Thursday, 5 February 2015

Sekali (lagi) Kehilangan


Sekali lagi, Tuhan mengajarkan kehilangan.
***
“Sampai kapan kita akan menjalani ini?” aku terhenyak. Menatapmu sebentar. Dan tertunduk, diam. Kau menunggu aku menjawab pertanyaanmu. Namun, mulutku tak bergeming. Bibirku tak sedikitpun berucap. Aku tau, hal ini akan terjadi. Aku benar-benar tau ini akan terjadi. Dan pasti terjadi. Tapi… haruskah sesegera ini?
“Belum cukupkah waktu kita bersama untuk memikirkannya?” kau menimpali diamku, dengan pertanyaan yang sungguh enggan ku jawab. Aku masih tertunduk, terus menunduk. Aku memainkan kakiku, berusaha menenangkan diri. Aku berharap, pelupuk mataku mampu berkompromi saat ini.
“…sampai kapan kamu diam?” aku menoleh padamu sedetik, menggelengkan kepala, sembari mengangkat bahu, dan menunduk lagi. Tuhan, bisakah skip momen ini? Berat rasanya untuk mengakhiri, namun lebih tersiksa nantinya jika tak ada keputusan saat ini.
“…perbedaan di antara kita, tidak ada jalan tengahnya. Aku tau kau pasti mengerti.” Aku lebih banyak diam dalam perbincangan ini, karena aku paham, satu kalimat saja ku ucapkan berakibat tangis yang menderu tak kunjung henti. “Aku mohon, kamu jangan diam. Diam tidak menjawab apapun. Diam tidak menyelesaikan apapun.” Kali ini aku sudah tak sanggup menahan kubangan air di pelupuk mataku, aku pun tak mampu menahan kerasnya isak tangisku. Untung saja suara air di belakangku jauh lebih kencang daripada isak tangisku.
Aku mencoba menguatkan diri. Namun apa? Tanganku gemetar. Air mataku terus mengalir. Dadaku terasa sesak. Nafasku tak bisa tenang. Hatiku berontak, namun di saat yang sama hatiku berusaha menenangkan dan berkompromi dengan logikaku. Kali ini, logikaku mampu menguasai diri. Dan aku memutuskan untuk bicara, apapun itu yang terlintas di pikiranku. “Aku ngga tau, harus ngomong apa” suaraku gemetar. Kini kau yang tak bergeming. Diam. Tak menimpaliku. Tanpa sepatah kata pun. Aku takut, tanganku semakin gemetar. Aku masih menunggu responmu. Melihat ke arahmu, menguatkan diri, lalu mencoba berkata lagi “Lalu, gimana? Kenapa kamu diam?” tanyaku. Kamu tetap diam, aku menunduk mencoba mengatur nafasku perlahan sambil menanti kau bersuara. Hitungan menit kita berdua diam, tanpa kata, tanpa interaksi apapun. Aku menyenggol lenganmu, menginginkan respon darimu. Kau menoleh ke arahku, seolah bertanya apa yang aku lakukan.
“Tau, bagaimana rasanya?” tanyamu.
“Rasa apa?” jawabku
“Ya, rasanya menunggu jawaban. Sedari tadi aku menunggu kau bicara, kau hanya diam. Sekarang aku balikkan keadaan, aku yang diam. Sekarang apa kau tau bagaimana berhadapan dengan dirimu sendiri? Ngga enak kan?” ujarmu, memberikan rasionalisasi diammu.
“Ya, maaf. Jujur aku ngga tau harus menjawab apa. Cuma itu.” Begitu kataku
