Hai, kamu yang ada dalam hatiku, yang
senyumnya lebih hangat dari sinar mentari pagi, yang setiap pagi memberi ucapan
selamat pagi lengkap bersama emoticon titik dua bintang, yang tadi malam
membuat jengkel, yang detik ini ada dalam lagu rindu yang kuputar.
Kuterima
suratmu tlah ku baca dan aku mengerti…
Ah, lirik itu mengingatkanku pada
suratku kemarin. Sudah kau terima, kan? Bagaimana rasanya menerima surat dariku?
Bahagia bukan? Aaaa… J
Kau
tanyakan padaku kapan aku akan kembali lagi…
Kau berulang kali bertanya, “kapan
pulang?” dengan sabar aku berulang kali menjawab “sabar, tanggal 16 kita ketemu”
diikuti emoticon senyum dan emoticon peluk bertubi-tubi. Haha. Dasar kebiasaan!
Kau
katakan padaku saat ini ku ingin hangat pelukmu…
Disini hujan, lho. Aku jadi ingin
susu cokelat panas. Ah, cokelat panas ya. Buatanmu. Seperti waktu itu. Aaah, rasanya
tak ada duanya.
Semua
kata rindumu semakin membuatku, tak berdaya. Menahan rasa ingin jumpa. Percayalah
padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang…
Aaaah, liriknya mendayu-dayu sekali.
Ini tanggal berapa? Tanggal 5 kan? 10 hari lagi aku pulang! Kamu bahagia? Aku sangaaat
bahagia! Sepuluh hari lagi! Sepuluh! Se-pu-luh! Lalu kita berjumpa ya, janji? Janji
ya jemput aku. Kamu harus sudah mandi, sudah rapi, sudah tidak acak-acakan lagi. Dan ingat! Gendutan ya!
Gen-du-tan! Lalu kita keliling kota ya, beli cokelat panas dan
bersenang-senang!
Ah,
finally lagunya habis…
Baiklah, I’ve to go now! Kamu baik-baik
ya disana. Yang sabar ya menunggu tanggal 16.
Ah,
this is really final…
I
miss you, pa… a lot…
0 comments:
Post a Comment