Bila kelak kau menemukan tempat berlabuh
yang tepat, beritau aku. Bila kau telah menemukan teman perjalanan yang
menyenangkan, ceritakan padaku. Dan bila kau telah menemukan rumah yang nyaman
untuk ditinggali, kabari aku, aku akan dengan senang hati mengunjungi rumahmu,
rumahnya, rumah kalian : )
Suatu hari kau datang
kepadaku dengan wajah dingin seperti biasanya. Kau bertingkah (seolah)
baik-baik saja. Semua nampak biasa dan wajar-wajar saja.
“Ada apa?”
tanyaku mengawali perbincangan
“Apa? Ngga ada
apa-apa tuh” jawabmu santai. Aku tidak heran, kau begini. Ya, mungkin memang
aku terlalu hafal dengan tabiat dan sikapmu. Kau meneguk air mineral lalu
mengelap keringat kemudian kau berkata “Capek juga gowes kesini, lumayaaaan”
aku menyerngitkan dahi, mulai kesal karena kau tetap tak mau membicarakannya.
“Kamu yakin,
ngga ada apa-apa?” aku mengulang pertanyaan dengan inti yang sama.
“Menurutmu?” kau
menjawab sekenanya, mengeluarkan kotak kue dari tas punggungmu, dan
menyodorkannya padaku. “Nih… janjiku. Lunas kan?” ucapmu lagi. aku tak
menyentuhnya, hanya memandangimu, kesal.
“Kenapa kau yang
pusing? Aku saja tidak pusing dengan pertengkaran ini. Sudahlah, ini semua
berlebihan” akhirnya kau sedikit mengeluarkan pernyataan
“I’m not. Aku ngga pusing. Aku cuma kesal”
tatapanku mulai sinis padanya
“Makan, tuh
kuenya. Biar rileks. Lagian, apa yang kamu kesalkan?” dia membuka bungkus kue
itu dan memberikannya padaku. Aku menggeleng. “Oke, just tell me, apa yang bikin kamu kesal?” dia melunak. Yeeeah, man!
“Jangan libatkan
aku dalam pertengkaran kalian” singkat padat jelas dan tegas, jawabku
“Maksudmu? Siapa
yang melibatkanmu? Aku bahkan tidak pernah menyebut namamu dalam pertengkaran
macam apapun” jelasmu
“Yaaa, jelas
bukan kamu. Memang bukan kamu” jawabku. Kau diam, bernafas panjang, jemari mu
saling menggenggam. “Kenapa kau tak membangun rumah kalian bersama? Mungkin dengan
begitu kalian akan memahami satu sama lainnya” lanjutku. Kau masih diam,
mungkin berfikir, mungkin juga enggan mendengarkan. “Aku….” Kalimatku tertahan,
aku menunduk sejenak, kesal, nyaris berkaca-kaca, namun ku tahan.
“Aku minta maaf”
ujarmu. “Aku minta maaf jika kau merasa bersalah atau mungkin disalahkan atas keadaan
ini. Tapi kau tak perlu merasa bersalah. Permasalahan ini datangnya bukan
darimu, tapi dari aku, juga mungkin dari dia. Aku bahkan tidak tau apa yang
dipermasalahkan pada pertengkaran ini. Jadi tak perlu merasa begitu” lanjutmu
panjang berusaha menjelaskan. Aku diam, mendengarkan. Aku paham, kau memang
orang yang penuh logika. Aku paham, sepenuhnya paham.
“Aku makan satu
ya?” aku mengambil kue yang kau beri kau mengangguk perlahan, aku berusaha
memecah keheningan.
“Mungkin memang
aku belum ingin membangun rumah itu. Mungkin, begitu singkatnya” begitu katamu
“Kok gitu? Kenapa?
Bukankah itu keputusan kalian?” kali ini aku keheranan dengan pernyataannya
“Entahlah”
jawabnya singkat
“She’s your home right?” aku masih
penasaran, jawaban dia meragukan
“Well, I don’t know. All I know is…. A home
is not a house, right? Don’t you ever heard that?” aku mengangguk,
membenarkan pernyataanmu. Dan perbincangan kita sore itu, berakhir setelahnya
dan aku masih keheranan, tak menyangka.
0 comments:
Post a Comment