Ini kisah tentang seorang
laki-laki buncit dan perempuan berkacamata.
Perempuan berkacamata melirik sinis
lelaki buncit yang berlalu begitu saja tanpa memandangnya sedetik pun. Dia sangka
laki-laki itu telah mencoret namanya dalam daftar sahabat laki-laki buncit. Dia
pikir laki-laki buncit tak mau lagi bertegur sapa dengannya. Dia kira laki-laki
buncit tidak ingin lagi sekedar melempar senyum untuknya.
Perempuan berkacamata tertunduk
lesu. Tak ada lagi sisa keberanian yang biasanya lantang ia suarakan. Tak ada
lagi gelegak tawa dan celoteh canda yang biasanya ia lontarkan untuk laki-laki
buncit. Yang ada hanya gemetar, rasa takut, dan kekhawatiran. Perempuan berkacamata
sadar betul telah melakukan kesalahan, dia telah membuat lelaki buncit
berkorban banyak untuknya, untuk egonya. Berhari-hari keberanian tak kunjung
muncul, hingga hitungan hari berubah menjadi minggu, bulan, dan tahun. Rasa bersalah
yang tadinya dia pikir bisa hilang ditelan waktu, malah semakin tertanam,
tertimbun, berkarat di dasar pikiran dan hatinya. Perempuan berkacamata hidup
dalam rasa bersalah, rasa takut yang berlebih dan rasa sesal yang mendalam. Ia takut
bangkit, ia takut melongok keluar jendela, rasanya kemilau dunia luar terlalu
silau untuk disaksikan. Dia ingin menangis, dia ingin menjadi balita supaya
dapat bebas merengek dan meminta maaf pada lelaki buncit.
Ini tahun kedua, perempuan
berkacamata membenarkan posisi duduknya. Masih termenung, memandangi laki-laki
buncit yang dia tau beban hidupnya melebihi beban berat badannya. Laki-laki
buncit tanpa sengaja menoleh ke arahnya. Perempuan berkacamata menunduk, ragu
untuk menyapanya. Laki-laki buncit seolah menangkap suasana hati perempuan
berkacamata, dia beranjak dari kursinya dan menghampiri perempuan berkacamata.
Laki-laki buncit itu masih
tersenyum ramah, diantara suasana kelabu hatinya. Dia masih mengulurkan tangan
dan berkata “aku masih disini, kamu tidak sendiri, jangan takut” seolah telah
tamat membaca ketakutan dibalik kacamata perempuan itu yang tak punya tempat
untuk kembali. Perempuan berkacamata dengan gagap mengucap terimakasih, sembari
mengembalikan sisa-sisa kekuatannya. Perlahan perempuan berkacamata tersenyum
kecil dan laki-laki buncit membalas senyumannya lebih lebar. Perempuan berkacamata
hanya bisa terbata, mengucap... “Ma…af”
Tak dia sangka….
Laki-laki buncit masih begitu
hangat menerimanya….
Sebagai kakak, sebagai sahabat,
sebagai keluarga….
Dan perempuan kacamata itu perlahan
tersadar….
Laki-laki buncit itu salah satu
tempat untuk pulang, saat luapan amarahnya nyaris tumpah. Laki-laki buncit itu
adalah simbol kesederhanaan saat kilau kemegahan membuatnya lupa. Laki-laki itu
panutan kebijaksanaan, dikala perempuan kacamata merasa angkuh. Laki-laki
buncit itu adalah obat penenang, saat dia tergesa-gesa mengambil keputusan.
Laki-laki buncit itu adalah bentuk lain dari keikhlasan, yang selalu mendidiknya
untuk mampu menerima. Laki-laki buncit itu adalah insan bermuatan positif,
panutannya.
Siapa laki-laki buncit itu? Dia
adalah laki-laki yang penuh dengan kehangatan. Dia adalah laki-laki yang keras
sifatnya namun lembut hatinya. Laki-laki buncit tadi adalah seorang kakak dari
dua adiknya, seorang pemimpin yang rendah hati, penyabar, bijaksana, dan
berhati besar, seorang teman yang selalu berusaha menenangkan, seorang
mahasiswa yang selalu menghormati dosennya, seorang laki-laki buncit yang
selalu gagal diet ocd nya tapi selalu sukses menjadi pemimpin. Apic Cahyo
Purnomo. Nama yang indah sekali! Dalam Bahasa jawa, apic berarti bagus, cahyo
adalah cahaya, purnomo adalah bulan purnama. Bila dirangkai nama itu berarti
cahaya bulan purnama yang indah.
Dia selalu berjuang, untuk membuat
orang lain tersenyum bahagia. Baginya, bahagia adalah saat orang lain bahagia. Dia
selalu bersyukur, sesulit apapun
kondisinya. Dia selalu membangkitkan, saat yang lain menjatuhkan. Dia
adalah apic, sahabatku, panutanku, kakakku, buncitku J
To bapak buncit @apiccahyo forgive me ya J
0 comments:
Post a Comment