Satu tahun telah berlalu, sejak kau terima
suratku waktu itu...
Kali ini tolong biarkan aku mengenang,
biarkan saja anganku terbang...
Kini ingatanku
melayang, pada satu hari yang penuh kenangan. Kau mengajakku berjalan-jalan. Selama
perjalanan, kita bercanda. Gelegak tawa membuat riang suasana. Sepanjang jalan,
kau banyak bercerita. Di belakangmu, aku hanya bisa menjawab sekenanya, tak tau
harus menimpali apa, jantungku rasanya deg-deg-an. Plus one. Kekagumanku, bertambah satu. Aku terlanjur terpesona, dan
aku yakin tak perlu berpura-pura.
Saat kita sampai
kau ingatkan aku pada satu hal, “ibadah”. Aku meminta kesediaanmu untuk
menunggu, aku harus menunaikan
kewajibanku sholat wajib 5 waktu. Kau tersenyum lebar dan tak keberatan bila
menungguku. Plus one. Kekagumanku padamu,
bertambah satu.
Kita berkeliling
menyaksikan banyak hal, lalu tiba-tiba kau berlari mendahuluiku. Mengeluarkan kamera
SLR dari tas mu, dan kau arahkan kepadaku. Kau memintaku tersenyum, aku tersipu
antara enggan dan malu. Enggan karena harus berpose sendirian tanpamu, dan malu
karena pasti di layar kameramu penuh dengan wajahku. Haha, bodohnya aku!
Kita terus
berjalan hingga melihat ada ada seekor merak putih yang menghadang perjalanan.
Kau memperingatkanku karena merak ini galak. Kau mencoba mengusir merak itu,
namun sayang sang merak enggan pergi dari sana. Kau menarik lenganku dan
berusaha melindungiku, tapi sang merak terlihat marah. Nampaknya, dia tak suka
kau menggandeng lenganku begitu. Sang merak mematuk kakiku hingga berdarah.
Kau masih terus
menggandengku. Sambil sesekali melihat ke arah kakiku. Kau bilang
mengkhawatirkanku. Kau mencarikan tempat beristirahat dan kau temukan tepat di
depan kolam. Banyak itik berenang disana, ada pula angsa yang tampak
bercengkrama. Kau membuka kembali tas mu, mengambil beberapa potret gambar. Mendadak,
kau berjingkrak bahagia, kau menghampiriku dan menunjukkan satu hasil
potretanmu. Dalam potret itu ada sepasang itik yang saling mencinta. Sang
jantan dan sang betina saling bertatapan. Lekat, mesra. Talented. Plus one. Kekagumanku padamu, bertambah satu.
Kau duduk tepat
di sampingku. Merapikan kamera dan lensamu lalu dengan lembut bersandar di
bahuku. Kau bilang kau merasa tenang. Katamu, kau suka suara gemericik air. Kau
bilang kelak jika kita punya rumah, kau akan menyediakan ruang untuk kolam di
halaman belakang. Kau meminta persetujuanku, aku hanya tersipu, malu. Kau bilang
kelak ingin menghabiskan waktu sore denganku, sambil bersandar dan bercerita
tentang hari yang panjang sambil meneguk secangkir kopi. Aku tersenyum, masih
malu. Kau mengajakku beranjak, kau meraih tanganku, merekatkan jemarimu di
sela-sela jemariku. Dan kisah kita berawal setelahnya…
Kali ini tolong biarkan aku mengenang,
biarkan saja anganku terbang…
Kisah kita memang tidaklah panjang sayang,
namun tak ada yang lebih berkesan dan terkenang…
Maaf menjadikanmu objek (lagi) @galihsatriyaa
0 comments:
Post a Comment