Monday, 3 February 2014

laki-laki buncit dan perempuan berkacamata



                Ini kisah tentang seorang laki-laki buncit dan perempuan berkacamata.
Perempuan berkacamata melirik sinis lelaki buncit yang berlalu begitu saja tanpa memandangnya sedetik pun. Dia sangka laki-laki itu telah mencoret namanya dalam daftar sahabat laki-laki buncit. Dia pikir laki-laki buncit tak mau lagi bertegur sapa dengannya. Dia kira laki-laki buncit tidak ingin lagi sekedar melempar senyum untuknya.
Perempuan berkacamata tertunduk lesu. Tak ada lagi sisa keberanian yang biasanya lantang ia suarakan. Tak ada lagi gelegak tawa dan celoteh canda yang biasanya ia lontarkan untuk laki-laki buncit. Yang ada hanya gemetar, rasa takut, dan kekhawatiran. Perempuan berkacamata sadar betul telah melakukan kesalahan, dia telah membuat lelaki buncit berkorban banyak untuknya, untuk egonya. Berhari-hari keberanian tak kunjung muncul, hingga hitungan hari berubah menjadi minggu, bulan, dan tahun. Rasa bersalah yang tadinya dia pikir bisa hilang ditelan waktu, malah semakin tertanam, tertimbun, berkarat di dasar pikiran dan hatinya. Perempuan berkacamata hidup dalam rasa bersalah, rasa takut yang berlebih dan rasa sesal yang mendalam. Ia takut bangkit, ia takut melongok keluar jendela, rasanya kemilau dunia luar terlalu silau untuk disaksikan. Dia ingin menangis, dia ingin menjadi balita supaya dapat bebas merengek dan meminta maaf pada lelaki buncit.
Ini tahun kedua, perempuan berkacamata membenarkan posisi duduknya. Masih termenung, memandangi laki-laki buncit yang dia tau beban hidupnya melebihi beban berat badannya. Laki-laki buncit tanpa sengaja menoleh ke arahnya. Perempuan berkacamata menunduk, ragu untuk menyapanya. Laki-laki buncit seolah menangkap suasana hati perempuan berkacamata, dia beranjak dari kursinya dan menghampiri perempuan berkacamata.
Laki-laki buncit itu masih tersenyum ramah, diantara suasana kelabu hatinya. Dia masih mengulurkan tangan dan berkata “aku masih disini, kamu tidak sendiri, jangan takut” seolah telah tamat membaca ketakutan dibalik kacamata perempuan itu yang tak punya tempat untuk kembali. Perempuan berkacamata dengan gagap mengucap terimakasih, sembari mengembalikan sisa-sisa kekuatannya. Perlahan perempuan berkacamata tersenyum kecil dan laki-laki buncit membalas senyumannya lebih lebar. Perempuan berkacamata hanya bisa terbata, mengucap... “Ma…af”
Tak dia sangka….
Laki-laki buncit masih begitu hangat menerimanya….
Sebagai kakak, sebagai sahabat, sebagai keluarga….
Dan perempuan kacamata itu perlahan tersadar….
Laki-laki buncit itu salah satu tempat untuk pulang, saat luapan amarahnya nyaris tumpah. Laki-laki buncit itu adalah simbol kesederhanaan saat kilau kemegahan membuatnya lupa. Laki-laki itu panutan kebijaksanaan, dikala perempuan kacamata merasa angkuh. Laki-laki buncit itu adalah obat penenang, saat dia tergesa-gesa mengambil keputusan. Laki-laki buncit itu adalah bentuk lain dari keikhlasan, yang selalu mendidiknya untuk mampu menerima. Laki-laki buncit itu adalah insan bermuatan positif, panutannya.
Siapa laki-laki buncit itu? Dia adalah laki-laki yang penuh dengan kehangatan. Dia adalah laki-laki yang keras sifatnya namun lembut hatinya. Laki-laki buncit tadi adalah seorang kakak dari dua adiknya, seorang pemimpin yang rendah hati, penyabar, bijaksana, dan berhati besar, seorang teman yang selalu berusaha menenangkan, seorang mahasiswa yang selalu menghormati dosennya, seorang laki-laki buncit yang selalu gagal diet ocd nya tapi selalu sukses menjadi pemimpin. Apic Cahyo Purnomo. Nama yang indah sekali! Dalam Bahasa jawa, apic berarti bagus, cahyo adalah cahaya, purnomo adalah bulan purnama. Bila dirangkai nama itu berarti cahaya bulan purnama yang indah.
Dia selalu berjuang, untuk membuat orang lain tersenyum bahagia. Baginya, bahagia adalah saat orang lain bahagia. Dia selalu bersyukur, sesulit apapun  kondisinya. Dia selalu membangkitkan, saat yang lain menjatuhkan. Dia adalah apic, sahabatku, panutanku, kakakku, buncitku J
To bapak buncit @apiccahyo forgive me ya J

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com