apa?” aku mengulang pertanyaan dengan inti yang sama.
“Menurutmu?” kau menjawab sekenanya, mengeluarkan kotak kue dari tas punggungmu, dan menyodorkannya padaku. “Nih… janjiku. Lunas kan?” ucapmu lagi. aku tak menyentuhnya, hanya memandangimu, kesal.
“Kenapa kau yang pusing? Aku saja tidak pusing dengan pertengkaran ini. Sudahlah, ini semua berlebihan” akhirnya kau sedikit mengeluarkan pernyataan
“I’m not. Aku ngga pusing. Aku cuma kesal” tatapanku mulai sinis padanya
“Makan, tuh kuenya. Biar rileks. Lagian, apa yang kamu kesalkan?” dia membuka bungkus kue itu dan memberikannya padaku. Aku menggeleng. “Oke, just tell me, apa yang bikin kamu kesal?” dia melunak. Yeeeah, man!
“Jangan libatkan aku dalam pertengkaran kalian” singkat padat jelas dan tegas, jawabku
“Maksudmu? Siapa yang melibatkanmu? Aku bahkan tidak pernah menyebut namamu dalam pertengkaran macam apapun” jelasmu
“Yaaa, jelas bukan kamu. Memang bukan kamu” jawabku. Kau diam, bernafas panjang, jemari mu saling menggenggam. “Kenapa kau tak membangun rumah kalian bersama? Mungkin dengan begitu kalian akan memahami satu sama lainnya” lanjutku. Kau masih diam, mungkin berfikir, mungkin juga enggan mendengarkan. “Aku….” Kalimatku tertahan, aku menunduk sejenak, kesal, nyaris berkaca-kaca, namun ku tahan.
“Aku minta maaf” ujarmu. “Aku minta maaf jika kau merasa bersalah atau mungkin disalahkan atas keadaan ini. Tapi kau tak perlu merasa bersalah. Permasalahan ini datangnya bukan darimu, tapi dari aku, juga mungkin dari dia. Aku bahkan tidak tau apa yang dipermasalahkan pada pertengkaran ini. Jadi tak perlu merasa begitu” lanjutmu panjang berusaha menjelaskan. Aku diam, mendengarkan. Aku paham, kau memang orang yang penuh logika. Aku paham, sepenuhnya paham.
“Aku makan satu ya?” aku mengambil kue yang kau beri kau mengangguk perlahan, aku berusaha memecah keheningan.
“Mungkin memang aku belum ingin membangun rumah itu. Mungkin, begitu singkatnya” begitu katamu
“Kok gitu? Kenapa? Bukankah itu keputusan kalian?” kali ini aku keheranan dengan pernyataannya
“Entahlah” jawabnya singkat
“She’s your home right?” aku masih penasaran, jawaban dia meragukan
“Well, I don’t know. All I know is…. A home is not a house, right? Don’t you ever heard that?” aku mengangguk, membenarkan pernyataanmu. Dan perbincangan kita sore itu, berakhir setelahnya dan aku masih keheranan, tak menyangka.

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com