“Kita sudah dewasa. Sudah diberi hak untuk mengambil keputusan. Aku sudah memutuskan untuk mengawali pembicaraan ini, kini silahkan kau putuskan, bagaimana setelah sekian lama kita bersama? Jika kita tetap hidup dengan perbedaan, tak mungkin hubungan ini bisa berlanjut dan semua akan percuma. Jika kita bisa menyatukan yang tadinya berbeda, mungkin bisa jadi ini semua berlanjut.” Ujarmu menjelaskan panjang lebar. Berat rasanya, mendengar semua penjelasanmu. Berat sekali memutuskan permintaanmu pada dua kalimat terakhirmu. Iyaa, aku anggap itu permintaan dengan resiko yang tidak sedikit. Bagiku, ini bukan hanya tentang kita berdua. Bukan lagi berbicara tentang rasa, bukan lagi tentang cinta. Aku tau tak mungkin menerima permintaanmu, tapi aku juga akan sangat berat hati mengakhiri ini. Pikiranku jauh melayang, membayangkan fase hidupku selanjutnya, setelah semua perbincangan berat ini. Air mataku yang telah terhenti, kini menetes lagi tapi hati dan logikaku bersatu, padu. Dia memintaku untuk memutuskan, memberikan jawaban.
“Ini berat, buatku. Pilihan yang sangat sulit. Sulit sekali. Ini bukan hanya tentang aku dan kamu” aku memulai pembicaraan, berusaha membiarkan logika menang, dan mengambil keputusan. Tapi hatiku meminta untuk berhati-hati, jangan sampai menyakiti. “Maaf, lebih baik kita hidup dalam perbedaan” aku memberanikan diri mengatakannya. Tangisku, kutahan. “Terimakasih, atas semuanya. Terimakasih sudah menemani, menghargai, dan mengajari banyak hal. Terimakasih selalu mengingatkanku untuk memperbaiki diri. Terimakasih. Maaf, jika selama kita bersama aku banyak merepotkan. Maaf, untuk segala hal yang kurang baik. Maaf atas sikap yang menyakiti.” Tangisku pecah mengucapkan semua kalimat itu. Tumpah semua rasaku, hatiku berkecamuk, logikaku tak karuan, entahlah bagaimana wajahku saat itu, aku tak peduli sedikitpun. Kau merangkulku, berusaha menenangkan.
Beberapa saat kemudian aku mereda, aku kembali tenang. Melihatku tenang, kau mulai angkat bicara. Kau ucapkan terimakasih atas semuanya, dan juga meminta maaf karena katamu kau belum sempat membahagiakanku. Aku hanya mematung sambil mendengarkanmu, pikiranku kosong. Entahlah…
Kau telah selesai ucapkan kata-kata perpisahan. Tiba-tiba aku merasa lemas, kepalaku ambruk tertahan di lututku. Aku menangis sejadi-jadinya. Entahlah, ada rasa tak rela melepasmu. Kau tampak kaget. Merangkulku kembali dan berusaha membuatku bangkit, katamu “Sudah, sudaaaaah berhentilah menangis. Ayo bangun, bersandarlah di pundaku.” Katamu lembut menenangkan. Jemarimu menggenggam jemariku. Aku mengatur nafas dan kembali tenang.
Kini kau kembali bersuara. “Tolong, jangan berfikir hanya kau yang berat untuk melepaskan. Aku juga beraaat melepasmu. Selama ini kita selalu menguatkan dan mengingatkan. Tapi bagaimana aku harus memperjuangkan hal yang sulit? Daritadi aku menahan tangisku, karena kau menangis. Jika aku menangis, lalu siapa yang menenangkan?” Tiba-tiba suaramu bergetar aku tercengang, kau terisak, aku merasa pedih, perih, buliran air matamu menetes, aku bingung. Tiba-tiba hatiku merasa sakit, melihatmu menangis. Oh, Tuhan… Inikah kehilangan? Seberat itukah kehilangan? Aku mengabaikan rasa sakitku, dan bergegas mengusap air matamu, kini tugasku yang menenangkanmu. Aku bilang “Sudah, jangan menangis. Sudaaah”  aku tak mampu berkata hal lain. Maaf aku tak pandai menenangkan, karena aku pun sedang tak tenang.
***
Sejak saat itu kita memutuskan untuk berteman dan hidup indah dalam perbedaan. Diam-diam aku mendoakan, sambil menahan tanyaku, “Tuhan doaku sampai, kan? Walau cara berdoa kami berbeda?”

“To the most charming man in my life @GalihSatriyaa have a very great day”

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com