Jadi tiada itu sebenarnya ada kan? Lalu dimana letak
ketiadaannya?
Aku membaca
ulang kalimatmu. Menerka ulang apa maksud yang ada didalamnya. Bisa jadi dia
bermakna luas ataupun tidak bermakna sama sekali.
Sesekali aku
berfikir, apakah aku selalu berada di antara orang yang sungguh-sungguh
mempesonaku? Orang yang sungguh-sungguh sulit untuk kugapai? Apa benar?
***
“Aku sudah punya
pacar”
“Ya? Wah. Mas yang
kau ceritakan itu?”
“Bukan! Kan aku
sudah bilang itu cuma sesaat.”
“Lalu?”
“Kamu pasti
tidak mengira”
“Satria?”
“…..”kamu
mengangguk pelan, aku berekspresi datar. Hening beberapa detik, lalu bersuara.
“Wah, gimana
ceritanya? Hahahah” tawaku menggelegak
“Panjang, dan
kamu tau dia itu diluar perkiraan. Dia ngga sedingin yang aku bahkan kita
bayangkan. Dia itu unyuuu!” kau antusias menceritakannya, aku antusias
mendengarnya.
“ya jadi gitu…
hahahah…”kau menceritakan panjang lebar tentang rasamu, rasa bahagiamu, bukan
tentang detil kejadiannya, kau bahagia sekali.
***
Aku menarik
nafas panjang. Kembali mengingat kata-katamu. Tentang
ketiadaan. Inikah? Inikah yang kau maksud? Atau aku yang hanya mencoba mengaitkan
dengan kejadian ini?
Iya, ketiadaan
itu ada. Dia nyata. Lalu bagaimana kita menyadari dia tiada? Saat dia tidak
lagi dapat dilihat? Didengar? Dirasa? Disentuh? Dicium?
Aku pernah
berdoa, pada Tuhan, jika aku boleh memilih jodoh, sempat kupinta kamulah
jodohku. Sempat aku sampaikan dalam doaku, “Tuhan, jika kau berkenan, izinkan
aku mempunyai imam dia, imam sholatku kali ini”. Tak hanya sekali kupanjatkan,
doa-doa itu.
***
“Dia bilang,
terkadang kita tidak menyadari orang yang kita butuhkan adalah orang yang
pertama kali terlintas dipikiran. Kita terus menerus mengejar orang yang kita
inginkan, padahal kita sudah tau siapa yang kita butuhkan, hanya saja kita ngga
sadar” begitu kamu bilang tentangnya
“Ohya? Itu emang
bener. Menurutku juga begitu. Hahaha. Yaudah sih, kalian sudah menemukan yang
kalian butuhkan” jawabku santai
“Kamu tau? Dia
ituuuu unyuuuuuu banget!”
“Dimana letak
keunyuannya?” tanyaku pendek
“Ahhhh! Pokoknya
unyu gituuuu, aaaaah….” Kau kagum sekali tampaknya, dia sempurna sepertinya.
“Keep them happy God”
doaku dalam hati
***
Ya, kini aku tau
ketiadaan itu ada. Saat kau kehilangan harapan pada orang yang kau harap, saat
kau tak lagi melihat dia dengan mata berbinar ke matamu, saat kau hanya bisa
mendengar dia bahagia bersama yang lain, saat kau hanya mampu mendoakannya
dalam ketiadaan, dalam diam, dalam sunyi, ketiadaan itu ada.
Jika sujiwo
tedjo bilang puncak kangen sepasang kekasih adalah pada saat keduanya saling
mendoakan, maka aku bilang puncak rasa seseorang adalah saat dia mendoakan
kebahagiaan orang yang ia kasihi bersama orang lain. J
Dunia ini sendiri pun lahir dari ketiadaan. Karena
lahir dari ketiadaan, mengapa pula harus mencemaskan kehilangan? Ketiadaan itu
meluaskan, kata Ibu, dan mempertemukan manusia dengan banyak hal, di antaranya
cinta – Windy Ariestanty
Inspired by - Windy Ariestanty, @sujiwotedjo and @RifqiPrasetyo
0 comments:
Post a Comment