Wednesday, 4 February 2015

awal kisah kita

Satu tahun telah berlalu, sejak kau terima suratku waktu itu...
Kali ini tolong biarkan aku mengenang, biarkan saja anganku terbang...
Kini ingatanku melayang, pada satu hari yang penuh kenangan. Kau mengajakku berjalan-jalan. Selama perjalanan, kita bercanda. Gelegak tawa membuat riang suasana. Sepanjang jalan, kau banyak bercerita. Di belakangmu, aku hanya bisa menjawab sekenanya, tak tau harus menimpali apa, jantungku rasanya deg-deg-an. Plus one. Kekagumanku, bertambah satu. Aku terlanjur terpesona, dan aku yakin tak perlu berpura-pura.
Saat kita sampai kau ingatkan aku pada satu hal, “ibadah”. Aku meminta kesediaanmu untuk menunggu,  aku harus menunaikan kewajibanku sholat wajib 5 waktu. Kau tersenyum lebar dan tak keberatan bila menungguku. Plus one. Kekagumanku padamu, bertambah satu.
Kita berkeliling menyaksikan banyak hal, lalu tiba-tiba kau berlari mendahuluiku. Mengeluarkan kamera SLR dari tas mu, dan kau arahkan kepadaku. Kau memintaku tersenyum, aku tersipu antara enggan dan malu. Enggan karena harus berpose sendirian tanpamu, dan malu karena pasti di layar kameramu penuh dengan wajahku. Haha, bodohnya aku!
Kita terus berjalan hingga melihat ada ada seekor merak putih yang menghadang perjalanan. Kau memperingatkanku karena merak ini galak. Kau mencoba mengusir merak itu, namun sayang sang merak enggan pergi dari sana. Kau menarik lenganku dan berusaha melindungiku, tapi sang merak terlihat marah. Nampaknya, dia tak suka kau menggandeng lenganku begitu. Sang merak mematuk kakiku hingga berdarah.
Kau masih terus menggandengku. Sambil sesekali melihat ke arah kakiku. Kau bilang mengkhawatirkanku. Kau mencarikan tempat beristirahat dan kau temukan tepat di depan kolam. Banyak itik berenang disana, ada pula angsa yang tampak bercengkrama. Kau membuka kembali tas mu, mengambil beberapa potret gambar. Mendadak, kau berjingkrak bahagia, kau menghampiriku dan menunjukkan satu hasil potretanmu. Dalam potret itu ada sepasang itik yang saling mencinta. Sang jantan dan sang betina saling bertatapan. Lekat, mesra. Talented. Plus one. Kekagumanku padamu, bertambah satu.
Kau duduk tepat di sampingku. Merapikan kamera dan lensamu lalu dengan lembut bersandar di bahuku. Kau bilang kau merasa tenang. Katamu, kau suka suara gemericik air. Kau bilang kelak jika kita punya rumah, kau akan menyediakan ruang untuk kolam di halaman belakang. Kau meminta persetujuanku, aku hanya tersipu, malu. Kau bilang kelak ingin menghabiskan waktu sore denganku, sambil bersandar dan bercerita tentang hari yang panjang sambil meneguk secangkir kopi. Aku tersenyum, masih malu. Kau mengajakku beranjak, kau meraih tanganku, merekatkan jemarimu di sela-sela jemariku. Dan kisah kita berawal setelahnya…

Kali ini tolong biarkan aku mengenang, biarkan saja anganku terbang…
Kisah kita memang tidaklah panjang sayang, namun tak ada yang lebih berkesan dan terkenang…

Maaf menjadikanmu objek (lagi) @galihsatriyaa

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com