Monday, 10 February 2014

kelemahan


Apa salahnya punya kelemahan?

Sedari tadi pertanyaan itulah yang berputar di otakku, bukan tidak menemukan jawabannya namun aku belum menemukan jawaban yang tepat.
Tadi pagi hasil tes psikologi yang beberapa hari lalu kuikuti telah keluar.  Dan hasilnya berisi sederet analisa kekuatan dan kelemahan. Psikolog yang menangani tes tersebut menjelaskan aku harus mencoba menyukai hal detail, harus menghilangkan kecerobohan, harus mencoba mengambil keputusan, tidak boleh ragu, dan masih banyak lagi hal-hal yang harus kulakukan. Hasil tes ini membuatku stress. Menurunkan semangatku, menurunkan energy positifku, serupa dengan dementor yang menghisap kebahagiaan dan memori indah, ya begitulah efek hasil tes itu.

Apa salahnya punya kelemahan?

Bukankah setiap orang ditakdirkan begitu? Kenapa masih dipermasalahkan? Kenapa terus menerus diperdebatkan? Kenapa harus membebani pikiran? Kertas hasil tes psikologi nyaris kumusnahkan. Namun batal. Mengingat biaya untuk mengambil tes tersebut harus menguras celengan ayamku yang harusnya aku gunakan untuk menonton klub bola favoritku. Aku mengorbankannya! Catat itu! Aku mengorbankannya!

Apa salahnya punya kelemahan?

                Aku terus menerus mencari jawaban. Mencoba mencari teori yang menguatkan bahwa tak ada salahnya punya kelemahan. Bertanya sana sini sehingga aku yakin bahwa kelemahan adalah bagian dari mutlak dari seorang manusia.
***
‘Bagaimana hasil tes psikologimu?’ Ibu bertanya padaku
‘Entah, Bu. Aku tidak ingin membicarakannya. Kalau ibu mau, silahkan baca sendiri hasilnya’ jawabku tak ada gairah sembari menyodorkan hasil tes itu. Ibuku membacanya, sebentar. Menutupnya. Mengembalikan padaku.
‘Kok cepet, Bu?’ tanyaku
‘Apa yang kau pusingkan?’ Tanya ibuku lagi
‘Apa salahnya punya kelemahan?’ tanyaku lagi. Ibu tersenyum, memainkan kalkulatornya sembari menghitung gaji anak buahnya
‘Tidak ada salahnya.’ Ibuku menjawab singkat
‘Lalu?’ aku tidak puas dengan jawaban ibuku
‘Apa yang kau inginkan dari jawaban Ibu, nak?’ kini ibu menatapku dan meletakkan kalkulatornya
‘Penguatan’ singkat jawabku
‘Apakah kamu belum menyadari, bahwa kini kamu sedang membiarkan kelemahanmu menang?’ ibuku memancing respon dariku
‘Maksud ibu, bagaimana?’ aku menunggu jawaban ibuku
‘Coba dengarkan Ibu, nak. Kenapa kamu ikut mempermasalahkan kelemahan yang kau miliki? Bukankah hasil tes ini menunjukkan kau punya kelebihan jauh lebih banyak dibanding kelemahanmu? Kenapa kau tak mempermasalahkan kelebihanmu? Kenapa?’ Ibuku menghujani pertanyaan untukku
‘Karena kelebihan tidak pernah dipermasalahkan, Bu! Dia kekuatan setiap manusia, sedangkan kelemahan, dia meruntuhkan manusia’ aku mencoba memberi penjelasan
‘Lalu, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau kesal?’ Ibuku bertanya lagi
‘Iya. Aku kesal. Hasil tes ini membuatku kesal, Bu! Aku punya banyak kelebihan seperti kata Ibu! Aku tau, aku sadar kelebihan itu’
‘Lalu, kau runtuh?’
‘……aku tidak bermaksud begitu bu’ aku melakukan pembelaan
‘Iya, kau runtuh sekarang. Karena kau memberikan ruang pada kelemahan. Padahal kau punya kekuatan. Kenapa kau tak manfaatkan kekuatanmu untuk mengalahkan kelemahanmu? Kenapa tak kau tutupi apa yang tidak kau punya dengan segala yang kau punya? Kenapa kau membiarkan kelemahanmu mengalahkan dirimu sendiri? Atau kau hanya butuh pengakuan diri?’ Ibu kembali menghujani pertanyaan.
‘Coba baca lagi hasil tes ini baris terakhir’ pinta Ibuku

Kelemahan: Ketakutan akan tidak mendapatkan pengakuan umum

Aku diam. Aku me-review percakapan dengan ibuku. Aku membaca lagi hasil tes psikologiku.

Aku tertunduk. Menyadari.

Kali ini aku kembali membiarkan kelemahanku menang dan terbahak menertawakanku

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com