Kata teman saya, Ayu Yuni Afifah… Ada tiga
kata yang tak boleh gengsi untuk diucapkan, “maaf, tolong, dan terimakasih”
Dulu, saya pejuang
distancer. Haha. Begitu aku menyebut pejuang hubungan LDR. Cerita hubunganku berkali-kali
nyaris terhenti hampir tak ada motivasi, namun seringkali bangkit karena
komitmen diri, karena penguatan yang Tuhan beri, melalui Khariz yang baik hati
:’)
Kata Khariz,
selebtweet favorit saya,
“LDR itu menguji diri sendiri, sejauh mana
sanggup menjaga hati. Berusaha menepati, bahkan tanpa perlu berjanji”
Kalimat itu
adalah penguatan. Hingga saya mampu bertahan, bertahan di bawah tekanan,
bertahan bahkan walau tanpa adanya pengharapan. Menyedihkan, bukan? Hehe, tidak
saya rasa itu bukan menyedihkan tapi sebuah perjanjian dalam hati, sebuah
perjanjian dalam hubungan, dan perjanjian atas kalimat penguatan.
Beberapa waktu
kalimat tersebut berhasil menjadi sebuah mantra, saat kerikil-kerikil tajam
menjadi penghalang. Berkali juga penguatan itu berhasil menjadi cahaya, saat
gelap datang mendera. Hingga saat itu tiba…. Saat dimana kalimat tersebut
kehilangan makna, karena ulah manusianya…
Dengan berat
hati, Khariz. Aku sampaikan… kini sudah tiba saatnya, mengucap kata maaf. Maaf Khariz, saya harus mengakhiri. Hubungan
LDR yang sudah 4 tahun saya jalani. Maaf
khariz, saya belum bisa menjaga konsistensi. Bukan berarti saya tidak menjaga
hati. Terimakasih Khariz, telah
menjadi salah satu penguatan. Setidaknya, walau tak lagi dapat dipertahankan,
penguatanmu adalah pembelajaran. Penguatanmu memberikan harapan. Bagi saya berterimakasih padamu adalah kewajiban. Kamu
pernah memberi saya effort untuk memperjuangkan. Tolong, Khariz tetaplah berbagi saran, bagi saya bagi mereka bagi
semua yang membutuhkan, dan mendatangkan harapan.
To @karizunique selebtweet favorit saya!
visca barca? no! KEEP THE BLUE FLAG FLYING HIGH? YES! :D
0 comments:
Post a Comment