Tuesday, 4 February 2014

baris kata penanda asa



Kata teman saya, Ayu Yuni Afifah… Ada tiga kata yang tak boleh gengsi untuk diucapkan, “maaf, tolong, dan terimakasih”
Dulu, saya pejuang distancer. Haha. Begitu aku menyebut pejuang hubungan LDR. Cerita hubunganku berkali-kali nyaris terhenti hampir tak ada motivasi, namun seringkali bangkit karena komitmen diri, karena penguatan yang Tuhan beri, melalui Khariz yang baik hati :’)
Kata Khariz, selebtweet favorit saya, 
“LDR itu menguji diri sendiri, sejauh mana sanggup menjaga hati. Berusaha menepati, bahkan tanpa perlu berjanji”
Kalimat itu adalah penguatan. Hingga saya mampu bertahan, bertahan di bawah tekanan, bertahan bahkan walau tanpa adanya pengharapan. Menyedihkan, bukan? Hehe, tidak saya rasa itu bukan menyedihkan tapi sebuah perjanjian dalam hati, sebuah perjanjian dalam hubungan, dan perjanjian atas kalimat penguatan.
Beberapa waktu kalimat tersebut berhasil menjadi sebuah mantra, saat kerikil-kerikil tajam menjadi penghalang. Berkali juga penguatan itu berhasil menjadi cahaya, saat gelap datang mendera. Hingga saat itu tiba…. Saat dimana kalimat tersebut kehilangan makna, karena ulah manusianya…
Dengan berat hati, Khariz. Aku sampaikan… kini sudah tiba saatnya, mengucap kata maaf. Maaf Khariz, saya harus mengakhiri. Hubungan LDR yang sudah 4 tahun saya jalani. Maaf khariz, saya belum bisa menjaga konsistensi. Bukan berarti saya tidak menjaga hati. Terimakasih Khariz, telah menjadi salah satu penguatan. Setidaknya, walau tak lagi dapat dipertahankan, penguatanmu adalah pembelajaran. Penguatanmu memberikan harapan. Bagi saya berterimakasih padamu adalah kewajiban. Kamu pernah memberi saya effort untuk memperjuangkan. Tolong, Khariz tetaplah berbagi saran, bagi saya bagi mereka bagi semua yang membutuhkan, dan mendatangkan harapan.

To @karizunique selebtweet favorit saya!
visca barca? no! KEEP THE BLUE FLAG FLYING HIGH? YES! :D

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © que sera sera
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com